Cerpenista - Ayo Ngarang Gotong Royong!

Register Cerpen Group Top Kontes Forum Login

cinta kan membawamu kembali di sini

Romans

Sembab mata Nindy memandangi sms yang baru saja diterimanya dari Anton. Bumi ini seolah berhenti berputar. Langit seolah tak lagi menaungi.

"Nindy aku telah dijodohkan oleh orang tuaku", begitulah kira-kira Sms yang Nindy baca.

Hatinya makin teriris, betapa tidak, hari ini adalah hari ulang tahunnya, 8februari. Tapi mengapa malah kado memilukan yang ia dapat.

Nindy masih tak mengerti apa yang harus ia lakukan, Anton, orang yang sudah menjadi pacarnya selama 5 tahun harus ia relakan begitu saja. "Di.....jo..jodohkan ??" Nindy terbata ketika membaca sederet tulisan di HPnya.

Tak berasa air matanya jatuh...hatinya cuman satu, sudah untuk mencintainya, anton, laki-laki pertama yang membuatnya tergila-gila!!

Kenangannya kembali ke masa lalu. Dimana ia pertama kali mengenal Anton. Nindy dan Anton masuk ke dalam organisasi yang sama. Ya OSIS SMA lah yang telah mempertemukan keduanya.

Ketika itu, Nindy menjabat sebagai sekretaris bidang, yang membuatnya harus selalu berhubungan dengan sang ketua, yaitu Anton.

Mulai sejak itu hati Nindy sudah tertambat pada Anton. Cowok populer di sekolahnya.

kenangan- kenangan yang dilaluinya bersama Anton semua terlintas jelas di benak Nindy.

Benih - benih cinta muncul di dalam diri Nindy seiring berlalunya waktu. Hal ini semakin menguatkan kekuatan hatinya ketika Anton pun sering memberi harapan padanya.

Dan bisa ditebak, hari hari setelah itu selalu ada aku dan dia disetiap kesempatan. Manisnya madu benar benar melelehi perjalanan kasih kami berdua.

Karena lelah tak terasa Nindypun terlelap. Esoknya ketika terjaga dia tersentak, dia berharap apa-apa yang terjadi kemarin hanyalah sebuah mimpi buruk. Namun apa daya, dia masih melihat sms itu di HPnya. Mulai bercucuran kembalilah air matanya.

Nindy tak mau larut dalam kesedihannya, dia beranjak dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi. Nindy mengguyur kepalanya dengan air hingga sekujur tubuhnya basah.

Air dingin membuatnya sadar, bahwa di dunia ini laki2laki tidak hanya Anton saja. Nindy memantapkan perasaannya yang sudah hancur ini untuk tetap tegar, agar dapat menata cintanya kembali.

Nindy kembali melihat tubuh dan raut wajahnya yang meski sudah sadar, namun tetap memunculkan aura yang sedih..

Teringat kembali dalam bayangannya, bahwa Anton selalu bersikap manis dan lembut. Tapi mengapa tiba-tiba saja Anton memutuskan jalinan kasih yang telah terbina cukup lama hanya karena sebuah perjodohan? Nindy masih tak mempercayainya...

Ia kemudian kembali ke kamar untuk menukar pakaiannya yang basah, kuyup.

meskipun Nindy masih tidak percaya, ia harus menjalani hidup tanpa Anton. kenangan lama, masa depan, tangisan, bahagia dan bayangan isi sms itu terus ada dipikiran Nindy.

Nindy meraih HP nya dan kemudian memencet keypad HP nya, Ia mengirim SMS ke.....

Ibunya, minta dikirimi pulsa...pulsa telponnya sudah habis. Duitnya pun mepet. Padahal Nindy ingin sekali menelepon Anton untuk memastikan kembali kabar itu.

Lima belas menit kemudian pulsa kiriman ibunya sudah masuk.

Lalu nomor telepon Anton dipencetnya...tujuh dua tujuh enam kaliiiii.

"Aduh...kok nggak di angkat sih..." Nindy kesal karena Anton tidak mengangkat teleponnya. Dia mulai menebak-nebak jangan sampai Anton sudah tidak mau berhubungan dengannya.

Sementara itu, di kecamatan lain di kota yang sama, Anton sedang kesal. "Ihhh nih HP koq gak tau diri banget yah?" gerutunya dalam hati. Entah kenapa tiba-tiba saja pada hari itu HPnya gak bisa dihidupin.

Anton lantas pergi ke beranda rumahnya, duduk dan berpikir tentang apa yang akan terjadi. "Fiuhh..", Anton menarik nafas panjang, tiba-tiba dadanya terasa sesak. Nindi aku telah menyakitimu, menyakiti orang yang aku cintai, batin Anton.

Kecamuk di hati Anton semakin menjadi, ketika tiba-tiba ia dikejutkan oleh kedatangan seseorang.

tuk..tuk..tuk..terdengar suara sepatu seoarang wanita berjalan menghampiri Anton...Ketika dia menoleh ke arah wanita itu, jantungnya semakin berdetak kencang...dag dig dug...

tapi sekali si wanita tu telah dhadapanya alangkah terkejutnya dia......

Wanita itu tersenyum memandang Anton yang kini sudah dihadapannya, "Halo mas apa kabar ?", sambil menjabat tangan anton yang masih terdiam.

"Masih ingat saya?', wanita itu masih menjabat tangan Anton, dan Anton masih diam tak mampu berkata-kata.

"Saya Lisa, mas Anton. Lisa teman waktu di TK dulu... Masa mas Anton lupa??? Kita sebentar lagi kan akan menjadi teman sehidup semati. Gimana toh mas Anton ini...??" canda Lisa yang tak lain...

Anton hanya terdiam mendengar kata-kata Lisa....

Ingatan Anton melayang ke sebuah kenangan masa kecilnya. Mencoba mencari sebuah kaitan, mencari sebuah keterhubungan. Lisa, sepertinya tidak asing. Tiba-tiba raut muka Anton berubah, dia menemukan sesuatu.

"Lisa! Bukankah dia orang yang hampir mencelakakan Nindy! Andai saat itu Lisa tidak mendorong Nindy ke tengah jalan sampai terjatuh, mungkin luka di alis Nindy tidak akan pernah ada!".

"Ngapain kamu kesini?", ketus kata-kata Anton terdengar, seolah tidak bisa menutupi gemuruh di hatinya.

Lisa tersenyum. Dengan genit dia berlalu melewati Anton, dan nekad masuk kedalam beranda rumah. Aroma parfum yang mewangi menyeruak seolah berusaha mengacaukan kesadarn laki-laki Anton.

Seketika saja Anton beristighfar. Pikirannya melayang mengingat Nindy. Ada secercah rindu tiba-tiba menghinggapinya. Godaan Lisa, ternyata tidak menutup hati Anton untuk selalu mengenang Nindy di hatinya.

"Anton.." panggil Lisa dengan pandangan syahdu.

Anton, mencoba mengabaikan panggilan Lisa. Dia segera saja terbangun dari duduknya berlalu cepat melewati pintu kamarnya. Lisa hanya memandangi punggung Anton dengan rasa kecewa yang dalam. "Kamu memang tidak pernah berubah Anton", bisik hati Lisa.

"..mungkin saat ini hatimu tertutup untukku, namun, aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku. meski kau tak cinta.."" bisik Lisa syahdu.

Ada perasaan pedih menyambangi hati Lisa saat itu. Detik-detik waktu yang lama dinantikannya untuk bisa hidup bahagia dengan Anton terasa hambar kini. "Nindy, kenapa aku tak pernah bisa mengalahkanmu, termasuk cinta Anton!!" rintihnya dalam hati.

***

Hujan turun dengan derasnya, dikala Lisa meninggalkan rumah Anton dengan pilu. Lamat-lamat, dendang suara Ari Lasso berkumandang lewat iPod Shufflenya, " Mohon tinggal sejenak, lupakanlah waktu Temani air mataku, teteskan lara ... ".

Sementara dari rumah yang ditinggalkannya, terlihat Anton memandangi mobil Lisa yang berlalu meninggalkan halamannya di tengah derasnya gerimis hujan. "Maafkan aku Lisa, aku tak dapat membalas cintamu. Sudah ada Nindy di hatiku..".

mungkin ini yang yang terbaik yang di berikan Tuhan untuk kitaQ.

Di sepanjang jalan, Lisa tampak gelisah. Air matanya berderai tiada henti. "Aku tak bisa kehilangan Anton, tak bisa!! Untuk kali ini, aku tak akan melepaskan Anton untukmu Nindy. Lebih baik kita berdua tak memilikinya!" jerit suara Lisa.

Lisa tenggelam dalam keegoisan yang telah bertahun-tahun menemaninya. Namun, perlahan, ketulusan cinta yang dipupuknya bagi Anton, telah menerbitkan sebentuk ketulusan dihatinya. Hingga disuatu titik Lisa berpikir, "cinta tak harus memiliki !".


Anda tidak bisa ikut nulis kalau ndak login.