Cerpenista - Ayo Ngarang Gotong Royong!

Register Cerpen Group Top Kontes Forum Login

Kesalahan Terindah

Romans   Cerpen ini terbatas untuk anggota Group Loviano

Aku tak mengerti apa yang ada dalam pikiranku ketika aku memutuskan untuk memulai perselingkuhanku dengan Vina.

Vina sesungguhnya belum bisa disebut sebagai janda. Dia memang sudah pisah ranjang dengan suaminya sejak beberapa tahun yang lalu tapi belum bercerai secara resmi.

ah, aku pun bingung. seakan kabut memenuhi akal sehatku yang tampak sudah bebal ini.

Semuanya bermula ketika aku melihatnya di Blitzo Cafe, tempat kerjanya dan juga tempat biasanya aku menghabiskan waktu setelah seharian bekerja.

Tiba-tiba lewat seorang bidadari cantik. Ya, itu adalah Vina yang kumaksud. Aura kecantikannya membuatku terpesona.

Sambil membawa minuman yang kupesan, dia berjalan ke arah mejaku. Aku memandangnya dan dia memberikan senyum yang tak akan pernah kulupakan seumur hidupku.

Karena tak ingin kehilangan senyum itu, maka aku selalu menambah pesananku agar aku bisa lebih lama duduk disini.

Setelah beberapa kali dia mengantarkan minuman ke mejaku, aku memberanikan diri untuk mengajaknya berkenalan.

"Mbak, ini Cappucino Float-nya bisa diganti Martelo?" ujarku. Martelo adalah jus campuran Markisa dan Terong Belanda.

"Maaf mas, disini tidak ada Martelo," katanya seraya mengedipkan mata dan menyibakkan rambutnya.

Ughhh rambutnya yang hitam panjang terurai, bibirnya yang merah tersenyum genit. Aku sungguh terpesona dibuatnya.

Akhirnya aku mencoba memesan kue brownies. Vinapun mengangguk nurut dan segera ke counter kue.

"Mbak, temenin saya menghabiskan kue ini donks", pintaku saat vina datang mengantarkan kue.

Vina yang terkejut dengan ajakan tersebut hanya tersenyum. Kemudian ia berbisik tepat di kupingku, "Maaf Mas, saya masih pada jam kerja. Lain kali ya," jawabnya sambil senyum sumringah yang membuatku greget.

"Kalo gitu bisa minta nomor Hp nya?" pintaku menggoda.

"Ih, baru kenal kok sudah minta nomor HP sih?" Vina mengelak dengan mata mengerling manja.

"Biar kenal lebih dekat aja mbak, siapa tau bisa ngobrol kalo mbak lagi gag kerja." jawabku lagi. Dan Vina hanya tersenyum manja. Aku jadi tambah penasaran.

"Mending mas sering2 aja datang kesini, saya disini terus kok", ia sedikit berpromosi.

"Itu pasti dong, saya kan pelanggan tetap Cafe ini. Jujur saya sudah sedari tadi memperhatikan mbak." Jawaku menggoda.

"Ah, si Mas bisa aja," kata Vina tersipu. "Mas suka merayu ya?" tanyanya.

"Kalo wanita secantik mbak sih wajar kalo dirayu. Jadi dikasih nomor Hp nya?" Sedikit memaksa, namun tetap menggoda. Rupanya wanita ini tidak begitu saja rela memberikannya. "Gimana mbak, boleh ya, boleh donk...?".

"Boleh sih, boleh, Mas. Tapi ntar ya. Sekarang masnya mau nambah pesenan nggak?".

"Okey, saya pesen 2 kopi latte. Satunya untuk kamu. kamu harus temenin saya ngopi", kataku.

"Waduh, si Mas. Sebenernya pengen sih, nemenin. Tapi, gimana ya? Aku masih kerja nih. Takut dimarahin bos," Vina lagi-lagi mengelak.

Namun Vina sedikit tergiur dengan ajakan seorang pria yangcukup menarik itu, karena situasi cafe yang tidak terlalu sibuk dan ramai, akhirnya Vina menyanggupi ajakan pria itu. " O ya kita belum berkenalan, nama saya Vina Nia Dewi, panggil saja Vina.".

Ketika mengulurkan tangannya itu, mata Vina menatap seolah berkata, "D sini, detik ini, hanya ada aku dan kamu.".

"Panggil saja saya Tian" sambut pria itu menjabat tangan Vina mesra dan sambil dikeluarkannya jurus senyuman maut memikat hati.

"Tian? Owugh, nama yang bagus, seperti orangnya," Vina berkomentar tulus.

"akh kamu bisa aja" sambil senyum malu-malu mau. Tian terlihat lebih sedikit muda dari Vina dan Vina menyadari itu, "Kamu masih kuliah ya?" tanya Vina.

"Iya, tapi masih lama lulusnya," jawab Tian.

"Kemarin aja baru selesai ospek", aku menambahkan.

"Sudah lama kerja disini?, saya suka ke cafe ini untuk sekedar melihat kamu mondar-mandir melayani tamu. Kamu cantik dalam seragam kerjamu." Ungkap Tian jujur sambil menggoda.

"Lumayan lama juga seh. Cuman buat kesibukan aja, suntuk klo dirumah terus", jawabnya.

"Kamu tinggal di mana sih? Deket dari sini?" tanya Tian.

Tiba-tiba Hp di saku ku bergetar dasyat, pacarku Desi menelpon. "Lagi dimana sayang?" "Lagi ketemu temen-temen nih, meeting buat persiapan organisasi kampus, nanti call lagi aja." kata Tian. Klik..Hp pun terputus. "Itu temenku telpon" selah Tian.

"Ogh," Vina mengangguk. "Egh, kamu aktivis kampus ya?".

"Iya, sebenernya ngga ada rapat seh. cuman aku masih pengin lama2 disini. Kamu off jam berapa ?".

"Errr...aku off jam 7 nanti," kata Vina sembari membetulkan rok mininya itu.

Mata Tian tertuju ke paha putih mulus itu. Weew menggugah selera, batin Tian.

"Gimana klo nanti kita jalan2, sekalian aku anter kamu pulang", tian melanjutkan rayuannya.

"Tapi kan jam kerjaku masih lama nih" jawab Vina.

"Nggak apa-apa. Aku tungguin deh," jawab Tian.

"Owkey!" kata Vina sambil mengerlingkan matanya. Ia pun kembali bekerja. Dari kejauhan aku memandang Vina yang aduhai.

beberapa sms kukirimkan untuk mengusir rasa bosanku, jam 7 tinggal masih lama.

Tak jarang mereka bertukar pandang, saling memperhatikan. "Sepertinya aku telah jatuh cinta pada perempuan tinggi semampai itu" batin Tian.

Akhirnya usahaku menunggu Vina tidak sia-sia. Waktu menunjukkan pukul 7 malam. Kulihat dari kejauhan Vina muncul telah berganti pakaian.

Hot pens dengan t-shirt ketat ia kenakan, meskipun terlihat lelah Vina tetap indah dipandang mata.

"Hhmm..... kamu cantik sekali" ujar Tian sambil tangannya mengusap rambut Vina nakal.

Namun Vina masih belum mau akrab denganku. Ia sekilas menampik tanganku yang mengusap rambutnya.

Tak mau menyerah begitu saja, Tian menggandeng tangan Vina mesra dan Vina terkejut "Koq kamu pake gandeng segala.".

"Ma'af, saya terbawa emosi dan suasana. Kita jadi keluar?" Tian bergegas membenarkan kesalahannya.

"Iya nih aku udah laper, tapi jangan pake pegang segala ya, aku cuma mau makan trus ngobrol aja sama kamu" Vina berkata sambil jual mahal.

"Okey, Bagaimana kalau sate kambing ", tanyaku.

"Ma'af, saya punya penyakit darah tinggi", ujar Vina.

"Kalo gitu kamu suka makan apa? kamu yang pilih ya." Tian meneruskan.

"apa aja deh, terserah kamu", jawabnya.

"Suka japanese food, ada yang enak di daerah Kemang, gimana?".

Tian Subroto bingung mendengar ajakan Vina, karena dia belum pernah makan masakan jepang.

"Atau kamu mau dinner di apartment aku sambil ngobrol" Tian terus menggoda.

Vina terdiam, dia mengendus ada hal yang tidak baik dibalik ajakan Tian tersebut.

"Kamu jangan salah sangka ya, aku cuma ingin makan dan ngobrol aja sama kamu Vin." kataku.

Vina mendesah panjang, tetap saja dia mengira ada hal yang tidak beres.

Vina pun mengangguk setuju. Sesampainya di apartmen mereka memesan makanan, Lalu....

tiba-tiba bel apartmentku berbunyi. Vina pun segera memandang diriku..

Ternyata itu tukang laundry yang membawa pakaianku. Kami pun kembali bercbincang.

"Vin, kamu sudah bersuami?" ujar Tian memecah kesunyian.

Aku bisa melihat ekspresi Vina yang terkejut mendengar pertanyaan itu, Namun dia hanya terdiam ragu untuk menjawab.

Setelah diam bberapa saat, Vina mulai menjawab, "Aku dan suamiku telah pisah ranjang selama 7 bulan." Wajah Vina mendadak sendu.

rumah tangga kami sudah diambang kehancuran. Namun ia belum juga mau menceraikanku.

"Aku....... telah dibohongi olehnya. Kami dulu saling mencintai, hingga suatu saat aku melihat dia bersama seorang wanita keluar dari sebuah Hotel ".

Aku terkejut mendengar pernyataan Vina, aku kecewa sekaligus kasihan padanya. Vina yang malang.

Kuberanikan diri duduk mendekat, lalu kuusap lembut rambutnya.... "Aku turut prihatin, lupakanlah kejadian itu....".

" yang berlalu biarlah berlalu. di depan, langit masih cerah." ujar ku seakan-akan aku seoarang pangeran kebijaksanaan.

Vina pun memandangku dengan mukanya yang memelas, namun begitu menggoda.

Kupandang wajahnya dan ku sentuh wajahnya yang putih mulus, oh wanita ini sungguh menawan hatiku. Sepertinya aku tambah cinta.

okeyy. aku menyerah. aku.. aku... sayang padanya...

Ini gila! Padahal aku baru berbicara dengannya hari ini. Entah apa yang merasukiku, namun ingin rasanya aku berada disampingnya, setidaknya untuk saat ini.

Ditelingaku seperti teralun lagu Cangcuters 'I Love U beibeh'.

Kepalaku tiba-tiba pusing, mataku berkunang-kunang......

Akh sepertinya aku keracunan makanan, gawat mati aku....makan apa tadi.

Huh! Akalku yang tak lagi ditempat atau pesonanya yang telah memikat diriku.

Ternyata bukan keracunan tapi pesonanya yang membuatku sempoyaongan. Vina oh Vina...

Aku buru-buru lari ke kamar mandi dan berusaha menenangkan diri. "Tidak. Aku tidak boleh dikuasai nafsu. Aku harus bisa mengontrol diriku", ucapku dalam hati.

Tenang tenang Tian, kontrol donk...

Aku pun membasuh wajahku. Segarnya mampu meredam hingga ke ulu hatiku.

Juga meredam ke ubun-ubun kepalaku yang mulai berfantasi. Lalu aku kembali keluar dan mendapati Vina sedang tergolek lemah diatas sofa.

Loh, kenapa Vian? perasaan tadi saat kutinggal sebentar dia baik-baik saja.

Aku menghampirinya. Tubuhnya yang begitu menggoda membuatku serba salah. Aku berusaha membangunkannya dan berniat mengantarkannya pulang.

Namun aku mengurungkannya, aku biarkan saja ia tertidur, Vina pasti lelah seharian bekerja. Malam itu Vina menginap di apartmenku.

Ku pindahkan ia ke kamarku. Pikirku, biarlah aku yang tidur di sofa ini.

Aku membaringkannya di ranjang dan menyelimutinya. Setelah memandang wajah cantiknya untuk sesaat, aku kembali ke ruang depan dan membaringkan tubuhku di atas sofa.

Namun mata ini tidak bisa dipejamkan, pikiranku melayang-layang membayangkan tubuh elok Vina tadi.

Aku berusaha mengendalikan pikiranku agar tidak dikuasai nafsu yang sejak tadi mulai menghantuiku. Aku terus berusaha memejamkan mata hingga akhirnya, aku mulai terlelap.

Tiba-tiba...

Tiba-tiba kudengar suara Vina memanggil "Ton...ton dimana kamu" Aku kaget dan menghampirinya ke kamar. Matanya terpejam tapi mulutnya terus berbicara "Vin kamu kenapa?" tanyaku.

Dia tidak menjawab. Rupanya dia hanya mengigau. Aku lalu kembali ke sofa sambil menahan gejolak di dalam dada yang timbul ketika melihat paha mulus Vina yang tersingkap dari balik selimut.

huuuuuuh!! gumamku sembari menghela napas.

Akhirnya aku pun terlelap.

Tak terasa pagipun tiba, samar-sama kudengar seperti ada orang yang sedang memasak didalam dapur.

Aku segera bangun dan melirik arloji yang semalam belum sempat kulepas. "Udah jam 8. Untung ini hari minggu", gumamku.

Dan kudapati Vina sibuk menyiapkan sarapan untukku. Baik sekali dia.

Vina terlihat segar. Sepertinya dia sudah mandi sekalipun masih mengenakan pakaiannya yang semalam.

Vina berkata "Tian ini aku buatin sarapan, makan yux.".

Aku menganggukkan kepalaku dan berjalan mengikutinya ke meja makan. "Vin, aku mau nanya sesuatu sama kamu", ujarku setelah duduk di hadapannya.

"Emm..semalem kamu ngigo manggil nama Ton...ton, itu siapa?" tanyaku.

"Kamu mendengarnya Ian?".

"Iya. Emang Toni itu siapa?", tanyaku lagi. Vina menarik napas panjang dan berpikir sejenak sebelum mulai menjawab.

"Emm dia mantan suamiku. Toniton namanya, aku masih sering memikirkannya" keluh Vina.

"Memangnya kamu belum bercerai?

"Belum," sahutnya lirih. Terlihat dari wajahnya yang letih, betapa ia masih memikirkan Toniton.

"Sekarang yang aku pikirkan hanya bagaimana supaya aku bisa segera bercerai secara resmi dari dia", lanjutnya.

"Menurutmu aku harus bagaimana?" tanya Vina bimbang.

"Apa yang membuat kamu belum bercerai resmi dari dia?", tanyaku.

"Ceritanya panjang Tian, sulit bagiku untuk menjelaskan. Akh sudahlah kita ganti topik aja ya." Ujar Vina.

"Aku cuman mau tahu aja. Tapi kalau kamu gak mau cerita, ya udah", ujarku.

"Eh, yuk kita makan. keburu dingin nih dari tadi ngobrol mulu.." ujarku lagi dengan menatap VIna yang memandang kosong jauh keluar jendela.

Aku makan sambil memperhatikan Vina. Aku ingin mengetahui lebih jauh tentang perkawinannya. Tapi sepertinya ia memilih untuk tidak lagi membicarakan itu. Aku nggak mau membuat dia tersinggung.

"Enak juga ya masakanmu Vin" ujarku memecah keheningan.

Vina berkata "Ya ialah masa ya iya dong....Ayo di habiskan makannya ya.".

"hehehe.. gitu dong. Jangan melamun mulu. Di hinggapin lalat ntar" gurauku sambil menatap lembut Vina.

"iya gag apa asal kamu yang jadi lalatnya ya" goda Vina manja.

"Bisa aja deh becandanya... hahaha.. ugh.. mpe keselek".

"Habis makan, antarin aku pulang ya....!", ujar Vina lagi.

"kamu ga kerja vin? tanya ku.

Sebelum Vina sempat menjawab, tiba-tiba pintu apartemen digedor hebat dok...dok..dok.... Lalu terdengar suara wanita berkata "Tian sayang buka pintunya dong" Dan ternyata itu adalah....

Desi. Wanita yang selama setahun terakhir menjadi pelabuhan cintaku.

"Anjriit, mampus gw" ucapku lirih.

Kepanikan mulai melanda diriku. Aku bingung apa yang harus kulakukan.

"Vin" bisikku. "Ngumpet dulu dikamarku".

"Emangnya kenapa? Pacarmu datang ya?", tanya Vina dengan raut muka yang sulit kutebak maknanya.

"Sayaaaang, kamu kemana sih? BUkain dong pintunya".

Vina semakin penasaran, "Koq gag dibuka sih, sini biar aku yang buka pintunya ya." ujar Vina.

"Jangan....! Biar aku yang buka. Kamu tunggu aja di kamarku", ujarku sambil berjalan ke arah pintu.

"Sanah Vin..." bisikku sambil menunjuk kearah kamar.

"Emm ya udah, kalo gitu aku mau mandi dulu aja deh, kamu terima tamu kamu dulu, aku gag mau ganggu koq." Vina begitu pengertian.

"Anjrit, disuruh ngumpet malah mandi. Double espreso mampuso!!", umpatku lirih. Berharap tak terdengar Vina.

Aku berjalan ke arah pintu dan membukanya. "Hi sayang.......", Desi menyapaku sambil mendaratkan ciuman ringan di pipiku.

"Hi...." jawabku, "Kamu lama amat sih buka pintunya, hayooo abis ngapain?" tanya Desi curiga.

Belum sempat aku menjawab, Desi mengeluarkan sebuah kotak berpita merah dan menyerahkannya kepadaku. "Aku cuma mau ngasih ini ke kamu..... Aku gak bisa lama-lama. Papaku lagi nunggu aku di bawah".

Aku luar biasa lega, rupanya keberuntungan sudah menyapaku pagi ini. "Oh..iya makasih ya beib, ya udah kamu udah ditungguin papa kan" kataku cepat.

"Iya.....! Ya udah ya.... Aku pulang dulu", katanya sambil memberikan kecupan di bibirku.

Lalu aku mencium keningnya. Namun tragedi tak terduga terjadi, sebelum Desi beranjak pergi tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan Vina keluar hanya berbalut handuk putih. Astagaaaa.....mati aku.

Tapi sepertinya Desi tidak melihatnya. Bahkan ia juga mungkin tidak mendengar suara pintu kamar mandi. Ia langsung berbalik meninggalkanku dan berjalan menuju lift. Aku buru-buru menutup pintu dan menghampiri Vina.

"Aduh kamu wangi banget habis mandi, boleh cium dikit ya?" Godaku pada Vina yang hanya berbalut handuk, dia kelihatan sexy sekali.

Aku mengarahkan bibirku ke wajahnya, tapi dia menolaknya dan mendorong tubuhku. Vina bergegas mengenakan pakainnya. "Tian, antar aku pulang ya......!".

"Koq pulang sih...Nginep aja lagi disini, aku seneng kamu temenin loh." Aku terus menggodanya.

"Nggak.........! Aku mau pulang", katanya tegas dengan tatapan mata tajam. Sepertinya dia kecewa mengetahui aku sudah punya kekasih.

"Tadi yang dateng pacar kamu ya? itu kotak pita merah itu kado dari dia? Emang kamu ulang tahun?" Vina terus bertanya sehingga isi kepalaku harus keras kuputar untuk menjawab semua pertanyaannya.

"Antar aku pulang sekarang. Kalau kamu gak mau, aku bisa pulang sendiri", ia melanjutkan kalimatnya sambil berjalan ke arah pintu tanpa memberikan kesempatak kepadaku untuk menjawab pertanyaannya.

"Baik nona manis, aku antar kamu pulang ya." kataku sedikit terpaksa, tak rela membiarkannya pergi menjauh.

Sepanjang perjalanan, Vina lebih banyak diam. Aku sendiri bingung dengan keadaanku. Di satu sisi, aku masih mencintai Desi. tapi aku jatuh cinta kepada Vina.

"Semalam bersama tidak terjadi apa-apa, hanya bercerita dan berbicara tapi semua itu begitu bermakna, aku merasakan hal yang berbeda, aku jatuh cinta pada Vina. Tapi bagaimana dengan Desi. Apa yang kulakukan, apakah ini kesalahan?" batinku bimbang.

"Tian.......! Aku gak tau apa maksud kamu mendekati aku. Aku sadar akan statusku dan kamu pun seharusnya sadar dengan statusmu. Memang aku merasakan sesuatu saat bersama kamu. Tapi aku belum yakin kalau yang kurasakan itu adalah cinta", kata Vina.

Ucapan Vina menghentakkan pikiranku. Bimbang dan gamang.

Mungkinkah aku bisa mencintai dua wanita sekaligus pada saat yang bersamaan dengan kadar yang sama?

Sepanjang perjalanan kami terdiam seribu bahasa. Labirin otakku terus berputar. Aku mengantar Vina pulang sampai rumahnya. Sebelum Vina turun dari mobil aku berkata lirih "Vin, I love you.".

"i love you... too much..".

Aku mengecup keningnya mesra, Vina membalasnya di bibirku. Cinta itu menjalar perlahan merayapi sekujur tubuhku. Vina melangkah keluar menuju pintu rumahnya. Di perjalanan pulang ponselku berdering ring....ring....ring.....

"aAde cYank". segera kuangkat telpon,"hello sayang.. ".

"sayang kamu dimana, nanti dinner yah...kangen...." ajak Desi. Aduuuh padahal rencananya aku mau ngajak Vina dinner.

"tian sayaaang, gimana hadiah dari aku? suka ga?".

"oh..iya suka dong, makasih beib. Emm ini kan hari minggu aku gag bisa dinner, harus kumpul ada acara keluarga di rumah ibu, gag apa ya sayang." kataku beralasan.

"yaaa... sedih deh..".

"Besok aja kita dinner ya, kamu nginep apartment aku ya." kataku menenangkan hatinya.

"pliiiiss..".

"Kamu ngertiin aku dong ya sayang, ini kan acara keluarga, Ibuku ulang tahun jadi harus dateng." kataku dengan seribu alasan.

"ya ampun.. tante ulang tahun hari ini ya? aku ikut dong ntar malem kalau begitu. boleh ga?".

Aduuuuh kacau nih, bisa gawat rencanaku malam ini. Lalu aku beralasan lagi "sayang, bukan gag mau ngajakin kamu tapi ini kumpul keluarga terdekat aja, lain kali aku ajakin kamu ya sekalian kenalan sama ibuku ya.".

"oke deh beib kalo begitu. salam aja ya untuk tante.. daa sayaaang..".

Aku bernafas lega dan langsung memacu mobilku kembali ke apartemen. Aku harus mempersiapkan diri untuk dinner bersama Vina malam nanti. Aku harus memikirkan bagaimana mengungkapkan apa yang aku rasakan tanpa harus membuat dia tersinggung.

Aku mau membuat malam ini menjadi perfect moment. Aku mampir ke grand Indonesia membeli seikat bunga mawar untuknya. Mungkin karena sangat bersemangat aku lupa membuat janji mengajak Vina dinner malam ini. Aku mengambil ponselku dan menghubungi Vina.

"Vin, ntar malem dinner yuk. Ku jemput ya..".

Vina terdengar menghela napas panjang. Sepertinya dia masih bimbang mengiyakan ajakanku.

"aku nggak bisa ian.. Lain kali ya beib.".

Sedikit kecewa aku mendengar penolakannya. "Kamu tidak sedang menghindariku kan vin", tanyaku pelan kemudian.

"Enggak kok. Aku cuma sibuk banget hari ini," katanya dengan senyum yang amat minim.

"Emm... gitu yaa? sebentaar aja deh vin.".

"Tian aku mau ketemu dengan ex husband ku, ada hal yang harus aku bicarain sama dia. Lain kali ya, atau besok malem aja." Kata Vina. Huuuh...padahal aku sudah beli bunga, dan besok aku juga sudah janji dengan Desi, bagaimana ini.

"Lain kali ya," Kata-kata vina ini membekas di pikiran ku. Apa ia sengaja menjauh ya? Uuurgh.!!

Kumatikan hubungan telpon itu tanpa berkata apa2 lagi. Jujur aku merasa sedikit kesal.

Padahal aku sudah beli bunga dan merencanakan dinner yang special buat Vina. Ya sudahlah.. Mobilkuu melaju kencang di jalan tol, pikiranku kacau. Ada Desi dan Vina di hati dan pikiranku. Entah harus memilih diantara dua, atau ku tancap saja semua.

Hubunganku dengan Desi selama ini baik2 saja. Desi yang lucu , centil dan manja. terkadang masih bersifat kekanak2 an. Ia selalu bisa membuatku tertawa, walau tak jarang membuatku jengkel.

Namun kutemukan sesuatu yang lain di dalam diri, rasa yang berbeda, membuatku menjadi lebih bergairah dan bermakna. Sesaat aku diselimuti rasa takut, apakah ini kesalahan terindah yang kubuat dalam hidupku. Hatiku bimbang....

Perasaan sayangku pada Desi telah berubah seiring berjalan nya waktu. aku masih menyayanginya, Layaknya seorang kakak pada adiknya. Sedangkan Vina, Tentu saja ia jauh lebih dewasa. Cara berpikirnya lebih matang dan sabar.

Sesampainya di rumah aku menyalakan TV, duduk seharian tak melakukan apapun hingga terlelap. Ke esokan harinya....

Aku terbangun oleh ringtone HPku. Nama "aAde cYank" muncul di layar. "Desi.... Tumben pagi-pagi begini dia telpon", ujarku dalam hati. Aku langsung menjawab telpon Desi.

"halo.. ".

"morning honey...baru bangun yaa.. Gimana semalem acaranya? salam aku buat ibu disampein kan? aduh...kangen...kangen kamu" Desi terus berceloteh.

"o.. eh.. iya beib. acaranya seru. ga rame banget sih say, sederhana aja".

"oh..seneng dong. Nanti malem aku ke apartmen ya sayang. muwah" tuuut...tuuut... Telpon terputus.

"Iirggh.. Aneh! Sengaja diputus ato keputus ya?" Pikirku. Aargh, bodo amat!

Hari senin. Malam itu aku dan Desi dinner di luar lalu kami pulang, Desi mau menginap di tempatku. Sejauh ini semua baik-baik saja, belum ada kecurigaan di benak Desi, walaupun sebenarnya sikapku sedikit berubah kepadanya. Sesampainya di apartmen...

Aku dan Desi menghabiskan malam memandangi kelap-kelip jakarta dari balkon.

Aku mulai mengantuk dan mengajak Desi ke kamar.

"kau duluan deh Ian. Aku masih ingin berdiorama dengan kelap-kelip ini".

Aku memang sudah lelah dan ingin beristirahat, aku melangkah ke kamar tapi seketika Desi berkata "Tian, aku merasa ada yang aneh sama kamu beberapa hari ini. Entah kenapa aku ngerasa kamu menjauh, sikap kamu mulai berubah ke aku." aku tersentak kaget.

"jujur deh Ian sama aku", lanjut Desi.

Aku terdiam. Haruskah aku jujur kepada Desi kalau saat ini ada wanita lain yang mengambil separuh tempat Desi di hatiku?

Tidak! Belum saatnya Aku harus bercerita. Aku harus menguasai hatiku dulu! Sepertina Aku membutuhkan waktu untuk merenung.

"Akh itu hanya perasaan kamu aja sayang, gag ada yang berubah koq, trust me.." Kataku ragu. Lalu aku mengajak Desi masuk ke kamar "Udah malam, ayo tidur temenin aku yaa."kataku menenangkannya lagi.

Desi tidak mengiyakan ajakanku. Aku mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Desi berbalik. Wajahnya begitu dekat dan ia memejamkan mata sambil sedikit menengadah.

Aku bisa melihat cairan disudut matanya yang mulai menetes "berjanjilah Tian, jangan pernah pergi ya,Mungkin kamu gag akan pernah tau seberapa besar rasa sayangku buat kamu. Aku gag bisa tanpa kamu" keluhnya lirih,Oh Tuhan,semua ini membuatku bimbang.

Aku mencium keningnya lalu mendekapnya dengan lebih erat. Aku takut kehilangan Desi, tapi aku juga ingin memiliki Vina.

Malam sudah larut, hari hampir pagi, aku mengantarnya ke kamar beranjak tidur, semalam dia berada di dekapanku, memeluk erat tubuhku seperti tak mau melepaskanku. Tapi entah, ada sesuatu yang ganjil telah terjadi, perasaanku padanya sedikit berkurang.

Aku tak bisa memejamkan mataku sampai pagi. Desi terlelap dalam pelukanku. Sejenak aku memandang wajah cantiknya. "Oh Tuhan, aku gak mungkin meninggalkan dia", ucapku dalam hati.

Bukan....bukan hanya kecantikan fisik yang kubutuhkan tapi seseorang yang tegar dan setia bersamaku saat duka dan suka. Apakah itu Desi ataukah Vina? Dan sungguh aku tak mau menyakiti siapaun. Akh....aku tak bisa menebak akhir dari kisah ini.

Akhirnya aku terlelap dalam tidurku.

Ke esokan paginya aku terbangun, namun aku tidak mendapati Desi disampingku, aku mencari keseluruh sudut apartmen tapi tak ada. Di atas meja kudapatkan selembar kertas putih bertuliskan "Pagi sayang..Tian, aku ke Jogja hari ini, maaf mendadak.".

"Ada urusan apa ya dia ke jogja, kok mendadak gini", Batinku. Aku berniat untuk menelpon nya, namun kemudian ku urungkan. "Sebaiknya aku mandi dulu".

Selesai mandi, aku memutuskan untuk menelpon Vina dan mengajaknya makan siang.

"hei Vin...lagi dimana? Lunch yux..." kataku dengan penuh harap.

Vina terdiam sejenak sebelum mengiyakan ajakanku. "Jemput aku ya....", pintanya.

"ok beib, C u.." Aku bergegas ke parkiran masuk ke mobil dan melaju kencang. Aku menjemput Vina di tempat kerjanya. Dia masih bekerja, aku melihatnya sedang melayani beberapa tamu. Aku menunggunya sambil duduk dan minum secangkir kopi. Lalu...

Vina menghampiriku. "Bentar ya. Shiftku udah mau selesai koq", katanya. Aku tersenyum dan menganggukkan kepala.

Siang itu jm1 tepat Vina selesai bekerja, kami pergi makan siang di plaza senayan. Siang itu panas sekali,namun terasa sejuk karena ada Vina disampingku. Aku mengambil tempat duduk agak di pojok karena takut jika ada teman Desi yang melihatku.

"Vina, aku ingin mengatakan sesuatu......", aku membuka pembicaraan.

"Iya, kenapa Tian?" Vina menunggu.

Aku terdiam sejenak. "Kamu tau kan kalo aku udah punya pacar?", tanyaku.

Vina terlihat kaget, Dia hanya tersenyum mendengar pertanyaanku. "I know, terus?" katanya.

"Kenapa kamu masih mau aku ajak jalan? Dan kemaren kamu sempat bilang kalau kamu mencintai aku", lanjutku.

"aku seneng aja bisa di deket kamu, makes me comfortable." jawabnya ringan.

"Aku ingin kamu tahu bahwa aku juga merasakan hal yang sama. Aku jatuh cinta padamu. Walaupun sebenarnya di dalam hatiku juga masih ada Desi, pacarku itu".

Vina lalu berkata "Aku juga sama. Itu semua terserah sama kamu Tian. Aku gag mau jadi penghalang diantara kalian berdua, kalo kamu memang memilih Dia.. aku akan pergi jika kamu minta" Aku senang ternyata perasaan ini tak brtepuk sebelah tangan,tapi..

aku gak mau memilih. Aku ingin memiliki mereka berdua. "Vina............. seandainya aku memintamu untuk jadi yang kedua, apa kamu mau?", tanyaku.

Vina tersentak kaget "yang kedua.... tak pernah terlintas dibenakku sedikitpun untuk menjadi yang kedua, tapi perasaan ini terus tumbuh" Vina membatin. "Tian kita jalanin aja dulu ya, aku belum bisa memutuskan." jawab Vina.

"Tapi Vin........... Aku ingin kepastian.... Aku gak mau kita jalanin ini semua tanpa ada ikatan", aku terus mendesak.

Vina hanya terdiam, ia nampak kecewa.

"Kamu minta aku memberi kepastian, tapi kamu sendiri .. lihatlah dirimu. Kamu belum bisa memilih aku atau pacarmu itu", Suara vina meninggi.

"Aku.... aku........ gak bisa memilih. Aku udah bilang kalau aku gak mau kehilangan kalian berdua".

Aku akui memang egois dan kalaupun Vina tidak bisa menerima keadaanku yang seperti ini, aku rela walau sakit, aku memang tidak bisa meninggalkan Desi. Tiba-tiba Vina berbicara, keputusan yang sulit untukku percaya.

"Baiklah kalau memang itu maumu. Terserah kamu mau menjadikan aku yang kedua atau yang keseratus sekalipun. Tapi buatku, saat ini cuman kamu yang ada di hatiku", ujar Vina.

Itulah akhir dari keputusan Vina, dia menerimaku apa adanya, aku salut. Aku lega dan bahagia mendengarnya.

Malam itu Vina nginap di apartemenku. Dan untuk pertama kalinya, aku melakukan hubungan itu dengan wanita lain selain Desi.

Suatu sensasi yang berbeda, sentuhan yang membawaku ke langit 1000 bintang. Kami bercinta, saling memberi dan menerima. Sampai menuju ke puncak gairah.

Itulah awal dari kisahku bersama kedua wanita yang sama-sama aku cintai. Mungkin ini adalah sebuah kesalahan. Tapi bagiku sebuah kesalahan teridah yang pernah kulakukan. TAMAT.


Anda tidak bisa ikut nulis kalau ndak login.