Sport
Legenda Bedjo yang termahsyur dimulai dari padang gersang tempat ia sering bermain bola. Baik sendiri atau bersama teman, ia gunakan setiap waktunya untuk mencintai sepak bola.
Sepak bola adalah hidupnya. Bola ada teman hidupnya, seolah-olah tidak ada hal lain di dalam hidupnya selain sepak bola. Padang gersang yang bermedan berat telah menempa keahlian bermain sepak bolanya.
SYUUTT!! Sempurnalah tendangan untuk umpan. SYUUUUTT!! Tendangan penalty tak akan gagal lagi. DUKK! Bola yang diterima kepalanya akan jadi umpan yang sempurna. SYYIIUUUT.... Tendangan pisang jarak jauh ini pasti tiada duanya.
Bedjo sangat percaya diri dengan tendangan-tendangan nya. Selain menyukai sepakbola, Bedjo juga menyukai tarian daerah. Dia menguasai berbagai macam jenis tarian daerah. Kemampuan menari daerah tersebut bahkan mempengaruhi gaya bermain sepakbolanya.
Salah satunya, adalah gerakan tari jaipong yang menjadi trademark Bedjo dalam menggocek bola.
Ya, gerakan Bedjo mengontrol bola di kakinya dengan gaya jaipongan membuatnya menjadi pemain nomor satu di Barcelona yang tidak hanya ditakuti oleh lawan namun juga disegani oleh rekan2 satu tim nya.
Ia mengawali karirnya di Persitara, setahun kemudian di Persebaya, tiga tahun kemudian di Ajax. Bakatnya yang besar membuat Barcelona berminat pada Bedjo. Barcelona membeli Bedjo dari Ajax seharga €15.000.000.
Sayangnya kesuksesan Bedjo sebagai pemain Asia yang merumput di Barcelona tidak sebanding dengan kesuksesan tim nasionalnya, Indonesia. Yah, sangat miris sekali. Padahal keinginan Bedjo untuk tampil di Piala Dunia sangatlah besar.
Meskipun negaranya tidak sukses dalam sepak bola tapi Bedjopun tidak patah arang untuk mengharumkan nama Indonesia. Diapun membuat sekolah tari jaipong di Barcelona untuk mengenalkan ragam budaya Indonesia di Spanyol.
Tapi cita-cita nya untuk ikut serta di piala dunia begitu besar. Bedjo sangat tahu, dia tidak akan bisa mengukir sejarah jika hanya menjadi warga negara Indonesia. Kadangkala terpikir untuk mengubah kebangsaannya agar dapat ikut serta di piala dunia.
Namun ia selalu ingat akan pesan emaknya untuk mengharumkan nama bangsa ini di kancah internasional.
Akhirnya dia memutuskan untuk membuka sekolah sepakbola bagi generasi muda Indonesia.
Karena dia berfikir bahwa ilmu bermain sepakbolanya haruslah diwariskan kepada generasi muda Indonesia. Dan dengan bimbingan dan arahan yang tepat, kelak muncullah pemain2 yang berkualitas serta dapat mengharumkan nama bangsanya.
Salah satu muridnya yang berbakat adalah Ahmad Zubair Van Den Bosch, pemain asal Alkmaar keturunan Surabaya yang dilirik oleh tim-tim besar. Bedjo sendiri sangat yakin akan kemampuan Zubair.
Namun satu kekurangan Zubair, yaitu mentalnya. Bedjo sebenarnya sangat yakin akan bakat Zubair, sayangnya kadang Zubair sering bersinggung pendapat dengan Bedjo mengenai esensi sepakbola.
Suatu hari, Zubair dan Bedjo berselisih pendapat hebat.
Karena Zubair menyatakan ingin membela Real Madrid musuh bebuyutan Barcelona.
Namun Bedjo menolaknya mentah-mentah karena Zubair tidak mempunyai mental yang tinggi untuk bermain di klub sebesar Real Madrid. apalagi itu klub rivalnya.
Akhirnya diiringi sumpah serapah, Zubair pergi...
berguru kepada Johann Cruyff.
Yang membuat hati Bedjo serasa diiris iris karena rasa kecewanya yang teramat sangat kepada Zubair yang tidak mau lagi mendengarkan nasihatnya.
Bedjo menjadi pendiam dan selalu menyendiri. Anak-anak didiknya yang lain menjadi iba melihatnya. Akhirnya mereka berencana untuk mendamprat Zubair yang tak tahu diri itu.
Suatu hari dengan tanpa restu Bedjo, anak2 didik Bedjo memutuskan untuk pergi ke Madrid menemui Zubair.
Beramai-ramai mereka pergi. Sebelumnya, mereka sudah berdiskusi panjang lebar yang ber-hasil sebuah naskah pidato panjang tentang kesalahan-kesalahan Zubair.
Saking panjangnya naskah tersebut, bahkan melebihi panjangnya The Great Wall.
Dengan gulungan selang kebun mereka bawa naskah itu ke stadion tempat Zubair berlatih dengan Mr. Johann.
setelah bertemu dengan Zubair yang sedang berlatih dengan Mr. Johann merekapun dengan beramai-ramai langsung mengatakan tujuan kedatangannya.
Mereka diterima dengan baik oleh Zubair maupun Johann. Akhirnya mereka berlatih bersama-sama sampai lupa menyatakan tujuan mereka.
Mereka bermain sampai petang. Akhirnya, anak-anak didik Bedjo pamit pulang dan lupa sama sekali dengan gulungan pidato itu. Setelah mereka pergi, Zubair melihatnya dan mulai membacanya....
Anda tidak bisa ikut nulis kalau ndak login.
NaN: siapakah Johann Cruyff?
Aldhafera: maestro total football