Cerpenista - Ayo Ngarang Gotong Royong!

Register Cerpen Group Top Kontes Forum Login

Dipan Bernyawa

Horor   Cerpen ini terbatas untuk anggota Group Jayustisia

"Uuuggghh.. hari ini melelahkan.." batinku. Banyak kerjaan yang harus aku lakukan, dan aku tidak bisa menyelesaikan semuanya hari ini.. Aku ingin pulang awal, krn malam ini malam pertamaku tidur di kamar kosku yang baru.

Kosku baru, tentu saja semua baru... hmmm baunya masih wangi lho.

sejak seminggu ini aku mempersiapkan segalanya. Bagiku, kamar kos adalah istana dalam hidupku.

Istana yang mungil tempatku akan melepaskan segala lelah dan penat. Kosku ini tidak mewah, tapi nyaman. Kulengkapi dengan.

.. nuansa erotis. Aku pasang lilin lilin merah, wan wangi wangian aroma theraphy.

Tak ketinggalan sprei merah muda dan boneka berbentuk hati yang sewarna. Itu saja belum cukup...

Semua barang yang aku tata rapih di kamar kos baruku adalah barang baru yang aku beli dari bonus tahunan kantor. Kecuali dipan tua yang sudah disediakan oleh si empunya kos, Pak Nawito.

Dipan ini antik, terbuat dari kayu jati dengan ukiran pada kaki-kaki. Di sebelah atas tempat bantal-bantal berada, ada sebuah ukiran lain...

Dipan ini terlihat sudah tua. tapi kayu jati yang menjadi bahan utamanya meyakinkanku kalau dipan ini masih kuat.

Karena budgetku terbatas, maka aku memutuskan untuk memakainya. Sedikit membersihkannya dipan itu akan terlihat bagus. Hanya saja ukirannya sedikit mengangguku, karena..

cukup ganjil di mataku.

Keganjilan ternyata bukan hanya di mataku saja. Penciumanku pun mencium aroma aneh dari kayu jati pada dipan. Sementara bulu kudukku sering mereman tak karuan.

Sekarang jam 18.30, sudah saatnya aku pulang. Lalu aku menelphone Pak Jupri supir kantor agar bersiap siap mengantarku pulang.

"Pak Jupri, dah mau balik nih..." ujarku singkat seperti biasanya.

"Njih Mbak.." seru Pak Jupri. Lalu Pak jupri menghantarku pulang. "Pak antar saya ke kos kosan baru saya Pak, mulai hari ini saya sudah officially pindah di kosan baru," kataku padanya.

Seperti biasa, macet disepanjang jalan. Perjalanan menuju kos-kosanku yang baru sekitar 1 jam.

"Kostan yang baru gimana mbak ? betah disana", tanya pak jupri basa basi.

"Betah Pak, sudah Ibu kosnya baik, bayarnya murah, listrik dan air gratis pula. Oiya, boleh ambil air putih juga lho, Pak! Tetapi.... saya takut...".

Takut apa tho mbak. Lingkungan diisitu banyak pemuda kurang ajar ya ? tanya pak jupri lagi.

"Bukan itu pak..".

"Lalu apa mbak ... ? ".

"Duh.... bagaimana ya menceritakannya...intinya ada perasaan tidak nyaman, Pak! Makanya, di malam pertama ini saya juga membuat persiapan.".

"Perasaan ngga nyaman gimana tho mbak, merasa ada yang mengawasi gitu ya? kok pake persiapan segala " jawaban membuat pak jupri makin penasaran.

"Aaaaaaa..... Ya gitu deh, Pak pokoknya.... haduhhh bapak ini nanya mulu, tolong nanti saya dibantuin do'a ya, Pak! eh nomor hape Pak Jupri berapa?" Tanpa sadar aku sudah sampai depan kosan...

"Mbak ini, saya ini ngga punya hape non. Makan 3 kali aja syukur kok. Ya sudah, hati2 ya mbak", jawab pak jupri saat aku menutup pintu mobil.

Pak Jupri mnganggukkan kepalanya, bersikap hormat kepadaku. Dia memang supir yang baik.."Hati hati mbak, jangan jangan kamar mbak ada hantunya.." guyonnya. Guyon yang membuatku bergidik .."Ah Pak Jupri, jangan gitu ahh.." balasku.

Udara malam yang dingin membuatku tak betah berlama2 di luar. Segera kubuka pintu pagar dan bergegas masuk ke kamar kostku.

Pak Nawito duduk di depan teras rumahnya, dia terlihat tua. 'Rambutnya 30 % adalah rambut dan 70% adalah uban'.. batinku. Aku tersenyum padanya "Malam Pak Nawito," sapaku.

Rokok lintingan Pak Nawito yang gedhe dan dibubuhi menyan itu mengepulkan asap kelabu. Baunya "nyegrak" aku hampir batuk, dalam hatiku bertanya, kenapa harus dicampuri menyan?

Sapaanku tidak didengarnya. Bau menyan itu sangat menyergak di hidung. Aku tidak tahan. 'Lelaki aneh..' gumamku. Beruntung istrinya baik, kalu tidak aku nggak mau kos disini.

Sampai di kamar, Aku langsung menjatuhkan tubuhku ke dipan. aku memang melepas sepatu, tapi aku belum sempat ganti pakaian. Membaringkan tubuh adalah hal yang ingin kulakukan setelah lelah bekerja seharian.

'eewwhh.. panas sekali..,' gumamku. Aku belum sempat beli tipas angin. Ingin kubuka baju ini, dan tidur tanpa busana tapi takut ada yang mengintip.

Tapi akhirnya kuputuskan membuka seluruh pakaianku, dan menyampirkan seluruh pakaianku di atas dipan berukir beraroma aneh itu.

Ketika sudah tidak ada lagi selembarpun pakaian menempel di tubuhku, aku merasa ada hawa aneh yang menjalar di tubuhku.

Benda keras itu menjalar dan menyentuh kuitku yang kedinginan malam.

Dipan kayu tua itu tiba tiba mempunyai hidung, dan mengenduskan asap berbau baygon. Sekejap nyamuk nyamuk di kamarku itu mati. Aku ingin berteriak, namun tak berdaya.

Seutas tali tiba-tiba terjulur di mukaku. Tali itu memiliki pengait yang terbuat dari tembaga. Bermata tiga.

Tak disangka, tali itu mulai membelit kakiku. Aku berusaha melepaskan diri, tapi ternyata ikatannya semakin kuat saja. Aku mencoba teriak, tapi hanya erangan saja yang terdengar. Entah apa yang terjadi padaku, semoga saja ada yang lewat di depan.

Kurasakan tali berujung tembaga itu mulai mengikat membelit seluruh tubuhku. Nafasku mulai terasa sesak, saat tali mengusap-usap dadaku.

Perlahan-lahan, kait itu meraba seluruh payudaraku. Semakin lama kait itu kurasakan tidak lagi bengkok namun menjadi tegak lurus.

seperti Monas.

Malam itu begitu dingin, namun justru aku merasa begitu sumuk, seperti di dalam sauna. Ternyata kait itu adalah sebuah benda bernyawa.

Ia bisa melata menyusuri setiap inci tubuhku yang polos.

Kait itu begitu dingin. Semakin lama dinginnya mulai merasuk seluruh sendi-sendi pada tubuhku.

Aku pun menggelinjang tak keruan. Kurasakan kait itu makin lama kian menggila.

hawa dingin itu berangsur menjadi hangat dan terus menghangat lalu mulai mempengaruhi syaraf-syaraf kewanitaanku.

Aku seperti terbakar api unggun kenikmatan.

Sungguh, aku membutuhkan seseorang saat ini untuk membiarkan api itu terus membara di diriku.

kriiiiiiiiiiingg... kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiing... "hyaa... hanya mimpi rupanya", keluhku sembari mematikan alarm hapeku.

Betapa bodohnya mimpi itu,.. batinku. Sejenak aku takut melihat dipan tua itu.

Namun bau menyan itu masih tetap menusuk hidung. Aku pun mendekati dipan dan melihat pakaian yang aku tanggalkan tadi masih tergeletak di atasnya. Namun, rasanya ada sesuatu yang hilang... Apa ya?

Daripada memkirkan itu, lebih baik aku mandi saja. Lalu aku mengambil handuk merah bata yang kusimpan rapi di lemari baruku. Di dalam kamar mandi, akupun mulai menyiapkan rutinitas mandiku, lulur kocok dan sabun sirih.

Kuhidupkan keran air hangat showerku, lalu aku mulai menyabuni tubuhku.

Aku terkejut! "kyaaa...", histerisku. Aku melihat tatto dgn lambang berupa aksara jawa tertulis di pundak kananku.

Kucoba perlahan2 untuk membaca kata apa yang tertulis. Waktu SD aku sangat jago membaca aksara jawa, namun skrg sudah agak2 lupa.

Rasanya aksara Jawanya agak berbeda. Aku baru sadar kalau tulisan itu harus dibaca terbalik.

Ketika aku mencoba membacanya, aku mendengar suara suara. Seperti kayu kayu bergesek dengan lantai. "Siapa itu??" teriakku, aku harap itu bukan maling.

"meong bukan ya?".

Aku pun memberanikan diri kelar dari kamar mandi, meski badanku masih penuh dengan sabun.

"mmm. ga ada siapa-siapa tuh. ah perasaan ku aja kali ya".

Bunyi itu terdengar kembali. Aku pun mengintip ke arah dipan yang masih berbau menyan itu. Jangan-jangan...

Aku mencoba mengintip tapi aku takut. Lalu aku meneruskan ritual mandiku dengan cepat cepat. Seusai mandi, aku menggenakan piyama biru dongker kesukaanku.

sebentar aku berputar2 dan memandangi diriku di cermin. Ah, aku selalu tampak menawan mengenakan piyama ini.

.. walapun piyama biru ini berlobang di bagian punggung ke bawah.

namun .. tanpa aku duga sebelumnya. Sebuah tangan merenggut piyama itu dengan kasar hingga akupun telanjang di depan cermin. Ketika aku membalikkan badan, "Aaaaaarrrrrghhhhh.." Aku teriak kencang sekali.

Sambil berusaha menutupi badanku, akupun berbalik, mencoba melihat siapa yang menarik piyamaku. Aku sungguh terkejut, karena Pak Nawito berdiri disana dengan membawa sebuah sekop.

Bukan pak Nawita yang membuat aku takut, tetapi dipan. DIpan itu tiba-tiba melayang dan seperti hendak menimpa pak Narwito.

Gedhhebuuuggghhh...!! dipan itu menyerang pak narwito dengan kaki-kakinya. Tetapi dengan sigap pak narwito mengelak. Sambil tersenyum dia mengayunkan sekopnya ke arah dipan itu.

Lalu Pak Nawito membaca sebuah rapal, mulutnya komat kamit. Dengan kedua telapak tangannya mengadah. Aku sangat takut ... ada apa ini, sembari mengambil handuk untuk menutupi tubuhku.

Tudung saji yang di atas meja itu bergerak- gerak sendiri... lalu dalam sekejap, tampak kepulan asap putih membubung di atas meja dan meliputi seluruh ruangan. Semuanya terhenyak dan menahan nafas. Bau wangi aneh seperti bunga melati merebak.

seketika itu pula rajah aksara jawa di punggungku menyala berwarna merah, darah....

aku semakin tidak mengerti dengan semua keadaan ini. Pak Nawito masih berkomat kamit entah membaca apa. Dan aneh.. Aksara itu perlahan menghilang berganti libido diriku yang menggila. Pekat kuraksakan payudara yang menggencang dan memadat.

Ditengah kegilaan tubuhku itu, tiba - tiba si dipan bergerak cepat menyerang pak narwito kembali..

Tidak saja kaki-kaki dipan itu yang bergerak, tetapi kini semua paku yang tertancap di dipan, mulai terlepas satu per satu. Semua ujungnya yang lancip mengarah ke pak Nawito.

Tanpa pikir panjang lagi, aku menyambar martil milik Rio Martil yang dipakai utk membunuh semua korbannya itu. Kuayun-ayunkan sembarangan ke seluruh antero ruangan. Tiba2, "Brakkkkk!!!" Seperti suara kepala yang pecah terkena palu. Kulihat darah ber.

seluruh paku yang terlepas tadi, mulai naik perlahan dan melayang-layang diudara dengan ujungnya mengarah ke satu titik, jantung pak Nawito.

Dan dari kejauhan terdengar suara derap langkah kuda....bukan hanya 1 bahkan mungkin puluhan...

Aku melihat keluar jendela, mencoba menerka ada apa di luar sana. Aku terkejut, dan ternyata...

adalah pasukan kuda dengan satu keterta emas di tengah tengah. Aku merasa ini seperti mimpi, ku cubit cubit lenganku. Dipan itu semakin menggila, kali ini aku bisa melihat DIpan itu bermata, hijau dan bersinar yang lama2 menjadi merah seperti marah.

Suasana menjadi semakin mencekam.....

Martil milik Rio Martil itu seperti bernyawa dan menghentak2 bagaikan ingin menghantam setiap kepala yang ada di ruangan itu. "Brakkkk!!" Angin puting beliung menerpa jendela sehingga terbuka seluruhnya. "Hi...hi... hi...." Tampak bayangan hitam.

"NAWITO!!!!" dipan itu tiba tiba bersuara, seperti suara manusia namun suaranya terdengar menakutkan dan berat. "KAU BERBOHONG PADAKU!!!.. MANA GADIS PERAWAN YANG KAU JANJIKAN!!!." suara parau itu membuatku takut.

Aku terhenyak, suara itu seperti sangat ku kenal sebelumnya. Jauh sebelum aku pindah ke kosku yang baru ini, bahkan jauh sebelum aku pindah ke kota ini.

Pak Nawito yang bersimbah darah merintih "Sialan!!.. Aku kira kau masih perawan!!.. wanita busuk", Pak Nawito menatapku tajam.

"Lhah aku memang perawan kok..." seruku sambil mengigil ketakutan. "Dulu waktu di test sama mas Heran Samsono aku masih virgin tuh, buktinya masih keluar darah..." aku berusaha menjelaskan.

"Eh, tapi kalau dulu sudah keluar, berarti sekarang sudah ga perawan donk." Tiba-tiba aku menyadari kesalahanku..

"Trus, kalau saya ndak perawan, gimana donk?" tanya Tya. "bapak mau pakai juga?".

"HENTIKANN!!!" suara parau dipan itu menggelegar. Aku terkaget sampai hampir terjatuh. Lalu Dipan itu menghentakkan salah satu kaki ukirnya ke dada Pak Nawito, semerta merta Pak Nawito terlempar melewati Jendela. "Aaaaaa..!!!" teriakku. Aku panik.

Pak Nawito sudah tidak ada di ruangan ini, entah apa nasibnya di luar. Sekarang tinggal aku dan dipan aneh itu. Mata dipan itu menyala, menatapku tajam. "Kau gadis busuk!! Ceritakan bagaimana keperawanan mu hilang!!" Aku terhenyak..

"Jadi ceritanya begini. Pada suatu hari...".

Belum selesai aku menceritakannya, tiba tiba pintu kamar terbuka. Berdiri seorang lelaki yang kukenal, namun aneh karena dia memakai jubah putih putih dan topi sombreno. "HAHH.. Pak Jupri!!!" teriakku tak percaya.

Pak Jupri hanya tersenyum, lalu memasuki kamarku dengan gagah. Dipan hidup itu terlihat marah, namun hanya terdiam. Dalam hati aku berpikir lumayan gantengjuga Pak Jupri ini, libidoku kembali menggila.

'Ah tidak tidak, Pak Jupri itu supirku, kenapa aku jadi naksir dia' batinku memberontak. "HAIII IBLIS!!!.. Sudah lama aku mencarimu!!.. Tak kusangka kita bertemu disini" teriak Pak Jupri. "Kali ini aku tak kan membiarkanmu lolos dariku!!!" lanjutnya.

"Prang....!!!" jendela di kamar Slentab pecah berantakan. "Blug!!" dari atas jatuh sebuah benda berbentuk kepala manusia. "Hiiiiii!!!" Slentab menjerit sambil menepiskan kepala yang terpotong itu dari pangkuannya. Tapi kepala itu seakan hidup dan....

mengedipkan matanya genit.

sambil tersenyum nakal.

Giginya yang masih utuh terbuat dari emas.

sayang, hidung benda itu meler,meneteskan cairan bening n licin serta mengeluarkan bunyi "sentrup" yang menjijikkan.

Pak Jupri segera komat kamit membaca mantera gagahnya. Dan akupun hanya bisa terpaku melihat sosok gagah Pak Jupri, walaupun kutahu pasti, dia adalah supirku!!

Supir gagah itu kini sedang menghadapi dipan bernyawa yang kini mengeluarkan tali berkait tembaga.Aku teringat mimpiku tadi, "hmm.not bad.".

Dipan itu lalu meregang nyawa. Tapi supir itu menyelamatkan nyawa dipan itu sehingga tidak jadi mati. Wah wah wah jangan mati dulu dipan. Lebih baik kamu saya pakai aja. Minyak tanah mahal, mendingan kamu jadi kayu bakar aja.

"mereka tidak menghiraukanku" pikirku dalam hati.

Lalu ku berfikir keras, aku ngengernyitkan dahiku. Apa yang dapat mengalahkan sebuah dipan di kehidupan nyata. "Rayap!!!" seruku. "Kita harus mencari rayap Pak Jupri!!" seruku pada Pak Jupri yang gagah itu.

"Oh iya, neng" Mereka pun mencari rayap yang ada di sekitaran mata mereka memandang.

Beberapa kali tangan mereka bersentuhan saat mengira disuatu tempat ada rayap.Aku dan Jupri tersipu malu.

Lalu salah satu kaki dipan itu memukul kepalaku perlahan, 'TUK'. Lalu dia berucap dengan suara paraunya itu "DASAR MANUSIA BODOH!!.. AKU TERBUAT DARI KAYU JATI!! MANA ADA RAYAP YANG SUKA MENGGEROGOTI KAYU JATI! EMANGNYA TERBUAT DARI PAPAN PARTIKEL!".

To be or not to be, kata dipan itu, yang penting aku bisa!!!

"Oh ya.. pak, api!!! Sekuatapapun yang namanya kayu tak akan menang melawan api!!' teriakku kegirangan setelah mendapat ide. Lalu...

Lalu Pak Jupri mulai merogoh semua kantong dari semua pakaian yang ia kenakan. "Haduhh neng... Kayaknya korek api saya ketinggalan" kata Pak Jupri. "Cari api dari mana neng?" tanya Pak Jupri kepadaku.

Aku mulai mencari korek yang ternyata lebih susah dari perkiraan.Ketika aku kembali,Jupri dan Dipan sedang main catur."Ini Pak,koreknya." kataku.

"Oke, saatnya pertarungan dimulai kembali" teriak Dipan dan pak Jupri. Mereka melemparkan papan caturnya dan mengambil kuda-kuda untuk berduel kembali.

Pak Jupri memodifikasi korek agar api lebih besar. Dipan itu tampak lebih waspada dari sebelumnya, karena adanya korek api di tangan Pak Jupri. Pak Jupri pun sedang mencari celah untuk menyerang Dipan dengan korek api yang sudah ia modifikasi itu.

Jupri meraba kantongnya. Yah, uangku habis semua... mana harga elpiji naik...mending aku pake kayu bakar aja ya.

Dipan itu tahu apa yang ada dalam pikiran Pak Jupri. Dengan suara lantang dia berkata, "lbh baik jual aku ke toko perabot, msh bisa di modif krn hargaku ternyata lebih mahal dari elpiji".

"tak kan kubiarkan dipan ini berpindah kepemilikan...lebih baek mati ketawa dari pada mati terbujur kaku dengan memeluk dipan ini, "jawab pak jupri.

Pak Jupri tersenyum sambil mengangkat dipan itu. Dipan itu tampak tenang,tidak bergerak. Jupri menunggangi dipan itu. Tiba2 dipan itu bergerak.

Bergerak kesana kemari tanpa arah. Tya tambah bingung melihat tingkah dipan, diapun berusaha untuk meraihnya dari pelukan Pak Jupri. Namun dengan tangannya yang kekar yang biasa megang stir..Pak Jupri makin kuat mendekap dipan itu.Tiba-tiba.....

Dipan itu seperti merangkul Jupri dengan erat..."Krak!!!" seperti ada tulang yang patah."Huaaaahhhhhhh!!! Addduuuuuuhhhh!!!" Jupri mengaduh kesakitan, tampak darah bercucuran dari dadanya yang patah karena jepitan dipan itu.. Tya hanya bisa menangis.

Di dalam tangisnya Tya ternyata punya rencana lain.

"Hei..kertas apa itu?", dalam hati dia bertanya, sambil menyeka air matanya Tya berdiri menjauh dari pergumulan berisik Dipan dan Pak Jupri untuk mengambil kertas itu. "..Jati Wangi Furniture..?",

"Wah...ini dia," gumam Tya dalam hati. Dengan buru-buru dicarinya hape yang seingatnya tadi diletakkan di pinggir dipan.

Pak Jupri mencoba melepaskan himpitan menyakitkan Dipan, "..Aargh!",

".brraaakkk..." Dipan dicampakkan Pak Jupri manjauh darinya, tapi Dipan itu....

Sementara itu Tya masih kebingungan mencari-cari hp-nya, "..siaal, pasti gini deh kl lg dibutuhin, bener kata adikku.. besok pasang alat pengingat hp lah.".

Kreekk... dipan itu keseleo karena kurang hati-hati. Pak Jupri tersenyum puas.

"KETEMU.....!!".

Tya menghela napas lega.

Pak Jupri mendekati Tya sambil megang tangan kanannya yg berlumuran darah segar, "Apa si?".

Jupri hampir pingsan karena darahnya banyak yang keluar. Tya sangat gugup, ia bergegas memanggil taksi dan membopong pria itu ke RS terdekat. Jupri pucat seperti mayat. Napasnya tinggal satu satu.

Melihat Tya ngos-ngosan ngankat Pak Jupri, Dipan dengan suara yang menggelegar tertawa terbahak-bahak. Seperti ketawanya bajak laut yang sedang mendapatkan rejeki nomplok, "Hahahahahaha....," ketawa Dipan dengan kerasnya.

Saking kerasnya, sang dipan mendadak terbatuk batuk dan asthma-nya kambuh.

Dalam kesempatan ini, aku mengambil botol berisi minyak gas. "Hey DIpan!!.. minumlah ini, ini obat batuk yang sangat manjur" kataku pada Dipan itu, aku mencoba membohonginya.

Untuk kali ini Dipan tidak tahu maksud yang ada dalam pikiranku. Seperti onta di gurun pasir yang kehausa..Dipan meminum "obat batuk" yang kuberikan dan...

dipan itu pingsan.

Melihat dipan sudah pingsan, buru-buru kuangkat dan kubawa ke..

Pasar Gembong. disini semua barang laku. bahkan dipan rese seperti inipun sepertinya akan laku keras.

Termasuk diriku yang sudah pernah ditest mas Heran Samsomo, laku keras juga di pasar ini.

anehnya, sudah hampir tengah hari tapi tak satupun yang menawar dipan ini. padahal dia sudah kudandani secantik mungkin. Ah, aku khawatir kalo terlalu lama disini, dipan ini akan siuman.

Sampai aku lupa mendandani diriku, malah yang menawar diriku yang banyak. Aku jadi bingung dikemanaiin ini Dipan.

hari semakin terik dan apa yang kutakutkan terjadi. Dipan itu menguap. Aku jadi curiga, dia tadi tidur, bukan pingsan! Aku bingung, dengan semakin banyaknya orang yang menawar diriku dan dipan yang mulai mengkhawatirkan.

Jika sempat orang2 pada tahu bahwa Dipan yang kubawa punya kelainan bawaan sejak lahir bisa bikin repot aku dipasar ini. Tiba-tiba...

Dipang itu benar benar terbangun! sontak, orang orang di Pasar Gembong itu terkejut. Situasi pasar mendadak kacau balau, dan...

Akupun jadi malu lihat orang2 yang makin rame berkerumun. Bahkan yang menawar aku pada menampakkan wajah curiga melihat diriku.

Ada seorang dari mereka yang mendekat padaku lantas berbisik "sst...ada diskon ndak?kalo saya beli dua duanya?".

"Oh...maaf, kita tidak boleh dibeli dua2nya oleh orang yang sama", jawabku dengan tegas.

Pemuda itu tampak kecewa.

Kecewa krn dalam angannya dia sudah membayangkan indahnya dunia ini diatas Dipan itu bersama aku.

Tiba tiba aku terbangun, ternyata aku tertidur menunggui dipan yang keracunan minyak tanah. Dengan sigap aku menyalakan korek Pak Jupri. Kulempar api kearahnya. Sekejap Api berkobar membakar dipan itu.

Karena Dipannya sudah habis terbakar belum "the end" kah cerita ini?

Sebelum cerita ini the end, aku berlari menuju Pak Jupri. memastikan apakah dia baik saja.

Ternyata Pak Jupri dalam keadaan sekarat sambil bergumam....."the end....the end..the end".


Anda tidak bisa ikut nulis kalau ndak login.