Romans Cerpen ini terbatas untuk anggota Group CahAndong
Adalah Leksa, seorang pria paruh baya yang masih menyelesaikan S-2 di kota Yogya. Perjalanan cintanya di kota baru itu tak pernah mulus, karena dia selalu dihantui oleh paras manis gadisnya, Ditya.
Adalah Asep, seorang pria muda, mencintai seorang perempuan cantik bernama Puspa.
Adalah Anton, seorang pria yang juga terjebak dalam kota Yogya. Mengenalkan Leksa pada Asep.
Anton tidak memiliki maksud apa-apa ketika mengenalkan Leksa pada Asep. Tapi cinta memang sudah ditebak datangnya. Asep pun jatuh cinta ke Leksa pada pandangan pertama.
Padahal, Anton adalah seorang homok yang cinta mati pada Leksa. Karena mereka tinggal 1 kamar kost.
Karena tahu Asep juga cinta mati pada Leksa, Anton terpaksa mengalah.. Dan membiarkan mereka berdua larut dalam perasaan masing-masing.
Sebuah perdebatan batin yang panjang bagi ke duanya. Padahal Leksa nya sih biasa aja.
Meski demikian, kadang-kadang Leksa juga merasa kesepian. Leksa tidak bisa mengingkari jika dia mulai mencintai Asep yang wajahnya mirip dengan Ditya.
Asepnya pun klo dipikir-pikir, biasa saja. Ah, mungkin si pengarang awal naskah yang salah kaprah.
Tapi sepertinya Asep dan Leksa masih merasa malu untuk mengungkapkan perasaannya masing-masing didepan umum. Ah, setidaknya dari tulisan mereka diatas tergambar kemaluan (rasa malu) itu.
Pengki tiba-tiba datang dan merusak suasana yang ada. Leksa dan Asep merasa tertolong, karena sebenarnya mereka normal. Lalu Asep menawarkan hadiah terima kasih kepada Pengki, "Peng, mau gak tak bawa ke dukun kamu, biar jadi perempuan sekalian?".
'Asep kalap? Mana bisa laki-laki sejati yang gagah perkasa ini bisa diubah jadi perempuan. Oh mungkin karena aku datang sewaktu mereka sedang bermesraan' pikir Pengki. Sekilas terlihat Leksa sedang terkulai lemas di sudut kamar.
bersama Anto.
Keduanya tak ditutupi sehelai benang pun. Mereka kegerahan karena hawa di kamar kos itu sungguh panas.
Ingin buka jendela sekedar agar ada hawa dingin menerpa. Namun apa daya, mereka tak mau ketahuan tetangga.
sementara di lantai, bertebaran sisa-sisa pergulatan semalam, yaitu....
Celana kuning, HP Esia dan sendal jepit penuh noda.
" ohhhh....noda apakah itu ?? " desah Asep penuh rasa ingin tahu.
ternyata itu ada nodaaaa....
Kecap manis.
Ah ini kecap pasti tumpah waktu makan baso gepeng tadi. Gimana nyucinya ya? Mesti pake jeruk nipis kali ya?
Anto berpikir jeruk nipis satu-satunya cara. Sayang jeruk nipis di dapur sudah habis diemut Asep semalaman. Warung sebelah pun menjadi tujuan Anto, "Punten Teh,.. aya jeruk nipis teu?", tanya Anto pada penjual warung yang body-nya bikin Anto ngiler.
Body sintal si penjual warung, lengkap dengan lekuk-lekuk di balik kebaya transparan membuat Anto tak kuasa menahan pipis.
"Kenapa, Mas? Kok situ seperti kebelet apaaaa gituu..", tanya si penjual warung nakal.
Setengah menggoda, penjual warung sengaja membungkuk-bungkuk di depan pengunjungnya.
Pantatnya yang lebar, mengingatkannya pada pantat truk bertuliskan, "kutunggu jandamu atau kubunuh suamimu", yang kerap ia jumpai ketika bersepeda dari titik nol km Jogja sampai Wirobrajan.
"aaaa....aaaadaa....peppp..pepayaaa ??? " si Anto jadi lupa dengan jeruk nipis dan langsung ingat pepaya begitu melihat pemandangan di depannya.
Pepaya Bangkok yang ranum besar sekonyong-konyong melintas. Dia menari-nari di depan Anto.. Ternyata itu Cello yang menggunakan kostum pepaya..
Anto terkesima, "tak kusangka, kau cantik sekali dibalik balutan pepaya itu...aku ingin melahapmu....".
Belum sempat Anto mengejar pepaya, datanglah pisang dan semangka. Anto meneba-nebak, siapakah yang berada di dalam kostum tersebut..
Ternyata itu Goen!
Dan Zam !! tetapi aneh sekali, karena dia sungguh tidak cocok di dalam kostum semangka itu, lebih cocok jambu mete.
Entah setan apa yang merasuki mereka berdua, namun Goen dan Zam terlihat begitu kompak memakai kostum buah-buahan tersebut. Anto yang melihat Goen berpakaian pisang, langsung menggigitnya seakan-akan itu pisang betulan.
"Aaaaahhh!!", teriak Goen setengah mendesah.
Selesai mengunyah pisang dimulutnya, Anto pun mengalihkan perhatiannya kepada semangka zam.
Semangka itu begitu ranum dan menyegarkan. Baru melihat saja, air liurnya sudah menetes. Apalagi kalau sempat icip-icip. Hmmm....
Tapi Anto menyadar kalau dia megidap penyakit alergi semangka, diapun mengalihkan perhatian pada pada kostum Pepaya yang datang belakangan. Isinya Sarah!
Betapa kecewanya Anto menyadari isi kostum pepaya itu Sarah, karena memang Anto tak menyukai perempuan.
Sarah dalam kostum pepayanya pun hanya manyun, terdiam di pojokan karena tidak ada yang berminat menikmatinya. Padahal ia sudah berdandan.
"Kalau tahu begini, mending aku nggak usah ke salon tadi, Sarah membatin. "Ngabis-abisin duit aja.".
Anto mulai berpikir, lebih baik alergi dari pada menyantap perempuan. Anti kembali melirik Zam berkostum semangka.
didekatinya sebongkah semangka itu, harum aroma semangka menyengat hidungnya.
"Boleh juga nih, semangka sebagai ganti Sarah," begitu pikir Anto.
Tetatpi ternyata Zam punya pikiran lain, Sarah yang duduk di pojokan menarik minatnya.
Walhasil, terjadilah adegan yang menggelikan itu. Anto mengejar Zam, Zam mengejar Sarah.
Sementara Sarah berlari-lari manja mengejar bayang-bayang.
Benar-benar adegan yang membuat siapa pun bakal tertawa sampai geli.
Zam yang diganduli semangkanya dan Sarah yang diglayuti pepayanya berputar-putar di ruangan.
Mereka seperti dua makhluk aneh dari Planet Krypton.
Anto pun menunggu di pojokan. Dia menunggu kedua buah-buahan itu lelah berlarian, lalu memangsa Sarah.... eh Zam.
Sembari menunggu, tiba-tiba datanglah Praz memakai kostum jambu biji.
Zam, Sarah, dan juga Anto langsung kaget, heran bercampur haru. Melihat keadaan Praz yang menyedihkan.
Sarah pun mendekati Praz, diikuti anto dan zam. dengan peluh keringat yang bercucuran, mereka bertiga mencoba menghibur Praz yang tampak sekali guratan kesedihannya.
Praz tidak tertawa. Mereka bertiga lupa, menghibur seorang PELAWAK adalah pekerjaan terberat.
Bagaimana tidak? Masa sesama pelawak harus saling menghibur? Apa bukan jeruk makan jeruk itu namanya?
Jeruk pun tahu diri! Apakah mereka bertiga tidak memikirkan itu?
"Saya tidak suka menjadi jambu biji", Katanya pelan.
"Lalu kamu suka apa dong?".
Anda tidak bisa ikut nulis kalau ndak login.
antobilang: oi juminten oi
zam: aku kangen juminten!!
chika: aku kangen jogja...
medina: zam, kowe kok ra tau bali ?? ditekoni mbah wongso kiye...
antobilang: tamatkan cerita ini!!! gyahahahhaa
mbilung: anto meneng, ra sah kacang.
alya: /perlu digawe TAMMAT saiki pow?
nicowijaya: lanjjouut
ndoro kakung: kok ra dilanjut ki cerpene