Cerpenista - Ayo Ngarang Gotong Royong!

Register Cerpen Group Top Kontes Forum Login

Catatan Dita, Wartawati Korban Durjana

Romans

Wawancara yang menyenangkan. Hangat, akrab. Setibanya di kantor aku lupa apa saja yang tadi kami perbincangkan. Aku tak mencatat maupun merekam. Aku larut dalam kekaguman. Dia terlalu menawan. Editorku marah, "Ketemu blogger aja bisa gitu. Huh!".

Aku terdiam...tersenyum...Seakan ocehan editorku tadi seperti suara burung surga yang ikut menemani pikiranku yang sedang menjelajahi sosok seorang blogger bidadari itu...Tetap tersenyum...

Bayangannya tak mampu ku tepiskan. Dia berbeda dengan blogger yang lain. Dia punya inner beauty.. ah.. andai saja dia bini ku.

Kecantikan paras, kelembutan tutur kata, kegemulaian sikap dan kecerdasan berpikir blogger itu tak mampu dihempaskannya barang sekejappun. Hati dan pikirannya seakan terpaku, terpana bahkan terperanjat pada blogger itu semenjak pertemuan pertama.

Parasnya yang mirip putri raja dari Kesultanan CahAndong, tak henti - hentinya membayangi pikiranku. Apa yang istimewa dengan dia? Mengapa hatiku berdegup kencang tiap ku mengingatnya? Apakah artinya ini? Inikah 'dia'?

degupan jantungku makin kencang ketika mataku turun ke arah kemeja blousenya yang 2 buah kancingnya terbuka dan sedikit memperlihatkan kemolekan anggota tunuh yang lainnya ....

Hmmm akulah Dita, wartawati -- bukan wartawan. Tapi orang sering menganggapku suka sesama Hawa. Padahal aku pendamba Adam. Yang terbaik adalah narasumberku itu. Pejantan tanggung. Namanya Sultan.

Sultan ini masih brondong. Di SMAnya, dia jago banget maen bola basket. Dia juga selalu menang lomba pidato. Cukup dewasa untuk pria seusianya.

Pria itu pernah berjuluk kambing karena dia bangga akan jenggotnya. Tapi justru jengoot itu yang membuat hati para nona menggelepar...

Suatu keajaiban yang kerap tak ingin ku percaya.... Sultan lebih dulu mengirim sinyal-sinyal berbeda dalam interaksi kami.


Anda tidak bisa ikut nulis kalau ndak login.