Romans Cerpen ini terbatas untuk anggota Group Dramanista
Tetesan gerimis menyambut jejak pertama kakiku di pulau bangka, awan hitam menutupi langit-langit kota pangkal pinang, angin berhembus di sela-sela kacamata hitamku.
Perlahan, kutinggalkan 737-300 yang telah membawaku dari Jakarta menuju Buluh Tumbang Airport di Tanjung Pandan. Sekilas, kota ini memiliki nuansa yang mengingatkanku pada Tangerang. Kota dimana salah satu cabang koran kami berkembang pesat.
Aku memuji kecermatan mbak Kiko dalam memilihkan kota ini. Ya, kota ini mayoritas dihuni oleh suku Melayu dan Tionghoa. Membawa Lin kemari, pastinya tak akan terlalu menarik perhatian. Dia akan mudah membaur dengan warga sekitar dengan alamiah.
Lin,... hmm gimana kabarmu ya ? I haven't see you since that time.
Langkah kaki membawa diriku keluar pintu keluar airport. Disana kutemui banyak sekali penjemput yang datang. Aku tersenyum. Siapa kiranya yang akan menjemputku, ya ?".
sejenak kupandangi daerah sekitar, tidak ada satupun terbaca tulisan nama rendy.
Satu.. dua.. langkah kaki meninggalkan kumpulan para penjemput. Melewati papan bertulisan nama-nama orang yang di jemput.
Tuk.. tuk.. tuk... rasanya ada seseorang yang berlari dibelakang...
Seseorang menggapai tanganku. Menariknya.. dan membuatku menoleh..
Dia ...
"Ren...kau datang...?".
"Lin...?" aku terpana melihatnya.
Lin menggunakan baju terusan rok berwarna putih. Rambutnya kini dipotong pendek. Lengannya yang putih khas etnis tionghoa terlihat malu-malu dibalik lengan pendek baju terusan.
Sementara punggung tangan kirinya sibuk menghapus air mata yang membanjir, seolah sulit di kendalikan.
"Kau datang Ren... ?" tanyanya lagi seolah tak percaya. Ditelusurinya wajah dan tangan kiriku yang masih berbalut perban dan gips. "Kau...?".
Aku mencoba tersenyum selembut yang aku mampu. Entah mengapa, sisi terlembut dalam jiwaku tiba-tiba menyeruak. "Senang melihatmu baik-baik saja....Lin..".
Air matanya makin deras. "Ren.. aku sebenarnya ingin merawatmu, sama seperti kau melakukannya untukku, saat aku sakit dulu..." Dia terisak kembali.
"Aku paham koq keadaanmu.." Kataku mencoba menenangkan. "Jangan khawatirkan itu. Mbak Kiko sudah menceritakan semua...".
Sungguh, aku tak pandai bila berada di dalam posisi ini. Air mata cewek...
Beberapa orag disekitar mulai tertarik perhatiannya dengan kejadian ini. Aku menjadi semakin canggung. Ku ajak Lin meninggalkan tempat ini.
"Ayo, Lin... gerimis ini semakin deras...".
"ehhmmm...kamu kangen sama aku yaaa?"tanya Lin Hua sambil melingkarkan tanagnnya di pinggangku.
Aku tersenyum simpul. Ini Lin yang normal kukenal. "Wah, rasanya seluruh kesehatanmu sudah kembali..." Tawaku lebar sambil masuk ke sebuah taksi.
Lin tertawa. Tawa paling lepas dan manis yang pernah kulihat darinya selama ini. Tawa tanpa beban yang begitu bebas. Ya, aku suka cara dia tertawa seperti ini. Pangkal Pinang rupanya telah mengembalikan kesegaran jiwanya.
serpihan percikan air menerpa kaca mobil taksi yang membawaku, Lin Hua merebahkan kepalanya di pundakku"Pangkal Pinang indah juga yaaa?".
Aku mengangguk mengiyakan. "Sudah kemana aja Lin ?".
"Lewat daerah Phak Kak Liang, Pak!" perintah Lin pada pak sopir. Mengabaikanku sejenak.
Setengah jam kemudian..
"selamat datang demon journalist"jerit Lin Hua sambil menunjukan jarinya ke arah sebuah rumah mungil di tepi pantai.
Kami berhenti di sebuah rumah yang lumayan bagus. Aku berdecak melihatnya. Mungil tapi resik. Mbak Kiko memang taktis dalam perencanaan. Hingga hal sekecil ini pun dia kerjakan dengan penuh selera.
asap knalpot yang mengepul dari taksi tak membuatku bergeming. sebuah pandangan yang indah dihadapanku, sebuah rumah mungil yang disirami samar-samar sinar mentari yang mengintip dari awan yang berarak.
Rumah itu bertingkat dua. Sisi satunya menghadap jalan raya. Sedangkan satu sisi lagi langsung menghadap laut. Tiap-tiap lantai ada serambinya. Cocok untuk ngobrol dan membuang waktu.
"Rendy ayo sini...!"Lin Hua memanggilku, tangannya terbentang lebar dengan lompatan keci.
Hehe... aku baru tahu kalo Lin Hua juga punya sisi childish.
"Okay-okay..." sahutku sambil mengangkat backpack ku.
Sisi dalam rumah itu jauh lebih asyik. Ruang tengahnya ada perapian. Juga ada kitchen setnya. Ada ruang baca. Dan ada garasi, lengkap dengan sebuah vespa tua ....ah milikku! Aku tertawa girang.
Semuanya kembali utuh, kecuali plat nomornya yang sudah disesuaikan dengan lokal sini.
Semuanya sempurna... kecuali satu hal: kamar tidurnya satu ! Dan kamar mandi ada di bagian dalam kamar tidur !
"Geez... what is she thinking ?" omelku dalam hati kepada mbak Kiko.
"Why are you blushing, my demon Ren ?" tanya Lin sambil tertawa riang. "Bukankah kita sejak dulu sudah sa-tu ka-mar ?".
"emmm...tapi?"aku mulai terasa gugup, Lin Hua sibuk memindahkan bajuku ke dalam lemarinya.
Aku memalingkan mukaku. Rasanya wajahku memanas. Dengan malu-malu kugeser sofa diruang tengah kedalam kamar.
Lin melirik perbuatanku sejenak. Beberapa detik kemudian, dia tertawa terpingkal-pingkal.
"Ren.... kau sungguh-sungguh tipe pria yang konvensional..." katanya sambil mengusap airmata tawa yang keluar dari kedua mata lentiknya. "That's way, I'm okay with you".
Tiba-tiba petir dan halilintar menyambar, cuaca menjadi buruk di luar. Suara angin dan ombak terdengar laksana amukan monster. Dan lampu.. tiba-tiba mati. Pet!
Lin menuntunku ke ruang tengah. "Kita nyalain perapian aja yuk..." ajaknya.
Cool idea, menurutku. "Okay Lin, ada cemilan dan minuman ?".
Lin mengedipkan matanya dengan tingkah childish, "Sure ! Tapi jangan harap ada alkohol disini. Mbak Kiko melarang keras..." kemudian dia tertawa lagi.
Beberapa menit kemudian, kita telah duduk melingkar di depan perapian. Menikmati hujan badai yang menggemuruh diluar sana.
Suasana hening sejenak. Aku kembali canggung.
"Ren..".
"Yap ?".
"Thanks ya..".
"For what ?" tanyaku sambil mengorak-arik arang perapian.
"Everything..." sahutnya pelan. Nyaris tak terdengar di telan gemuruhnya hujan-badai di luar.
"Aku ... banyak menemui hal-hal yang membahagiakan sejak bertemu denganmu..." Lin duduk sambil menekuk kedua lutut ke wajahnya. "Aku tahu koq, kalo sejak awal kau hanya menganggapku pion catur. Bisnis kita hanya sebatas jual beli informasi.".
Aku terdiam. Tak tahu harus berbuat apa. Tak tahu harus berkata apa. Lebih tepatnya mungkin, aku salah tingkah.
Suasana kembali hening. Samar-samar kedengar isakan halus dari bibir Lin Hua.
"Kau tahu Ren, aku sangat terharu saat aku terluka karena Raymon, dan kau bersusah payah menggendongku ke klinik.".
Aku terdiam saja. Kubiarkan Lin Hua bercerita sepuasnya. Mungkin itu akan melegakan hatinya.
"Dan kau tahu Ren, bagaimana perasaanku saat tahu kau bahkan membayar seluruh biaya klinik itu tanpa pernah berkata sepatah katapun padaku ?".
Kulihat punggung Lin Hua bergetar. Masih kudengar isakan samar nan halus darinya.
"Kau tahu Ren, betapa bahagianya aku saat kau menampungku kala aku kehilangan segalanya karena kebakaran ? Kau bahkan rela tidur dilantai demi agar aku bisa tidur di kasurmu semata wayang..".
Aku termangu sambil kembali mengorak-arik arang perapian.
"Kau bahkan juga rela merawatku saat itu. Menyuapiku saat aku lapar..." isaknya terdengar lebih kencang.
"Dan kau tahu Ren..? Aku suka melihat ekspresimu yang tersipu malu, saat terpaksa harus menyeka tubuhku, memandikanku dengan air hangat, menggantikan bajuku dan bahkan perbanku." Lin Hua mengangkat wajahnya yang bersimbah airmata dan tertawa geli.
"Kau sama sekali tidak mengambil keuntungan dari kondisiku saat itu." Katanya sambil menatapku dalam-dalam. "Kau sangat menghormatiku sebagai wanita yang terhormat..".
"Dan saat kau membiarkan dirimu menjadi perisai hidup, melindungiku yang masih terluka dari amukan orang-orang Raymond...." ungkapnya sambil kembali menyembunyikan wajah diantara kedua lutut kakinya.
"Dan aku sangat menyesali, saat aku tak mampu melakukan hal yang sama padamu...".
"Hey rileks... aku gak pa-pa koq..." sahutku merasa tak enak hati. "Sudahlah, jangan terlalu pikirkan itu..." sambungku sambil tersipu.
Lin Hua menghapus airmata yang membasahi wajahnya. Kini dia mengambil posisi duduk yang lebih santai.
Cuaca diluar masih belum juga reda. Mati lampu belum juga usai. Penerangan satu-satunya hanyalah dari perapian itu. Dan inilah kami, duduk melingkar menikmati moment berdua.
Kuambil sebatang biskuit dari kalengnya. Perlahan kunikmati rasanya. Entah mengapa, tenggorokan ku rasanya kering mendengar kata-kata Lin Hua.
Lin Hua menengadahkan kepalanya menatap langit-langit sesaat. "Kau tahu Ren, aku bukanlah warga negara ini ?".
"Hmm...? Tidak..." sahutku santai. Minatku bangkit mendengar kata-katanya.
"Entah kenapa, rasanya aku bisa percaya padamu Ren.." sambungnya lagi.
"Aku lahir di Guangzhao. Ibuku orang asli singkawang, dan ayahku orang partai disana. Beliau seorang yang ahli berbahasa Indonesia. Sehingga sering bepergian ke sini.".
"Karena ada konflik, ayahku kehilangan segalanya. Baik harta maupun jabatannya. Beliau kemudian bunuh diri karena putus asa. Sementara ibuku, frustasi dan menjadi gila, hilang entah kemana. Aku diasuh berganti-ganti oleh keluarga ibuku.".
"Namun sayang, mereka semua miskin. Miskin harta dan juga miskin hati. Pada umur 6 tahun aku dijual sebagai budak ke seorang makelar budak. Dan aku dibawa ke Pattaya, Thailand.".
"Aku dibuang oleh mereka disana, karena dianggap tidak laku dijual. Karena aku kecil dan wanita lagi. Dan aku terlunta-lunta selama beberapa bulan disana. Hidup dari mengais tempat sampah dan menadahkan tangan".
"Tak berapa lama, Rayong, seorang waria cantik di sana memungutku. Dia merawatku. Mengajariku segala hal tentang wanita. Memberiku semangat hidup baru, rumah baru dan keluarga baru.".
"Beberapa tahun aku diasuhnya. Dianggap anaknya sendiri. Hingga pada usiaku yang ke empat belas, bencana itu datang. Seorang mucikari berminat mengambilku dari Rayong.".
"Rayong berniat membawaku ke Songkha, menuju Malaysia. Namun sayang, seorang kaki tangan mucikari itu berhasil menyergapnya. Rayong terbunuh..." isak tangis Lin Hua pecah.
Aku tertegun. Kucoba mengambil punggung tangan Lin Hua untuk menenangkannya. Namun dia menolak halus. Sepertinya dia butuh sendiri dalam ceritanya.
"Ren... a.. aku diperkosanya...." tangisnya pecah kembali.
Aku terkejut setengah mati. Shock. Pundakku terasa dingin dan membeku.
"Dalam keadaan hamil, aku dijualnya ke mucikari yang lain. Dia memaksaku mengaborsi janinku. Cara yang digunakannya ..brutal sekali....." Lin Hua terguncang kencang. "Aku hanya dipandang sebagai onggokan daging saja..".
Ruang dan waktu disekitarku serasa membeku. Aku seolah berada di dunia lain.
"Aku mengalami pendarahan berat, dan dibawa kerumah sakit setempat." Lin mencoba menenangkan dirinya. Diteguknya air putih segelas penuh. "Yang lebih membuatku shock lagi Ren, dokter disana bilang, aku tak akan bisa mengandung seorang janin lagi...".
"Aku tak akan mungkin mempunyai keturunan." katanya sambil melempar segumpal arang ke perapian. "Perempuan seperti apa yang tidak bisa melahirkan Ren ?" tanyanya dalam hati sambil menangis kembali.
"Malamnya aku kabur Ren. Namun seorang bajingan lain menangkapku, dan berminat menjualku ke Malaysia. Untung, ditengah laut, kapalnya di sergap oleh marinir.".
"Aku berbohong saat ditanya asal muasalku. Aku tak ingin kembali ke Guangzhao. Ayah mengajariku bahasa Indonesia dengan baik. Kubilang, ibuku dari Singkawang dengan menggunakan bahasa ibuku. Aku di culik sejak umur enam tahun, kataku kepada mereka.".
"Kemudian mereka mendeportasiku ke Indonesia. Dan aku terdampar dikota tempat kita bertemu.".
"Disana aku bertemu Richard, yang menampungku hidup dan bekerja." katanya sambil menatap karpet yang didudukinya.
"Sekalipun profesiku sebagai hostes, aku tak pernah menerima tawaran tidur dari pria manapun. Mereka semua kuanggap sebagai obyek hidup yang menjijikkan. Tak jarang aku bertengkar dengan mereka yang sudah keterlaluan.".
"Kau tahu julukanku diantara para tamu, Ren ?" tanya Lin Hua dengan mata sembab. Dia mencoba tersenyum. "Hell Angel, bidadari neraka....".
"Dalam profesiku sebagai hostess, aku selalu menekan rasa muakku pada lelaki. Termasuk pada Raymond, yang sudah sejak awal memandangku sebagai obyek syahwat.".
"Keributan kemarin bukan pertamakalinya terjadi... sudah sering...".
Lin Hua merubah nada suaranya. "Tapi, itu berubah saat aku bertemu denganmu Ren. Aku tahu koq berbeda dengan yang lain. Kau tidak memandangku sebagai obyek nafsu. Kau bahkan memandangku hanya sebatas kolega bisnis biasa." Katanya sambil tersenyum.
Aku masih terpana dalam cerita suram Lin Hua. Perkosaan, aborsi, tak bisa punya anak lagi ? Duh Gusti.. berat amat cobaan yang kau berikan padanya...
Tak terasa, hujan-badai diluar sudah berhenti. Cuaca kembali tenang. "Ren, lihat bintang yuk...?" ajaknya sambil menarik lenganku. Tingkah childishnya begitu terlihat bebas.
Udara begitu segar diluar. Malam tanpa cahaya listrik, dan bintang-bintang seolah berebut keluar memamerkan cahayanya.
"My Demon Ren, aku tak tahu kenapa ingin cerita semua ini padamu..." katanya sambil memeluk pinggangku. Sikapnya kembali kepada Lin Hua yang biasanya.
Aku masih terpaku pada cerita tadi. Sekuat tenaga kucoba membawa kesadaranku seutuhnya. Dan kucoba membalas candaan Lin Hua, "Bukankah Demon dan Hell Angel berada di tempat yang sama ? In the hell ?".
Lin Hua tertawa lepas. Bebas sekali. Dan aku,.. kali ini bisa merasakan kelapangan hati Lin Hua.
Lin, mungkin karena kita sama-sama memiliki ruang kalbu yang kosong, sehingga kita mudah akrab. Ruang kalbu yang biasa dihuni oleh insan yang disebut,... keluarga. Kataku dalam hati.
"Ren,.. purnama.." tunjuk Lin Hua sambil mengangkat kepalanya memandang bintang.
"yeah.." kataku sambil memandang ke langit yang sama.
Rembulan Purnama yang begitu besar dan bulat terlihat bertahta di atas singgasana langit malam Pantai Parai. Begitu terang, begitu indah. Sementara angin pantai nan lembut membelai jiwa kami berdua.
"Sebentar Ren.." kata Lin Hua sambil masuk kedalam. "Wait, for me a little bit more, My Man..." katanya sambil berlalu. "I have something to ask you..".
Tak berapa lama ...
Mengalun sebuah lagu dari ruang tengah kami. Suaranya merambat merdu hingga ke balkon tempatku berada. Dan Lin Hua, telah berganti busana. Dia mengenakan backless gawn terusan panjang berwarna putih dengan sebuah tiara mungil dikepalanya.
Fly me to the moon, yang dinyanyikan ulang dalam bit accid bossanova, tebakku dalam hati. Tepat sekali dalam suasana malam ini. Aku tersenyum. Lin, kau sukses mengejutkanku.
"ni yao bu yao gen wo tiaowu..?" pintanya dalam aksen mandarin. Dia berlagak laksana seorang putri kepada pangerannya.
Aku tertawa lebar. "Lin, wo bu mingbai.." sahutku sekenanya.
"Sudikah kau berdansa denganku, My Man ?" katanya sambil tersenyum. Senyum yang sangat manis.
Aku melangkah maju mendekat. Kudongakkan sedikit dahuku keatas. Dengan lagak seorang aristokrat, ku menjawab "Sure, Milady. Pardon me, who's your name ?".
"I am Lin Hua, MiLord..." katanya sambil menerima tanganku, dan maju mendekat padaku.
"May I ?" kataku menirukan lagak seorang pangeran. Sopan santun saat akan menyentuh pinggang pasangan wanitanya. "Excuse me for my rudeness, I could only use my single arm, MiLady..".
"At your service, MiLord.." katanya sambil beranjak maju.
".....Fly me to the moon......".
".....And let me play among the stars......".
".....Let me see what spring is like......".
".....On Jupiter and Mars......".
... senandung Fly me to the moon menemani kami ...
Dan, dibawah terangnya purnama pantai parai, kami berdansa manis. Layaknya sang putri dan pangeran dari negeri antah berantah. Yang diceritakan para pendongen, akan bahagia selamanya.
"My Man, kupinjam bahumu, ya .." pinta Lin Hua dengan suara lirih.
"It's all yours, MiLady.." kataku berseloroh.
Dan ketika dinginnya angin malam semakin tak tertahankan, kuajak Lin Hua kembali keruang tengah. Duduk didepan perapian.
Kupasangkan jaket tipisku untuk mencegahnya masuk angin. Terutama karena dia mengenakan backless gawn. Dan Lin Hua, memandangku dengan berbinar. Pandangan yang masih tak bisa kuartikan maknanya.
"Ren...".
"Hmm..?".
"Ceritakan padaku masa lalumu, My Man" pintanya dengan pandangan berbinar. Diseberangku, dalam temaramnya Lin Hua terlihat begitu indah. Begitu indah. Seolah aku tak pernah melihatnya secantik ini, sebelumnya.
"Ehehe..." kataku gugup sambil tersipu malu.
"Kau serius ingin tahu, Lin ?".
"Ayah-Ibuku sudah tiada sejak aku berumur tiga tahun. Dan aku dirawat disebuah panti asuhan umum yang penuh dengan kegembiraan. Bila rabu malam tiba kuhabiskan waktuku di Klenteng, bermain barongsai. Secara rahasia tentunya...".
"Bila malam jum'at aku menyelinap ke sebuah pesantren didekat panti asuhanku, ikut berlatih pencak. Sedangkan minggu sore, kuhabiskan waktuku di rumah seorang pastor terdekat.".
"Terkadang aku menghabiskan waktuku dengan berbincang filsafat dengan tetangga pantiasuhanku yang orang Bali. Aku begitu kecanduannya saat itu...".
"Hingga suatu ketika, datang serombongan ibu-ibu dharmawanita ke pantiashanku. Salah seorang diantaranya adalah Ibu Anggun Fatmawati, ibunda dari Mbak Kiko..".
"Bukan sebuah pertemuan pertama yang mulus. Karena kami malah bertengkar saat itu.".
Aku tertawa sejenak. Membayangkan betapa lucunya masa laluku. "Mbak Kiko baru saja duduk di bangku SMA, sedangkan aku masih kelas 6 SD.".
"Mbak Kiko dan Ibundanya rutin datang ketempatku, setidaknya sebulan sekali. Mereka sangat care pada anak-anak. Tak perduli apa latar-belakang, suku, ras bahkan agamanya.".
"Ketika aku menginjak bangku SMA, mbak Kiko memaksaku, dengan caranya sendiri, untuk berkenalan dengan dunia jurnalisme. Hingga suatu hari, dia mengajakku untuk bergabung dengannya, dalam sebuah tim para jurnalis.".
"Dan inilah aku sekarang, Lin. Seorang pria kecil yang menantang congkaknya dunia dengan pena dan tinta..." kuakhiri ceritaku sambil bangkit. "Mau kubuatkan kopi, My Dear Lin ?".
"Anything's fine for me, My Man.." katanya lembut. "Kau punya masa kecil yang indah ya...." katanya seolah cemburu.
Aku hanya tertawa kecil sambil menghilang di balik kitchen set.
Sejenak kemudian aku kembali ke ruang tengah. Ditanganku sudah terbawa secangkir kopi hangat untuk Lin Hua. Namun kulihat dia sudah terbaring. Pulas. Begitu tenang dan damai. Ekspresi yang tak pernah kulihat sebelumnya.
Lin Hua tertidur diruang tengah yang berkarpet tebal. Aku hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum melihatnya. Dan kuambilkan selembar selimut hangat dari kamar untuknya.
Kututup semua pintu rumah. Memastikan tak ada yang kurang. Kemudian kubaringkan tubuhku diseberang Lin Hua, terpisah beberapa meter darinya. "Have a sweet dream, Lin" kataku sendiri...
Tanpa terasa air mataku menitik.
Yeah, have a sweet dream, Lin. Mimpikan semua saat-saat indah di masa kecilmu.
Karena malam ini, aku mimpi bertemu Acha. Dia begitu riang gembira. "Live On, Ren.. I have set ypu free now..." Acha tertawa gembira. Dan memberiku sebuah goodbye-kiss lewat lambaian tangannya. Dan Acha, semakin menjauh.
..terbang menjauh dengan sayap-sayap kecilnya. Kemudian menghilang, dibalik ribuan lembar pelangi. "Ren... goodbye.." Aku hanya bisa terdiam disebuah bukit, tanpa bisa berlari mengejar. Berteriak! Hanya itu yang kubisa. Berteriak memanggil namanya.
Kemudian aku menyerah. Lelah. Namun aku tersenyum. Terimakasih, terimakasih atas semuanya, Acha... istirahatlah dalam damai. Dan ...
..selamat tinggal.. My First Love..
**************************************************.
Pagi hari, dirumah kecil kami di Pantai Parai.
Desir ombak dan ramai camar terdengar menghiasi suasana pagi. Harumnya kopi serasa menggoda indera penciumanku. Perlahan, aku terbangun.
"Want some coffe, My Man ?" sapanya setelah melihatku bangkit. "..ni hao ma, Ren..".
"Yeah, thx Lin, My Woman" sahutku sambil menyeruput gelas kopi yang disodorkan Lin Hua. Di benakku masih terbayang kisah pilu yang diceritakan olehnya. Dia memang wanita perkasa, tabah akan itu semua, pujiku dalam hati.
"Want to take a walk with me ? The beach is so wonderful.." ajak Lin Hua.
Kuperhatikan, Lin Hua sudah segar. Rupanya dia sudah mandi terlebih dahulu. Rajin amat, pikirku. "Sure, I take a bath first..." sahutku sambil ngeloyor ke kamar mandi.
"Mau kumandikan, Ren ?" goda Lin Hua sambil mengejarku.
"No way !" sahutku sambil tertawa. Bergegas, aku lari ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian ..
tapak-tapak kaki kami sudah menghiasi putihnya pasir di Pantai Parai. Ombak yang sesekali datang sudah membasahi kaki-kaki kami dengan air lautan. Aku berjalan beriringan dengan Lin Hua.
"So.... tell me about her.." tanyanya tiba-tiba dengan sikap normalnya. "Is she cute ?".
"Hah ? Sapa ?" tanyaku kaget.
Lin Hua mendekatkan bibirnya ke telingaku. Kemudian berbisik lembut "A-Cha..".
"Wah.. bagaimana kau bisa dapat nama Acha ?" tanyaku setengah kaget.
"Kau memanggilnya saat tertidur, Ren.." jawabnya sambil memandangku.
Astaga... aku tak tahu bila aku berbicara dalam tidur.
"Ceritakan tentangnya, My Demon Ren.." pintanya.
Aku berhenti berjalan. Dan duduk ditepi pantai, menghadap ke pantai. Lin Hua mengikuti perbuatanku. Dan meluncurlah ceritaku tentang Acha.
Sesekali Lin Hua tertawa lepas saat kuceritakan tentang kelakuan Acha terhadapku.
"Tak heran kau begitu menyukainya, Ren..." komentar Lin Hua dengan nada bicara yang aku tak paham maksudnya. "Dimana dia sekarang ?" tanyanya lagi sambil tersenyum.
Aku menghembuskan nafas berat sebelum memulai bercerita lagi. It's okay. Acha is happy right now, kataku menenangkan batinku sendiri.
Kemudian, berurailah untaian kisah tragis yang melingkar dipenghujung hidup Acha.
Lin Hua terdiam. Setetes airmata membasahi wajah cantik orientalnya. "Maaf, aku telah meminta menceritakan dukamu" katanya pelan.
Aku bangkit berdiri. Kubersihkan pasir yang menempel dicelanaku. Kuulurkan tanganku yang tidak digips untuk membantu Lin Hua berdiri. "It's Ok Lin... Hidup harus berjalan..".
Lin Hua menyambut uluran tanganku untuk berdiri.
"Semalam aku bermimpi tentangnya. Dia tersenyum. Dan kita sudah saling menyampaikan selamat tinggal.." kataku sambil berjalan.
"Ohya ?" sontak wajahnya berubah cerah kembali. Dengan tiba-tiba, dia sudah meraih lenganku. Dan berteriak "Heeey... people... let see... we are newly wed..".
Teriakan itu menarik perhatian banyak orang. Beberapa pasangan turis asing memberikan apresiasi dengan menyelamati kami, "congratulation" "omedetto".
Wajahku layaknya kepiting rebus. Geez,.. she is over-reacting again, keluhku dalam hati. Namun tak ayal juga, kuikuti permainan Lin Hua. Mengimbangi akting Lin Hua !
Kami kembali ke rumah sekitar sejam kemudian. Aku harus ke kantor. Misi dari Mbak Kiko tidaklah ringan.
Dirumah, ..ternyata Lin Hua sudah menyiapkan breakfast sederhana untuk kita berdua. Aku bersiul melihat breakfast buatannya. "You are great, My Dear Lin.." pujiku tulus.
Tak seperti biasanya, ucapanku itu membuat Lin Hua tersipu malu. Kulit wajahnya yang putih oriental memerah, seperti gadis kecil yang berlarian diatas salju.
Reaksi yang diluar kebiasaan itu membuatku sedikit heran. Ternyata sangat banyak sekali hal yang tak kupahami tentangnya.
"Pulangnya jangan telat-telat ya..." godanya saat aku bersiap berangkat. "Kita akan rayakan ulang tahunmu nanti malam..., Ren My Man".
Woah ! Lin Hua memang benar-benar penuh kejutan ! Batinku bersorak. Aku tertawa "Thank you, My Dear Lin. I got to go now..".
"Bye Honey..".
Kupacu vespa tua ku menuju kantor. Hehe... it's my spring time, batinku berkata. Berangkat kerja, dan pulang makanan sudah tersedia. Layaknya ...
..suami istri ? Aku terkejut sendiri. Terkejut dengan liarnya imajinasiku. No Way.... jangan mikir yang aneh-aneh, ujarku dalam hati. Memarahi diri sendiri.
Dan begitulah hidup kami berjalan. Bangun pagi, bercanda sambil jalan bareng di pantai menikmati suasana pagi. Menikmati sarapan buatan Lin Hua. Berangkat kantor dengan saling menggoda saat berpisah.
Sorenya pulang kerumah, dan mendapati rumah dalam bersih dan makan malam sudah tersedia. Kemudian bercanda hingga malam menjelang, setelah itu terlelap dalam buaian malam. Lin Hua tertidur di ranjang, dan aku, seperti biasa, memilih tidur di bawah.
***
Merintis sebuah cabang baru berarti merintis kolega dan link baru di tempat itu. Dengan kata lain: dolan, cangkruk, ngobrol, nongkrong tapi dibayarin kantor. Tentunya tidak semua lapisan harus didatangi. Cukup tokoh-tokohnya saja.
Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Ini sudah sandang panganku sehari-hari.
Sejak kepindahanku kemari, aku menjadi semakin terbiasa dengan keberadaan Lin Hua.
Hampir sepanjang waktuku, yang kulihat hanyalah Lin Hua, dan Lin Hua.
Dan dia adalah orang yang penuh kejutan. Setiap saat selalu saja ada kejutan darinya yang menggodaku. Aku ...
.. tak tahu apa makna keberadaanya bagi ku. Hanya satu yang kutahu pasti. Ku akan lakukan apapun untuk melindunginya, walaupun melakukan kudeta pada raja demon sekalipun.
You love her ?
I don't know. What is love ?
I don't really know. But I know what happiness is ..
What is it?
Happiness is right here. Happiness is right now.
Happiness is when I see her happy. Happiness is when I see her smile.
Happiness is where i'm with her ...
Aku sendiri terkejut dengan liarnya pemikiran ku berkelana. Namun harus kuakui, perlahan tapi pasti... Lin Hua mulai menyelinap ke dalam retaknya puing-puing hatiku. Menyelinap layaknya udara pagi. Dan perlahan, kutemui retakan hati itu mulai menutup.
So, Do you love her ?
I'm still unsure. But I know I'm happy right now.
Then you are lucky. Not all love story painted in happyness colors.
Not really. What is love ?
Happiness, I guess ..
And.. If happiness and love are personified in one single person. How will you call it ?
Lin Hua ..
..Gedubrak... ! Aku terjatuh dari kursi kerjaku di kantor.
Aku sering melakukan dialog batin. Mengambil jarak antara aku dan diriku. Pada moment itu, kubiarkan pikiran dan perasaanku berlari seliar-liarnya. Terkadang ku rangsang nalarku dengan musik penenang jiwa dan aroma terapi.
Dengan demikian aku bisa leluasa mengevaluasi diri.
So, do you realize that you love her ?
I'm still unsure.
Coward! What takes you so long ?
I don't know.
Do you really dislike about what happened in her past ?
I don't care about her past.
Are you afraid of not having a child from her ? Because she is can not bear a baby anymore ?
I swear. I don't mind about that. It doesn't matter to me.
So, why don't you hold her ?
Am I really good enough for her ?
Coward !
Sudah setahun berlalu, dan aku masih berputar-putar pada pertanyaan-pertanyaan batin yang tak terjawab. Really... I'm a coward. But one thing, I will do everything for her shake.
And I will make it sure.
Well, I'm sure such an Idiot.
**************************************************.
Hari ini, tepat setahun kami bersama. Tepat setahun aku tinggal bersama Lin Hua.
Ku ingin memberikan sesuatu kepadanya. Sebagai ucapan terimakasih. Terimakasih karena telah berbagi tawa dan ceria bersama. Terimakasih karena telah menutup luka batin kematian Acha.
Disakuku telah ada tersembunyi sebuah kado mungil. Sebuah hadiah yang kubeli dengan sembunyi-sembunyi sepulang kerja beberapa hari yang lalu. Dan sore ini akan ku berikan padanya.
Namun, kutemui sebuah kejutan lain setibanya di rumah ..
"Lama tak jumpa,... Ren..".
Sesosok wanita berbusana kerja formal dengan blazer dan hotspan putih. Kacamata mungilnya semakin memperkuat gayanya yang bossy. "Haaii... Boss !".
"Sepertinya kalian rukun-rukun saja ya.." tawa mbak Kiko sambil menyalamiku. Sejenak kulirik Lin Hua yang masih memakai apron putihnya. Entah mengapa, rasanya kulit rona merah di pipinya.
"Baru saja aku bicara dengan Lin Hua..." ujarnya.
"Biasa... woman's talk" ujarnya sambil tertawa. "Ada yang harus kubicarakan denganmu Ren, privately" katanya sambil menatapku tajam.
Wah, sesuatu yang luar biasa penting, agaknya. Batinku berkata.
"Ku pinjam Ren sebentar ya, Lin..." tukas mbak Kiko sambil melangkah pergi. Dia melambai kearah Lin Hua yang masih berdiri mematung.
"Temani aku sambil jalan di pantai, Ren..." pintanya sambil melepas sepatu hak tingginya. "Uaaah... pasir putih, laut biru dan pemandangan indah.." katanya sambil setengah berlari.
Aku tertawa sambil mengikutinya. "Sebentar ya Lin, aku ada sesuatu untukmu. Nanti kita bicara setelah mbak Kiko selesai urusannya denganku." lambaiku kepada Lin Hua.
"Take your time, My Maaan..." teriaknya riang sambil melambai padaku.
Segera, kuhampiri mbak Kiko yang masih asyik bermain-main di pantai.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan mbak ? Sepertinya sangat serius sekali..".
"Hmm.." Ekspresi wajah serius muncul di wajah mbak Kiko. "Kau ingat hukum imigrasi kita ?".
"Ya...".
"Kasus Andrew White yang masih berkewarganegaraan asing, namun setelah menikah dengan WNI. Akhirnya bisa legal tinggal di Indonesia.".
"Ohya... saya juga ikut menggarap reportase itu, mbak".
"So ?" tanya mbak Kiko "Bagaimana dengan Lin Hua ? Bagaimana bila imigrasi tahu bahwa dia berasal dari Guangzhou ?".
Mbak Kiko melanjutkan, "Aku sudah check semua latar belakang Lin Hua. Dan bahkan mengkonfirmasinya pada Lin Hua." Mbak Kiko tersenyum, "Aku bahkan tahu bagaimana progress emosi dan hubungan kalian, Ren..".
"Ren, apapun itu, pada kenyataan Lin adalah warga negara asing. Cepat atau lambat imigrasi akan tahu. Permasalahannya adalah, bagaimana bila Raymond atau orang-orang PEI tahu lebih dulu ?".
Dadaku berdegup kencang. Raymond dan ex orang PEI adalah mereka-mereka yang masih memiliki dendam kesumat padaku. Dan pasti akan menempuh segala cara untuk menghancurkanku.
"Telah lama aku mengenalmu Ren." lanjut mbak Kiko "Hingga aku mampu memprediksi perkembangan emosimu terhadapnya. Sejak peristiwa pembakaran tempat tinggalmu bahkan.".
Mbak Kiko melanjutkan kembali, "..dan aku sudah lama menduga, bahwa dia akan jatuh padamu Ren.." katanya sambil tersenyum simpul.
"Satu-satunya yang memiliki kesempatan terbesar dalam membantunya adalah kau, Ren. Dan itu adalah tanggung jawabmu..".
No way... segalanya terlihat begitu mudah sekarang ...
Aku terduduk di pantai.. dan tertawa.. tertawa hingga airmataku keluar. Dan kurebahkan punggungku ke pasir putih itu. Kubiarkan ombak datang membasahi tubuhku. Dan aku kembali tertawa..
"Aku tahu, Lin Hua bukan perawan, dia korban perkosaan, korban pemaksaan aborsi yang brutal. Dan bahkan.. di vonis tak akan bisa mengandung lagi. Mungkin itu berat buatmu Ren ?".
Aku masih tertawa. "Aku tak perduli itu semua.. mbak.".
Aku bangkit duduk. "Menikahi Lin Hua, akan menyelamatkannya dari banyak hal. Dari masa lalunya, dari masa depan, dan dari masa kini. Termasuk ancaman deportasi dan Raymond-PEI.".
Aku bangkit berdiri, "Akan kulakukan, mbak..Dan memang seharusnya aku lakukan ini sejak dulu.".
"It;s your decision. I'm not involved" sahut mbak Kiko sambil tertawa.
"Have you told her about this all ?" tanya ingin tahu.
"Not a bit. It is not my style. I just confirmed the story of Guangzhou..." tukasnya sambil tersenyum.
"Oh Ren.. aku lupa. Sebelumnya, kami sempat bergosip sedikit, terutama mengenai selebritis Andrew White, Riyanti, dan beberapa gosip tentang status WNA seleb-seleb lainnya,..ohohoho.." katanya sambil tertawa lebar.
Aku menggeleng perlahan. Dasar... pikirku sambil melangkah pulang. "Mbak, aku akan bicara dengannya. Bersediakan mbak Kiko membantuku mengenai pengurusan surat-suratnya ?".
"Well,.. I'm aware enought that we don't have much time left, Ren.." sahutnya sambil mengambil handphonenya disaku. "Akan kuminta mas Made mengurus semua legal letternya".
"Thank you Sist... I'm in your debt..".
***************************************************.
Malam ini Purnama..
Dan kami tengah bercengkerama santai di balkon atas. Seperti biasa, saling menggoda, dibawah lembutnya sinar purnama.
"Dear Lin, aku ingin merayakan ulang tahunmu...".
"Ren, My Man,.. you're so sweet.." katanya sambil tertawa menatapku. "Tapi aku sendiri tak tahu tanggal berapa aku lahir..".
Aku memandang ke atas, ke arah langit. "Malam ini tepat setahun aku datang kerumah ini. Dan bersama denganmu sejak kini..".
"Ya Re,.. Malam itu ada hujan badai. Namun setelahnya, muncul purnama yang indah. Dan kita berdansa bersama saat itu ..." kenangnya sambil menatap rembulan. Kulihat wajah orientalnya bersemu merah.
"Bagaimana kalo kita jadikan tanggal itu, adalah ulang tahunmu saja ?".
Dia tertawa lepas.. "My Man Ren, kau memberiku surprise besar..." Kedua tangannya merangkul leherku dari samping. "Terimakasih atas segalanya, Ren...".
"Hmm..hmm.." jawabku sambil tersenyum. Kurogoh saku celanaku, dimana tadi kusimpan kado mungil untuknya.
Dan kuserahkan padanya "..kalo gitu,.. selamat ulang tahun, My Angel, Lin Hua..".
Lin Hua terkejut. Bola matanya membesar. Dan aku suka ekspresi itu.
"..Ren..".
"Untukmu, yang telah berbagi ruang dan waktu bersamaku..." kataku sambil meraih tangannya.
Lin Hua terduduk di balkon lantai sambil menangis. Kedua tangannya menutupi wajah ayunya. "..makasih... terimakasih Ren... Ini pertamakalinya ada orang yang perduli pada lahirku...".
Aku tersenyum, dan kucoba tertawa lembut, sembari membelai halus rambutnya. "Bukankan aku adalah Your Man, Lin..?".
Lin Hua mengangguk. Dia membuka kedua belah tangannya. Dan kuambil kembali tangan kanannya.
Perlahan kubuka kado kecil itu, dibawah pandangan Lin, dibawah sinar rembulan. Sebuah cincin emas yang pas di jari manisnya.
Lin Hua semakin terperanjat. "..Ren..".
"Yeah ? I'm your Man, right ? So,... sudikah kau bersuamikan seorang Ren ?" tanyaku sambil menyematkan cincin itu di jari manisnya.
Tangis haru Lin Hua pecah sudah. Tumpah ruah semua emosinya. Tak ada lagi Hell Angel. Yang ada hanyalah Lin Hua, wanita yang sangat ingin kujaga. Dan Lin Hua adalah ... happiness and ..love.
"Kau tahu kondisi ku Ren... Tak akan ada anak yang akan terlahir dariku.. Dan kau masih meminangku ?".
Tangis haru Lin Hua masih tak jua reda.
Ku jawil dagunya, perlahan kuangkat dagunya keatas. Agar Lin Hua menatapku. Agar dapat kulihat wajahnya, jendela jiwanya.
"Lin, Aku tahu. Aku paham. Dan aku tak peduli. Menikahlah denganku..." kataku sambil menatap mata sembab Lin Hua. "Kau bersedia, Lin ?".
"Ren... tak mungkin aku menolak pria sebaik dirimu..." jawabnya sambil mengangguk. Isaknya kembali terdengar...."Ya Ren... bersedia... aku bersedia...".
Tangis haru nya kembali pecah.
"Thank you Ren.... thank you...." katanya disela isak tangisnya.
Malam pun menjadi saksi. Beserta bulan. Beserta bintang-bintang. Beserta pantai parai. Beserta rumah kita.
Dan untuk pertamakalinya, kupeluk tubuh lencir Lin Hua. Pelukan penuh rasa cinta.
"Aku bahagia, Ren suamiku...".
mataku berbinar memandangi sebersit kilatan bintang yang lenyap seketika, seakan hanya menyapa dan menghapus jejak rona hitam di pelupuk mataku... apakah ini ujung dari pengejaran kebahagiaan hidupku.
"Yeah, aku juga, My Wife, Lin Hua"kudekap erat kepala Lin Hua di dadaku, degup jantungku berdetak teratur seiring irama angin malam yang berhembus menyisir ke relung tulang rusukku.
Anda tidak bisa ikut nulis kalau ndak login.
jafis: rozz:yak setuju, gimana kalo ceritanya gini, akiko mengasingkan ren dengan memintanya mengembangkan cabang koran baru di daerah terpencil.
jafis: tante rose: lin hua itu bukan berasal dari indonesia. dia dari guangzhao
jafis: tante rose:keluarganya miskin, dia dijual, diperkosa, pregnant, dipaksa aborsi
jafis: tante rose:kapal yang membawanya di tangkap oleh petugas di thailand
jafis: jadi ren dengan lin hua mengasingkan di bangka..nah disini lin hua mulai menceritakan masa lalunya, aad keromantisan dlm kebersamaan mereka..chapter ini mulai menumbuhkan bibit cinat diantara mereka.. menurunkan tempo thriller sedikit heheh
Shirley Rosemary: kurang asem! quote ditambahin kata-kata 'tante'!
lelouch: :D
lelouch: :D
Shirley Rosemary: lelouch, gw tahu gimana cara manggil elu sekarang lelouch=lulu . how cute :P
lelouch: dasar tante2... ngetik aja salah "langk. " wakakakaka
Shirley Rosemary: ini semua gara-gara elu, lulu centil !
Shirley Rosemary: maksudku "Langkah kaki membawa diriku keluar pintu keluar airport. Disana kutemui banyak sekali penjemput yang datang. Aku tersenyum. Siapa kiranya yang akan menhemputku, ya ?"
Shirley Rosemary: lulu, ntar ketemuannya jangan dibuat romanris banget dulu, ya. biar konsisten dgn design karakternya Lin Hua dan Ren yang canggung.
lelouch: yes aunty rose
Shirley Rosemary: koq aunty sih ? sama aja donk?
lelouch: kalo gitu aku panggil bibi rose aja
Shirley Rosemary: ogah! kesannya kayak pembokat. terlalu
lelouch: wakakaka....
jafis: gimaan kalo madam rose
lelouch: wakakakakakaka.... lebih tuwir lagi
Shirley Rosemary: weh... aq masih imut hoy
jafis: sudah ajfis edit madam rose...lanjut..
Shirley Rosemary: bwek..
Shirley Rosemary: dodol... deskripsi baju gadis koq kayak gitu
lelouch: cerewet... dasar old hag
Shirley Rosemary: what? old hag... this is insult ! pe-le-ce-han
jafis: gile gua tinggal sebentar ajah..udah bejibun
jafis: cocok banget seh kalian berdua..wakakka
jafis: jangan lupa yaa chapter ini akan berisi cerita masa lalu lin hua seperti yg saya quote diatas..aats usulan madam rose
Shirley Rosemary: apaan ? si lulu ini sering ndak nyambung sama aq
Shirley Rosemary: bentar aku ke belakang dulu :P
Shirley Rosemary: :P back ! did i missed something ?
Shirley Rosemary: aku mau drive ke sebuah logika. habis ini aku mau menghadirkan richard lagi, sesaat. tolong di sinkron ya ?
lelouch: emang mau dibawa kearah mana?
Shirley Rosemary: logikanya gini : lin kan dari guangzhou. hukum imigrasi di negara kita, bila seorang wanita asing menikah dengan pria WNI, maka dia akan legal menjadi WNI. nah sisanya coba di imaginasi ? romantisme bisa lebih terbangun
lelouch: wakakaka... rose, emang tante yang aneh.
lelouch: masuk akal sih. tapi letakkan dibelakang cerita masa lalu lin hua aja ya ? biar lebih 'menyayat` hati pembaca wakakaka
jafis: iya...biarkan lin menceritakan masa alu mereka...
jafis: sambil meerka menikmati kebersamaan... kan meerka nih dlm pelarian
Shirley Rosemary: tuh kan.. aku lebih match dengan oom jafis yang ganteng ketimbang lulu
Shirley Rosemary: buktinya, aku enter kalimat langsung match padahal belum baca lo hihihi
lelouch: nenek tua nyebelin... ya gak fis ?
jafis: sudah saay edit kok yg punya saya heheheh
jafis: ehh ini lg mendung yee...erghhhh
Shirley Rosemary: mendung, cewek kan gak suka kalo lihat pantai yang ada badainya, warnanya kelabu dan mendung
jafis: okey saya edit yaaa...tunggu sebentar
jafis: lanjutt
jafis: cerpenista ini telah membuatku kecandua...heheheh performance kerja ku menurun ...tapi asyik bangeeettt
lelouch: wakakaka
lelouch: kerja di bagian apa bos?
jafis: IT & HR Development
lelouch: editin dong bos "Semuanya sempurna... kecuali satu hal " menjadi "Semuanya sempurna... kecuali satu hal :" kurang tanda ":"
Shirley Rosemary: edit oom : "Lin melirikku sejenak" jadi "Lin melirikku perbuatanku itu."
jafis: ehhh...biarin lin ceritain masa lalunya....sampe mereka ketiduran nggak sengaja di mejah yaaa
jafis: terus besok pagi mereka lanjutin di pantai...
lelouch: di meja ? lebih seru ketiduran berdua di karpet depan perapian bos :D
jafis: janagn dibawa sex dulu yahh...belum saatnya, Ren kan belum tersentuh hatinya..
lelouch: wakakaka... nope lah... cerita ini bisa dibuat lebih baik tanpa harus menyentuh unsur sex
jafis: sepp...
jafis: gua puang dulu yahhh...kalian lanjution ajah...seolah-olah kalian yg menjalani "tante rose dgn oom lelouch" wakakak
Shirley Rosemary: ogak! emangnya gw pedofil
lelouch: emoh... emangnya aku mother complex?
jafis: wakakak
lelouch: edit bos "Samar-samar kedengar" menjadi "Samar-samar kudengar"
lelouch: sama ini "Bisnis kita hanya sebatas jual beli informasi" menjadi "Hubungan kita hanya sebatas jual beli informasi"
Shirley Rosemary: lulu dodol
Shirley Rosemary: dua kali salah. keledai aja mau kejeblos dua kali (provoke) :P
lelouch: emang pernah liat keledai kejeblos ? :P
Shirley Rosemary: lulu .... kelakuan kau...
Shirley Rosemary: bisa-bisanya doyan sama keledai...
lelouch: tante-tante yang aneh ..
Shirley Rosemary: lulu, pastein lirik lagunya fly me to the moon ya .. 4 baris aja. aq dua lu dua
lelouch: yayaya....
Shirley Rosemary: http://www.brave.com/bo/lyrics/flymeto.htm
Shirley Rosemary: edit lagi oom jafis "Kau serius ingin tahu, Lin ?" --> "Kau serius ingin tahu, Lin ?" tanyaku. Dan dijawab spontan dengan anggukan penuh minat olehnya. Oh, man, she's really cute.
andi: komennya ga keliatan apa2 pak?
lelouch: fis, seperti biasa ... itu tuh ...
lelouch: tante rose, aku kasih *** kita ganti fragmen yuk.
lelouch: masuk ke plot yang tante rose usulkan :
lelouch: rose-emang-tante: aku mau drive ke sebuah logika. habis ini aku mau menghadirkan richard lagi, sesaat. tolong di sinkron ya ?
lelouch: rose-emang-tante: logikanya gini : lin kan dari guangzhou. hukum imigrasi di negara kita, bila seorang wanita asing menikah dengan pria WNI, maka dia akan legal menjadi WNI. nah sisanya coba di imaginasi ? romantisme bisa lebih terbangun
Shirley Rosemary: iya ya .. besok aja ya ...
lelouch: ok deh .. bubye
Shirley Rosemary: cu
jafis: sorry semlaam saay nonton konser aris idol heheheh jd nggak OL deh
lelouch: gpp bos
Shirley Rosemary: entrinya si andi nih : "Aku berpikir keras bagaimana bisa membahagiakan dirinya. Jualanku tidak laku2. Sedangkan pemilik sewa rumah selalu saja menagih tiap bulannya. Tanpa terasa air mataku menitik."
Shirley Rosemary: ndak match banget dengan cerita ..
rozz-aremania: tante, aku mulai masukin dialog batinnya ren ya..
Shirley Rosemary: aq ngikut aja deh
ketuakelas: andi lagi :D
Shirley Rosemary: ya pak ketuakelas.
ketuakelas: apa perlu kalimat itu dihapus juga?
Shirley Rosemary: sisakan ini aja "Tanpa terasa air mataku menitik." hihi
rozz-aremania: tante, aku kasih separate lagi ya " *** " masuk ke yang sebelumnya ditulis lulu. ntar tante yang lead cerita. aku ngikut.
Shirley Rosemary: edit dong oom jafis "rasanya kulit rona merah di pipinya." jadi "Entah mengapa, rasanya kulihat rona merah di pipinya."
Shirley Rosemary: pindah ke fragmen baru. malam hari.
rozz-aremania: off
lelouch: tamat
Shirley Rosemary: tamat
jafis: tamat yee...
jafis: wah...saya ketinggalan lahii yaa....:((
jafis: akhir chapter ini mo dibikin panas lagi dg kedatang paar penjahat...atau dibuat bahagia agak lamaan dikit
lelouch: waduh... dimarahin pak sutradara nih :D
lelouch: sorry bos, terlena
lelouch: soalnya chapter ini, udah panjang banget
jafis: iya...jd geman anehh...
jafis: ehh salah ketik... maksudku gemana nehh
lelouch: ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab koq
lelouch: pertama Raymond, yg jelas scr logis pasti ada konflik
lelouch: scr tersirat dalam chapter sebelumnya dijelaskan kalo Raymond berhasrat pada Lin Hua
lelouch: yang kedua, siapa pembunuh Acha, sampai skrng belum dijelaskan.
lelouch: skrng, bagaimana seandainya rumah ren dan lin hua terbakar dimalam pernikahan mereka ?
jafis: setujuh...
jafis: jadi nih chapter mo kita akhiri gimana
jafis: di tamatin ajah yaa...udah panjang nehh...
jafis: lanjt chapter 6
lelouch: gila... :D
lelouch: gak nyangka gw udah mau 6
jafis: jd gemana oom lelouch..
lelouch: target ch 6 apa aja ? final ?
lelouch: wadouh.. lemot internetku
jafis: ya itu persiapan perkawinan..terus diserang dan semuanya terbakar...
jafis: tante rose kemana yaaa
lelouch: biasa.. tante-tante, paling lagi meni-pedi
lelouch: kebakarnya saat pesta atau menjelang wedding night ? :P
jafis: gimana bagusnya...yg pasti kita buat suasana mereka menyatakan hidup semati..wakakka
jafis: aku rasa pake pernikahan nasrani ajah...
lelouch: hmm...
lelouch: gak ada masalah sih.
lelouch: kayak yg di film2 itu ya ? :D
lelouch: oom jafis .. halo ?
jafis: yaa..jadi gimana nehh
lelouch: endingnya lin & ren hidup atau mati ? :D
Shirley Rosemary: ya hidup donk. lulu kamu kelainan deh. doyan banget ngebunuh tokoh cerita :D
jafis: jadi gemana nehh...di tamat aja yahhh lanjut chapter 6, dumulai dg persiapan pernikahan..buat mereka kelilingi pangkla pinang...
jafis: maseh suasana romantes..nah akhir ceritanya baru... tragedi penyerangan itu
jafis: jd apa yaa judul chapter 6
lelouch: ok deh
lelouch: ada oom jafis online, jadi kita bisa keroyokan ngerjainnya
Shirley Rosemary: wedding in the hell
jafis: wew...
jafis: jadi nih tamat yeee...lelouch tolong dong bintang2nya di ganti kata2 penutupan
lelouch: sadis amat judul... dasar tante-tante kelainan
lelouch: aduh... aku kehabisan imajinasi nih... coba tante kita ini..
Shirley Rosemary: enak aja
jafis: aku edit yaa....
jafis: bentar..
jafis: sudah...gemana neh..
lelouch: edit yang mana bos?
jafis: sudah tuh...yg binatng2..kan nih chapter mo stop...
Shirley Rosemary: iya oom.. tamat
lelouch: tamat
jafis: nih chapter ditamatin aja yaa...di close dengan kata indah...btw chapter 6 judulnya apa?
lelouch: next : ch 6 : fire dance
Shirley Rosemary: the dance of fire
jafis: seppp....sepertinya kosakata tanate rose lbh kena yaaa huhaahah
lelouch: setuju deh **sambil nendang tiang listrik**
Shirley Rosemary: hahahahaha **injek-injek lulu**
jafis: sebnatr aku edit yg punya tante rose..biar endingnya indah..hbs tuh saya tamatkan
lelouch: nah tuh.. denger tuh, tante
jafis: hehe..maaf cuma mo nambahin penjalasan ajah.. nggak enak kalo akhir tanda kutip...
jafis: mohon izin tante yeee...wkakakaka
lelouch: mantaaab.....!!!!!
Shirley Rosemary: yah.. i must admit. yours better than mine :D
jafis: hehhe...sudah saya bikin chapter 6 the dance of fire... silahkan bersenang2...
lelouch: ok bos
jafis: buat seromantis mungkin dan selipi canda tawa yaa... sejoli itu bak sepasang manusia yg baru menemukan kebahagian
lelouch: sex? **pletak!!!**
Shirley Rosemary: dodol **injek2 lulu**
jafis: tuh udah kubuka.dg suasaana pagi pantai parai...deskripsikan suasan alamnya yaa... ntar penonton bosen baca romantisme interest human
jafis: seperti dan brown..setiap memulai chapter...di deskripsikannya dulu tempat kejadian dg menarik... silahkan googling ttg pangkal pinang...say mo kerja dulu ..wkakakak
lelouch: berat-berat...
lelouch: eh jangan lupa gambarnya :D