Cerpenista - Ayo Ngarang Gotong Royong!

Register Cerpen Group Top Kontes Forum Login

Le coeur de Sheila

Romans   Peserta Kontes Rasa Ramadan - Kategori Romans, dari regu Passion

Prolog

Api menyala liar. Menutup pandangan mata. Hingga langit terlihat merah membara. Tak ada celah untuk lari.

Dua sosok terlihat berhadapan di puncak sebuah gedung yang terbakar. Saling memandang. Saling mengukur.

Tak bergerak. Tak berkedip. Namun waspada.

Aura kematian mengambang kental di udara . Dan kehadiran malaikal maut terasa sangat menyengat.

Ini,... aroma sebuah duel hidup mati.

Tiba-tiba sambaran lidah api mengoyak dan menggoyang keseimbangan atap puncak gedung tersebut. Keduanya masih waspada.

Serentak, keduanya mencabut pistol yang terselip sejak tadi.

Dor ! Dor ! Dor !

Berlarian, menghindar dan saling membidik, mengarahkan letupan api pencabut nyawa, ke penghujung mangsanya.

Berlarian kembali. Dengan beragam manuver dan taktik.

Dor ! Dor ! Dor ! Argh....

Seorang diantaranya terpental.

Terhuyung, jatuh kebawah. Ditelan lidah api yang tengah membakar gedung.

Wuzzzzz !!!.. Dan hilang ditelan merahnya bara api.

Kemudian api semakin menggila, dan liar.

One man standing is the winner. Other is die. Sosok yang masih berdiri terlihat berjalan keluar dari kepungan api, menuju satu-satunya tangga turun yang belum terbakar.

Sementara dibelakang sana, raksasa merah mengamuk. Melahap apapun yang terlihat.

"Maafkan aku... kau tak memberiku pilihan lain sobat. Aku hanyalah menjalankan tugasku sebagai hamba hukum.. ".

Dor ! Dan pistolpun menyalak kembali.

"Selamat tinggal, Thomas, sobatku..".

Wuuuzzz.... deru angin panas berwarna merah seolah merampas sosok tersebut dari pandangan mentari.

***

Sheila, La belle avocate

Dua tahun kemudian. Kantor pengacara, Lady & Law Firm. Sebuah pembicaraan santai menjelang berbuka puasa di bulan Ramadhan.

"Kau yakin ingin mengambil kasus ini, Sheila ?".

" Sure, pourquoi pas ?".

"Konflik interest nya berat sekali. Client kali ini adalah ex kekasihmu.." kata suara yang tadi bertanya. Suara bariton seorang pria berwajah Timur Tengah. Dia mengamati reaksi lawan bicara didepannya dengan seksama.

Sheila, seorang wanita cantik berusia sekitar 27 tahun. Wajahnya terlihat segar, walau tengah berpuasa. Ia mengenakan setelan blazer kantor. Rambut panjangnya digulung kebelakang atas, menampakkan kulit lehernya yang kuning langsat.

Anak rambutnya terlihat terurai ke depan, menghiasi wajah cantiknya yang terlihat cerdas, bijaksana dan terpelajar. Sementara kacamata mungil yang bertengger diatas hidungnya menegaskan keanggunan diri dan kepribadiannya.

"Bagaimanapun juga, kita harus profesional kan Bos ?" sahutnya.

"Kau serius dengan perkataanmu ?".

"Oui, sure" sahut Sheila dengan aksen Prancis.

"Jadi, ceritakan summary kasus ini menurutmu..".

"Client kita kali ini adalah Raka Samudera, 29 tahun. Seorang agen intelegen polisi yang bertugas di kesatuan anti narkoba. Client diduga telah melakukan pembunuhan terhadap istrinya sendiri, Nita Ariani, dengan menembaknya langsung dikepala.".

Sheila berhenti sejenak, menanti reaksi dari pria dihadapannya.

"Konflik yang muncul ?".

"Aku mencurigai bahwa kasus ini tidak sesederhana yang dilaporkan. Terlalu banyak kejanggalan. Pertama, pistol yang digunakan bukanlah pistol milik Raka. Tidak ditemukan sidik jari Raka di pistol tersebut...".

"..Kedua, uji balistik terhadap peluru yang bersarang, tidak sama dengan pistol yang ditemukan. Ketiga, Raka dalam keadaan tidak sadar saat ditemukan di dekat mayat istrinya. Ini seperti sebuah rekayasa untuk mengkambinghitamkan Raka.." lanjutnya.

"Kau yakin tidak terbawa sentiment pribadi ?" tanya pria itu dengan nada berat.

"Jangan khawatirkan itu, Bos ..".

Diluar sana, berkumandang azan maghrib yang dinanti. Menggema ke penjuru kota, hingga masuk keruangan dimana mereka tengah berbincang-bincang.

"Mari kita berbuka puasa dulu, Sheila".

"Oui, Bos".

***

[Raka dans l'asile d'âme - Raka in Soul Asylum]

Beberapa hari kemudian.

Sebuah soul asylum, rumah sakit jiwa untuk pasien gangguan mental berat, yang berada ditepian ibukota.

"Mari lewat sini, Ibu Sheila..".

Seorang perawat membawa Sheila menyusuri lorong-lorong bernuansa putih kuning rumah sakit itu. Disana-sini terdengar teriakan-teriakan, lolongan dan tawa cekakan para penghuninya.

Masih lekat dalam ingatannya, beberapa hari yang lalu sang Bos memintanya untuk mengunjungi Raka disini, "Pastikanlah, secara professional, bagaimana kondisi Raka. Bagaimana seorang yang dituduh menghabisi istrinya sendiri, bisa begitu tertekan".

Baru nuansa rumah sakitnya saja, sudah cukup membuat Sheila trenyuh.

Mereka terus berjalan, hingga tiba disebuah pintu putih dari besi yang bertuliskan "Pasien Khusus". Dibawahnya ada papan kecil bertuliskan "Lt. Raka Samudera".

"Silahkan, Ibu Sheila".

"Terimakasih".

Sheila melangkah masuk kedalam ruangan itu. Didapatinya Raka tengah duduk bersila dengan pandangan kosong.

Trenyuh Sheila memandangnya. "..Raka..?" Perasaannya campur aduk tak keruan.

"Raka, apa yang telah terjadi padamu?" bisik Sheila terharu.

Sheila berjongkok menatap Raka. Diangkatnya dagu Raka perlahan, mencoba menengok jendela jiwa Raka. Mencari tahu, masihkah ada cahaya kehidupan disana ?

"..Raka...".

Sheila menghela nafas berat. Dia masih ingat, Raka yang dulu penuh semangat hidup. Yang pernah mengisi hari-harinya dengan senyum. Yang pernah memujanya dengan sepenuh hati.

Raka, yang dulu begitu dipuja dan dicintai. Digadang-gadang sebagai siswa prodigy yang akan mengungguli semua lulusan cemerlang diakademinya. Raka yang dulu menjadi idola gadis-gadis di kota dan akademinya.

Raka yang juga menghancurkan hatinya. Raka memilih meninggalkannya . Dan kemudian menikah dengan seorang wanita lain, Nita Ariani.

"Raka, apa yang telah terjadi padamu, sayang ?" bisik Sheila dengan pelupuk mata yang mulai berair.

Sejam lamanya mereka tenggelam dalam keheningan. Tanpa kata, tanpa sapa. Hanya keheningan yang bernyanyi menemani mereka.

Hingga tak disangka-sangka, dalam kegilaannya Raka berucap.. mencoba meraih sedikit langit kewarasan.

"..Nita...".

"....Nita ...." sembari tangannya menunjuk ke arah langit-langit kamar yang berwarna putih.

"..Nita.....tak setia.." tangannya terkulai lemas. Jatuh kelantai. Bersama merembesnya air mata bening Raka.

"... Arthur....".

Sheila menatapnya dengan pandangan tak paham. "Apakah yang kaumaksud, Raka ? Siapakah Arthur ? Apakah Arthur yang dimaksud adalah Arthur atasanmu?".

"Raka, apakah maksudmu Nita sudah tak mencintaimu ? Apakah kau ingin berkata bahwa Nita berselingkuh, dan tak setia ? Apakah maksudmu Arthur terlibat dalam semua ini ?" pikir Sheila mencoba untuk mengerti.

***

Sheila et l'amour de Satria - Sheila and Satria's Love

Selepas Taraweh, di sebuah kafe bernuansa keluarga dibilangan MegaKuningan, Jakarta.

Sheila duduk di pojok ruangan. Dia masih mengenakan blazer kerja berwarna abu-abu. Wajahnya nampak cerah, sementara aroma parfum elegant yang digunakannya semerbak memenuhi udara.

Rambutnya masih seperti biasanya, digelung keatas dengan anak rambut yang menghias kedepan, laksana artis pop Korea. Sebuah narasi seorang wanita yang tengah bersukacita menyambut kencannya.

"Bonjour ma jolie Madame, Sheila...".

Sheila menoleh dengan cepat. Senyumnya mengembang lebar. "Bonjour, beau .. Dasar kau perayu, Satria...".

Pria bertubuh jangkung itu tersenyum dan mengangguk. Rambutnya yang gondrong dibiarkan terurai. Sementara jaket yang dikenakannya adalah jaket sport ala mahasiswa, yang bertuliskan UCLA.

"Satria... senang kau bisa datang.." ucap Sheila dengan lembut. Matanya yang bulat bening tu menatap pria yang selalu nampak seperti mahasiswa tersebut dengan penuh kekaguman mesra. Pandangan seorang wanita yang tengah jatuh cinta.

"Akan selalu ada waktu untukmu, Sheila. Kupikir aku tadi terlambat. Sudah lama menunggunya?".

"Tidak, aku sholat taraweh sendiri dulu di kantor tadi. Bos sedang mood melakukan buka puasa bersama seluruh staffnya di kantor..", katanya sambil tertawa. "Dan kebetulan, aku perlu lembur untuk menyelesaikan beberapa kasus.".

"Lembur ? Berdedikasi sekali. Kau memang luar biasa, La belle avocate, Sheila...".

"Kau suka sekali menyanjungku Satria. Aku sudah kebal rayuan gombalmu.." tukas Sheila sambil mengerling manja menggoda. Tangan kirinya memegang tangan kanan Satria yang diletakkan diatas meja.

Satria tersenyum mesra. Dan balas membelai sentuhan tangan Sheila tersebut.

"Bagaimana bisnismu Satria ?".

"Fine... profit tetap, namun usaha bertambah besar." sahutnya sambil nyengir. Dibelainya kembali tangan lembut Sheila yang masih menyentuhnya.

"Bagaimana bisa ? Ah.. kau masih dalam idealisme mu untuk mengangkat derajat orang kecil ya ? Apakah semua perluasan usahamu itu semata-mata hanya untuk menampung orang lain bekerja ?", goda Sheila sambil mencuil dagu Satria.

"Ahahaha.. aku tak sebagus itu Sheila..." sahut Satria sambil tertawa salah tingkah.

"Heee.. kau tersipu malu. Kenapa tak kau syukuri saja pujian dari wanita yang kau cintai ini, Satria ?" goda Sheila sambil tertawa geli. Ya, Sheila sangat menyukai respon Satria yang malu-malu salah tingkah kala digodanya.

Dan Sheila tahu pasti, hanya pernah ada satu wanita dalam hidup Satria. Hanya Sheila. Dan Sheila.

"Hahaha aduh gimana ya ? biasa aja deh. Tapi mengenai cinta itu, beneran. Aku cintai kau Sheila." tatapan mata Satria menjadi serius, namun lembut, penuh sayang. Cara pandang yang sangat disukai Sheila.

"Ohya, ?" kerling Sheila menikmati godaannya. "Senang mendengar kalimat itu terungkap dari seorang pria yang juga pengusaha humanis macam dirimu, Satria.".

"Senang mendengar seorang pria penyayang sepertimu mengatakan itu padaku...", ungkap Sheila sambil memberikan senyum termanisnya pada Satria. Wajahnya kini merona merah.

"Kuanggap komentar itu sebagai tanda penerimaan atas cintaku ya ?" sahut Satria dengan wajah jenaka. "Aku bahagia lho.. Sheila, dicintai olehmu, wanita idamanku..".

"Terserah kau. Satria.." tukas Sheila sambil tertawa. Wajahnya merona panas. Dia membuang wajahnya kesamping kanan. Menghindari tatapan lembut Satria yang membuat jantungnya berdetak kian kencang. "Dirimu mudah GR... " ungkapnya sambil berbohong.

"Aku tak keberatan dianggap GR. Sheilaku adalah cintaku. Nafasku dan hidupku..." sahut Satria menanggapi sikap jinak-jinak merpati yang ditunjukkan Sheila.

"Ugh.. Perayu ...!!" potong Sheila sambil pura-pura merajuk.

Satria tertawa lembut. Tangannya diturunkan satu, dimasukkan kedalam saku jaketnya. Seolah mencari sesuatu.

"Tentu saja, Sheila ! Aku pria normal, dan pasti kuungkapkan perasaanku terus terang. Selain itu, aku juga tak pernah ragu dalam mengambil langkah..." rayu Satria kembali. Kini tangan kirinya menggenggam jari manis Sheila.

Wajah Sheila merah merona. Sekujur tubuhnya terasa panas dingin. Dan detak jantungnya kian tak menentu. "..Satria.." hanya itu saja respon Sheila. Kali ini senyumnya mungkin lebih mirip gadis belia yang baru pertama kali jatuh cinta.

"Satria .... apa yang telah kau lakukan pada hatiku ? " keluhnya pasrah. Pelan, berbisik. Lemah tanpa daya lagi.

"Namun seberapa tangguhkah dirimu melangkahkan kaki bersamaku, Satria ?" tanya Sheila dengan suara serak. Matanya sedikit berkaca-kaca.

Satria tersenyum lembut. Sangat lembut. Matanya menatap Sheila dengan teduh.

Sheila seolah menemukan oase yang dirindukannya selama ini. Detak jantungnya seolah menggema, bergemuruh didalam jiwanya.

Perlahan dan tanpa disadari Sheila, Satria telah menyematkan sesuatu dijari manis Sheila. Sesuatu yang mungil dan berkilau indah. Sesuatu yang melambangkan ketulusan dan kesungguhan cinta Satria kepada Sheila.

"Aku tak akan mengecewakanmu, Sheila..".

Sheila terkejut setengah mati. Ditatapnya jari manis yang kini telah tersemat sebuah cincin emas bertahtakan berlian. "...Satria ..???".

"Yah... aku melamarmu untuk menjadi istriku.. Bersediakah kau, Sheila, menikah denganku ? Mendampingiku dalam suka dan duka ? Mungkin aku tak terlalu bisa membuatmu bahagia, namun aku tahu cara membuatmu tersenyum..." tukas Satria lembut namun tegas.

Sheila terpekik pelan. Kedua bola matanya membelalak. Dan sebelah tangannya yang tidak tersemat cincin menutup sebagian bibir indahnya. Tak lama, beberapa butir kristal bening nan hangat turun membasahi pipi indahnya. Airmata bahagia.

"Satria.. Satria..." hanya itu kata-kata itu saja yang terucap dari bibir manis Sheila. Jiwanya terasa hangat. Seolah ada bagian dari dirinya yang telah kembali utuh.

Dalam temaramnya lampu kafe, kedua insan yang duduk saling berhadapan tersebut saling memandang. Hanya tatapan, tanpa pelukan. Namun sepasang mata yang merupakan jendela jiwa, telah bicara seribu makna.

Ya, sebuah cinta telah berpadu. Sebuah cinta di bulan Ramadhan, bulan cinta dan kasih sayang..

***

Le masque d'Arthur - The mask of Arthur

Sebuah kafe dibilangan Mall Bekasi, Siang Hari di bulan Ramadhan.

Sebagai seorang wanita, Sheila memperoleh periode yang membebaskannya dari puasa Ramadhan disiang hari. Dan masa ini dimanfaatkannya untuk bertemu dengan Arthur. Ada sesuatu yang diam-diam, ingin dikonfirmasikan pada Arthur.

Tentu tak mudah untuk menemuinya, namun atas bantuan Bang Rizal, sang Bos Sheila, pertemuan dengannya bisa diatur. Diam-diam Sheila mengakui kehebatan lobi dan lingkaran kolega Bang Rizal, yang mampu memaksa Arthur, seorang pejabat tinggi, menemuinya.

"Pagi Pak Arthur".

"Sheila yang cantik, senang bertemu denganmu. Bang Rizal memintaku untuk bertemu anda. Katanya ada beberapa hal yang ingin kau tanyakan ? Silahkan to the point, waktuku tak banyak." sahutnya sedikit ketus.

"Seperti yang kuduga," batin Sheila berkata. "Orang ini sulit sekali.".

Sheila mengambil sikap santai. Dipanggilnya seorang waitress untuk memesan menu, menghindari seringai tajam riak tak beratur di raut muka Arthur.

"Saya tahu pak. Waktu bapak tak banyak. Ijinkanlah saya mulai bertanya." kali ini Sheila memasang muka tegas dan dingin. Tak ingin berkompromi dengan psy-war yang dilancarkan Arthur.

"Baik... Silahkan !".

"Mengenai Raka Samudra, pak ..".

"Oh iya… dia ya ? Yang menembak istrinya sendiri itu ya ? Hmm… dia adalah seorang anak buah yang cemerlang. Bisa di bilang dia prodigy. Dulu kami memiliki dua orang andalan seperti itu. Mereka berdua adalah tim yang kompak .." jawab Arthur.

Arthur berhenti sejenak untuk membalas sms. Kemudian dia melanjutkan, "Mereka berdua adalah tim yang kompak dalam membongkar kejahatan sindikat-sindikat di negeri ini. Spesialisasi mereka berdua adalah penyamaran".

"..Sayangnya, Thomas, rekan dari Raka itu larut dalam tugas-tugasnya. Dan tak berapa lama, dia telah berada di jalur yang benar-benar berseberangan dengan kami... ".

"Singkat cerita, dalam sebuah penggerebekan, Raka terpaksa harus berduel dengan mantan partnernya sendiri, Thomas. Thomas tertembak dan jatuh ke dalam kobaran api. Beberapa hari setelah itu..".

"..baru dapat di konfirmasikan bahwa Thomas tewas dengan jasad yang tidak dapat dikenali kembali".

"..Sepertinya hal itu membuat membuat shock Raka. Dalam stressnya, dia memboyong keluarganya ke Palembang. Dan disana, menembak mati istrinya...".

Kening Sheila sedikit berkerut mendengar penjelasan tersebut. Mengapa sepertinya terdengar langsung menjatuhkan vonis kepada Raka dan Thomas ?

"Bagaimana dengan Nita Ariani, almarhum istri Raka, Pak Arthur ?".

"Oh iya, dia bekerja sebagai perawat. Seorang wanita yang menarik dan menawan. Sayang sekali ia salah memilih pria. Raka bukanlah pria yang tepat baginya." sahut Arthur acuh tak acuh.

Kening Sheila kembali berkerut. Sepercik rasa tak suka mulai terbit dihatinya terhadap Arthur. Namun, sekuat tenaga, diredamnya rasa itu.

Dianalisanya gerak tubuh Arthur. Bahasa tubuh yang mungkin tak disadari Arthur selama berbicara. Gerak mata, posisi badan, tangan, kaki dan semua gerakan yang mungkin tak disadari Arthur. Itu adalah refleksi alam bawah sadar, yang akan sulit ditutupi.

Sheila faham itu. Dan dia tahu, sekalipun Arthur berkata jujur, ada bagian lain yang tidak diceritakannya secara terbuka. Ada sesuatu yang harus digali lebih lanjut. Ada kegelapan yang berusaha disembunyikannya.

"Maafkan aku Ibu Sheila. Waktuku habis, sampaikan salamku pada Bosmu, Rizal, ya" tiba-tiba Arthur menghentikan sesi wawancara tersebut.

"Baik Pak, terimakasih atas waktunya, Biarkan saya handle bill disini.".

"Terimakasih kembali. Saya permisi.".

***

Lame des avocats - Blade of Lawyers

After Office hour, menjelang buka puasa bersama.

"Gimana hasil ketemuan dengan Arthur ?" tanya Rizal dengan suara baritonnya.

Sheila mengangkat alisnya, "Bos, tak banyak info yang bisa kugali darinya. Namun aku merasakan bahwa dia menyembunyikan sesuatu..".

"Hmm.. seperti?" tanya Rizal dengan sedikit memperbaiki posisi duduknya.

"..Seorang petinggi selevel dia, aku rasa bakal memberikan informasi yang obyektif, base on fakta akurat yang terekam. Namun dia lebih banyak mengutarakan pendapat subyektifnya..." lanjut Sheila menandaskan.

Kemudian Sheila menyalakan rekaman percakapannya dengan Arthur tadi siang.

"Oooo..." Bos Rizal mengangguk-angguk menyetujui intuisi Sheila, beberapa kali dahinya berkerut mendengar suara percakapan Sheila.

"Ya, intuisiku mengatakan hal yang sama. Ada apa gerangan dengan dia ?" komentar Rizal sambil tersenyum.

Sheila ikut tersenyum.

"Jadi apa rencanamu selanjutnya, Sheila ?".

Sheila menggeleng lemah. Wajahnya tampak lelah. "Rasanya emosiku sudah mengambil alih focus kerjaanku kali ini Bos, sorry".

"Kalau begitu kau kucutikan." jawab Bos Rizal tegas.

"Bos ???" Sheila terkejut setengah mati.

"Tenang, akan ku atur agar kau bisa mengajak Raka ke Palembang, tempat kejadian pembunuhan itu. Mungkin Raka bisa memberi petunjuk. Dan lagi, sebagai ex-lover mungkin kau bisa menyentuh hatinya. Maaf bila aku melanggar privacymu...".

Sheila menjawab lemah, "..aku mengerti. Ini satu-satunya jalan. Terimakasih, Bos".

Tiba-tiba ponsel Bos Rizal berbunyi. Tiit.. Tiiit..

"Haloo, Ini Rizal... Ya ?.... Okey ? Berkas sudah P1 ? Baik.... baik... ya... siapkan dimejaku copynya segera..ya..?".

Suara penelepon terdengar lirih di telinga sheila.

Tak lama, Rizal menutup ponselnya sambil tersenyum. "Sheila, semua bukti, alibi dan analisa atas keterlibatan Arthur sudah ada ditanganku. Team kita sudah menemukan keterkaitan bukti yang kuat dan tak terbantahkan...".

"..Karena itu, Aku mantap untuk memenjarakan Arthur. Aku akan menuntut Arthur atas tuduhan pembunuhan berencana terhadap Nita Ariani...".

"Boss ???" Sheila kembali terkejut.

Suara adzan terdengar menggema dikejauhan. Saatnya Maghrib dan berbuka puasa.

"Yeah.. aku tahu. Aku juga profesional, koq. Namun jangan sampai sikap professional itu mematikan nuranimu sebagai hamba hukum. Bukan begitu, Sheila ?" tukas bos Rizal sambil tersenyum, menutup pembicaraan. "Berbuka dulu yuk..".

***

Romance dans un avion - Romance in a plane

Seminggu kemudian, masih di dalam bulan Ramadhan. Di Sebuah penerbangan menuju Palembang.

Sheila duduk disamping Raka. Wajah Raka masih nampak dingin dan tak mengenali siapapun, tanpa emosi. Sementara disamping Raka adalah seorang ahli jiwa yang sangat dipercaya kantor Sheila.

Berita ditahannya Arthur, seorang pejabat senior atas pembunuhan berencana begitu hangat tersebar. Media masa meng-ekspose-nya habis-habisan sebagai sebuah skandal criminal yang memalukan.

Sheila menurunkan koran yang dibacanya. Berita itu, dia sudah jauh lebih memahami, ketimbang koran yang menulisnya.

Diliriknya Raka yang masih terdiam, duduk mematung tanpa ekspresi.

"Raka..".

Raka hanya melirik tanpa ekspresi.

Sheila mencoba berkomunikasi dengan kesadaran Raka. Ia berbisik, sehingga suaranya hanya cukup terdengar Raka seorang saja.

"Apa yang telah terjadi padamu, Raka ?" mata Sheila yang teduh mulai berbinar basah.

"..Kemana senyummu yang menawan dulu ? Pandanganmu yang teduh ?..".

"..Kemana perasaan aman dan damai yang dulu kurasakan saat berdekatan denganmu ?..".

"..Raka..".

"..Mengapa melodi masa lalu itu selalu berkumandang saat kumelihatmu Raka ?..".

"..Ya Raka, kutahu, kau pernah menghancurkan hatiku. Kau memilihnya ketimbang aku. Namun aku tak marah Raka.. Bagaimanapun, dia adalah pilihanmu, Raka..".

"..Aku tak tahu apa yang telah dilakukannya padamu.. Dan aku juga tak tahu apa yang telah terjadi diantara kalian, sehingga membuatmu seperti ini...".

"..Namun, aku tak tahan melihatmu seperti ini Raka, kalo bisa ….....".

"...kuingin bersamamu. Dan menjagamu... hingga waktuku atau waktumu menjemput...".

"..kau dengarkah,.. Raka ..? " wajah Sheila kini telah basah bersimbah air mata.

Dan tanpa sepengetahuan Sheila, setetes bening airmata meluncur turun dari kelopak mata Raka. Melintasi wajah Raka yang dingin tanpa ekspresi.

Sementara Sheila, luruh dalam tangis sepinya.

***

Lever de soleil dans la ville de Palembang - Sunrise in Palembang city

Seminggu setelah kedatangan mereka di Palembang.

Pagi itu Sheila dan Raka tengah berada diatas kapal Putri Kembang Dadar. Mereka tengah menuju ke Pulau Kemaro, sebuah pulau indah yang banyak menyimpan warisan kekayaan budaya Tionghoa.

Sheila membasuh keringat yang membasahi wajah Raka dengan lembut dan penuh perhatian.

"Raka.. kuingin tahu apa sebenarnya yang berkecamuk di batinmu..." bisik Sheila mesra ditelinga Raka.

"Seminggu sudah kita bersama. Namun dirimu tak jua muncul ke permukaan kesadaranmu, Raka" lirih mesra ucapan Sheila di indera pendengaran Raka. Digenggamnya tangan Raka dengan mesra, walau tangan itu tak lagi memberikan kehangatan seperti dulu lagi.

".. kau tahu Raka.. saat ini kau bisa menganggapku sebagai pengganti istrimu...".

".. tidakkah kau dengar ucapanku Raka ? Tidakkah ucapanku menggapai bilik persembunyian jiwamu saat ini ..?".

".. lihatlah album foto ini Raka.." belai cumbu Sheila sambil menyodorkan sejilid lembaran album foto kepada Raka. "Kau tampak tampan dan bahagia saat itu.".

"Lihatlah Raka... betapa kau tersenyum saat menggandeng Nita, istrimu, dalam busana pernikahan.".

"Kutahu, aku tak bisa apa-apa saat itu Raka. Aku sedih, dan kau bahagia..".

"..Namun.. tidakkah kau ingat saat-saat bahagia itu, Raka ?".

"..ya, Raka ?".

Angin berlalu, berhembus mengacaukan tatanan rambut Sheila. Menampakkan wajah cantiknya yang sedari tadi tersembunyi jatuhan rambut hitam lurus dan panjang.

Raka masih terdiam laksana arca masa lalu.

Tetap dalam kurungan jiwanya.

Dan Sheila menghembuskan nafas berat. Nampak jelas ia merasa sangat gundah gulana.

Sheila merasa sepi sendiri.

Namun ia masih tersenyum menatap wajah Raka.

Dua belas menit kemudian kapal berlabuh.

Kapal mereka telah menggapai daratan Pulau Kemaro yang indah. Pulau yang banyak memiliki pagoda dan altar nan cantik. Sebuah pulau wisata religi di sana.

"Raka, mari kubimbing dikau. Akan kita kunjungi tempat-tempat cinta bersemi yang dulu pernah kau tengok bersama Nita, istrimu tercinta. Mari sayang..".

Angin sungai Musi kembali berhembus perlahan. Membelai wajah Sheila dan Raka. Seolah menyeka semua duka nestapa yang bertahta.

Sheila tersenyum sendiri. Dalam hati, ia mengakui bahwasanya Raka adalah seorang pria yang romantis. Terutama dengan pilihan Raka untuk berlibur ke pulau Kemaro, pulau yang terkenal dengan legenda cinta abadinya.

Para tetua di Palembang berkisah, bahwasanya dahulu kala ada seorang pangeran dari negeri Tiongkok yang berniat meminang putri raja Palembang, Putri Fatimah.

Adat meminang kerajaan yang berlaku di negeri Tiongkok saat itu adalah mengirimkan mas kawin sejumlah 9 guci emas.

Kaisar Tiongkok yang arif bijaksana sadar, bahwasanya membawa mas kawin melalui jalur laut adalah hal yang beresiko tinggi. Terutama karena rawan dari incaran pada bajak laut di masa itu.

Karena itu beliau memutuskan untuk menutupi emas batangan dalam guci-guci tersebut dengan sayur-mayur. Ini demi mengelabui para bajak laut.

Sayangnya, Pangeran Tan Bun An tidak mengetahui hal ini.

Ketika sampai di muara sungai Musi, pangeran secara tiba-tiba ingin mengetahui apa isi guci-guci yang dibawanya tersebut. Dengan penuh ingin tahu, dibukanya salah satu guci tersebut.

Betapa malu Pangeran Tan Bun An, saat mengetahui isi guci tersebut adalah sayur mayur.

Murka karena malu akan kehilangan muka didepan mertuanya, dia membuang semua guci-guci tersebut ke sungai Musi.

Namun, salah satu guci terjatuh di geladak kapal dan pecah berkeping-keping. Maka berhamburanlah ribuan emas batangan yang disembunyikan sang Kaisar.

Terkejut karena menyadari kesalahannya, Pangeran Tan Bun An langsung terjun kedalam sungai untuk mengambil kembali guci-guci tersebut didasar sungai. Tindakan ini diikuti pula oleh ajudannya.

Sayang, pada akhirnya pangeran dan ajudannya tak juga muncul dari dasar sungai.

Hal ini membuat putri Fatimah yang sangat mencintai Tan Bun An menjadi sedih dan putus asa. Dia memutuskan untuk mencari Tan Bun An ke dasar sungai. Keputusan ini diikuti oleh dayangnya.

Beliau bertitah, apabila nanti dia tidak keluar dari dasar Sungai, maka akan muncul gundukan tanah besar dari dasar sungai yang menjadi kuburan mereka.

Hingga akhir kisah, baik putri Fatimah, dayangnya, pangeran Tan Bun An maupun ajudannya, tak pernah keluar lagi dari dasar sungai Musi. Sang putri benar-benar telah menyusul cintanya pada Pangeran Tan Bun An hingga ke alam lain.

Sheila tersenyum mengingat kisah cinta sejati itu, sebuah kisah romantis yang setara dengan roman Romeo dan Juliet dari bumi pertiwi.

"..Mungkinkah.., saat ini aku adalah sang putri Fatimah ? dan Raka adalah sang Pangeran ?" tanya batinnya sambil tersenyum.

Mendadak, wajah teduh Satria berkelebat dibenak Sheila. Wajah teduh yang selalu membuat Sheila salah tingkah setiap bertemu. Wajah teduh yang telah melamarnya beberapa minggu yang lalu. Entah kenapa, saat ini wajah Satria membayang kembali.

"Satria, apa yang kaulakukan disana sayangku ? " keluh Sheila dalam hatinya. Segumpal penyesalan dan rasa bersalah menyesak dibenaknya. "Maafkan aku yang masih terjebak dalam lingkaran perasaan masa lalu...ku mohon.. pahami aku, sayangku Satria".

".. masih ada yang harus kulakukan disini... pada Raka..Kumohon maafmu sekali lagi, kali ini wajah hatiku harus berpaling darimu, Satria...".

Raka atau Satria ? Siapa yang harus kupilih, batin Sheila mengeluh perlahan. Raka yang sudah menyakiti masalaluku, atau Satria yang begitu easy going dalam menjalani hidup ?

Sesaat, bayang lembut wajah jenaka Satria yang berambut gondrong terlihat membayang lagi di pelupuk matanya.

"Satria... kau putih seperti awan pagi...", senyum Sheila dalam hati.

Diliriknya kembali Raka yang masih berwajah dingin membeku.

"..Raka..".

Tak terasa, langkah kaki mereka telah memasuki keramaian pulau Kemaro. Ada banyak sekali keriuhan disana, maklum, Ramadhan ini bertepatan dengan perayaan Hokian.

Riuh rendah bunyi tambur tiba-tiba memenuhi udara.

Sheila dan Raka menoleh.

Tarian rancak barongsai terlihat beratraksi memenuhi pandangan mata. Meliuk-liuk, berputar dan berloncatan. Semua dengan irama yang serasi. Dalam hentakan yang memadu.

Atraksi yang luar biasa sekali.

Seluruh mata yang ada disana terpana.

Sheila terpukau dan terpikat menyaksikan atraksi tersebut. Kemudian bertepuk tangan dengan kagum. Berdecak dan bersorak, memberikan apresiasi pesona.

Dimelirik wajah Raka. Sepertinya, Raka mulai menunjukkan tanda-tanda sebuah ekspresi. Bola matanya mulai berputar mengikuti kemana barongsay itu bergerak.

Sheila tersenyum. Susah payahnya mulai mekar berbunga. "Raka... sayangku... ingatan mu mulai terbuka, sayang?".

Sheila menggandeng tangan Raka untuk mendekat kesebuah Pagoda. Disana pemandangannya lebih enak untuk dilihat.

Dan dipojok Pagoda, dekat altar, terlihat seorang tukang petasan tengah sibuk berkutat dengan barang-barangnya.

Duar... !!!

Sebuah petasan meletus.

Beberapa nonik dan sinyo kecil yang menjadi turis disana bersorak riang. "Lagi paaaak...".

Duar... !!!

Duar.... !! ..tratatatatataa... Duar !! Atraksi petasan yang menarik dan bising.

Sheila tertawa dan bertepuk tangan riang. Beberapa kali kamera di jepretkannya kepada atraksi tersebut.

Tanpa Sheila sadari, perubahan di wajah Raka kian nampak. Rasa takut dan khawatir tergambar jelas di wajah Raka.

Tiba-tiba,...

"Nita.....awaaaaaaaaasssss... !!!" teriak Raka sambil berlari kearah tukang petasan tersebut.

"Raka..." terkejut Sheila melihat reaksi Raka yang tidak disangka-sangkanya. Tanpa bisa dicegah lagi, Raka sudah berlari menjauh dari dirinya.

Dalam sekejap, Raka sudah berkelebat kearah tukang petasan tersebut.

Sang tukang petasan nampak asyik, mulai memicu kembali petasannya. Dia sama sekali tidak menyadari kehadiran Raka,

Tanpa disadarinya, lengan kekar Raka sudah mencengkeram tangan tukang petasan tersebut.

"Hey... apa maumu ???" protes tukang petasan tersebut.

Raka tak menjawab. Tangannya masih mencengkeram tukang petasan tersebut. Ia berkeras, seolah mencegah tukang petasan itu melecut kembali petasannya.

"Jangan tembak.. jangan tembak.." pinta Raka dengan suara memelas.

"Apa yang tembak hah ???? ini cuman petasan, tolol !!" maki tukang petasan itu.

Kemudian terjadilah adu otot diantara mereka. Saling mempertahankan apa yang dimaunya. Saling ngotot dan tak mau mengalah.

Dan mereka lalai, bahwasanya ada petasan lain yang telah tersulut, telah terlepas dari genggaman tangan tukang petasan.

Lalu jatuh kembali ke keranjangnya. Bersama ratusan petasan-petasan lain.

Tanpa bisa dicegah..

Duarrrr !!! BUUUUMMMMM.... !!!!!

Ledakan membahana.

Semua orang terkejut dan menoleh.

Sheila pucat pasi.

Tubuh Raka terlempar beberapa meter. Begitu juga halnya dengan sang tukang petasan.

"Rakaaaaa......" teriak Sheila cemas.

Khayalak ramai segera berkumpul. Mengerubungi tubuh dua orang yang tergeletak tak berdaya di lantai altar.

Wajah Raka terlihat gosong menghitam.

Tangan dan perutnya terluka bakar. Lukanya terbuka. Darahpun mengalir membasahi hem kelabunya.

"Rakaaaaaaaa.....".

Sheila menghampiri Raka yang masih tergeletak di lantai altar. Jantungnya berdetak tak menentu. Ia cemas bukan kepalang.

Perlahan, bibir Raka bergerak-gerak..

"Nita... jangan mati.. jangan mati sayang... hiduplah....".

Sheila memangku kepala Raka dipangkuannya.

"Ya, Raka sayang, apa yang kau maksudkan ?" tanyanya sambil sesenggukan. Airmatanya deras mengalir. Membasahi kelopak mata, wajah... dan kemudian turun jatuh... menimpa kelopak mata Raka.

Perlahan, kelopak mata Raka terbuka. Terkejap sesaat. Kemudian pupil matanya membuka, terfokus pada wajah menangis Sheila.

"She....i...la.....? K...kau.... kau...... disini ?".

Sheila terkejut mendengar Raka memanggil namanya. Sudah seminggu lebih ia menanti panggilan tersebut. Tanda bahwa Raka mulai bereaksi pada sekitar.

"Kau... kau sadar Raka.. ?".

Raka tersenyum tipis.

"Sheila... rupanya kau yang selama ini menjagaku..?".

Sheila mengangguk dengan haru. Wajah menangisnya kini terhiasi oleh secercah senyum bahagia.

"Ya sayang... ya... kau sudah ingat semua yang terjadi ?".

Raka mengangguk sambil tersenyum kesakitan.

"Maafkan aku yang telah membuatmu cemas dan repot mengurusiku...".

Sheila menggeleng dengan cepat. Tetes airmatanya bercipratan kesana kemari.

"Aku sudah kembali Sheila... terimakasih atas semua perhatianmu..".

Sheila tertawa bahagia. Sangat bahagia sekali. Dan dunia terasa begitu indah dirasanya.

"...terimakasih juga,.... Raka..".

"..dan.. selamat datang kembali, Raka...".

***

Café des diables - Cafe of the Devils

Rabu Malam, sekitar pukul 22:00. Dua minggu setelah Sheila dan Raka kembali dari Palembang.

Selepas menunaikan sholat Taraweh, Rizal menelepon Sheila dan Raka, meminta mereka berdua untuk bertemu. Menurutnya, ada pembicaraan enam pasang mata yang harus dilakukan segera.

"Kuharapkan kesediaan kalian untuk hadir. Ada hal penting yang harus kita bicarakan. Malam ini, di cafe Bojangles, jam sepuluh, ya ?".

"Oui, Bos" sahut Sheila sambil menutup pembicaraan. Otaknya berputar-putar. Tidak biasanya Rizal bersikap seperti ini. Pastinya ada hal yang luar biasa pentingnya.

Sheila membasuk mukanya dengan air wudlu. Ramadhan ini, luar biasa sekali.

Dikenakannya busana standar kerja yang biasanya. Kali ini dia memilih menggunakan blazer coklat gelap dengan celana panjang hitam. Rambutnya masih digelung keatas dengan kacamata bening yang bertengger manis di atas hidungnya.

Suara tadarus masih belum lagi usai berkumandang dari pengeras suara Masjid. Sheila melangkah meninggalkan rumahnya di kawasan Bintaro menuju tempat pertemuan. Tak lupa, di sms-nya Satria, mengabarkan kondisi dirinya.

Pria itu sering bingung bila tidak menerima kabar darinya disetiap saat dia ingat, pikir Sheila sambil tertawa.

"Luar biasa sekali, memiliki seseorang yang sangat perhatian pada ku" ucapnya perlahan, membaca isi smsnya tersebut. Kemudian ia menekan tombol send.

Perlahan, Honda Jazz silver miliknya meluncur melewati kompleks perumahan yang mewah dikawasan Bintaro. Satu dua kali disapanya beberapa satpam yang melambai ramah kepadanya.

Otak Sheila kembali berputar pada kasus yang tengah digarapnya. Masih gelap, walaupun Arthur sang pembunuh Nita sudah ditahan dan Raka sudah sadar dari hilang ingatannya. Penyebab terbunuhnya Nita masih merupakan misteri.

Mengapa Nita harus terbunuh ya ?

Keterangan Raka dan Arthur saling bertentangan. Apalagi dengan bukti-bukti yang berserakan sejauh ini.

Sheila menghembuskan nafasnya beratnya.

Nita.. nita...

Ah... tak lama aku mengenalmu, bisik Sheila.

Dengan mood yang sedikit berubah, Sheila memperlambat laju kendaraannya. Dia merasa sedikit enggan datang ke tempat yang diminta bosnya.

Suasana malam Jakarta dibulan Ramadhan nyaris tak berubah dibanding malam-malam yang lain. Jalanan masih ramai dan lampu-lampu temaram kota bercahaya laksana kunang-kunang buatan.

Duapuluh tiga menit kemudian, sampailah Sheila di Cafe Bojangles.

Cafe ini berlokasi agak menjauh dari jalan utama. Suasana nya agak sepi. Namun dilihat dari pengunjung Cafe yang datang, jelas terlihat bahwa Cafe ini cukup spesial. Beberapa pejabat tinggi terlihat tengah berbincang santai didalam.

Bos Rizal terlihat sudah menunggu di dalam. Dia mengenakan kaos berkerah berwarna biru tua dengan celana panjang hitam.

Disampingnya Raka yang tengah asyik menyedot kreteknya. Dia terlihat santai sambil menonton tayangan sepak bola di layar lebar cafe itu. Raka mengenakan kaos Manchester United dipadu dengan jeans biru.

Kursi untuk Sheila terlihat sudah dipersiapkan. Didepannya nampak kue keju dan secangkir teh cina telah tersaji dengan rapi.

"Sheila.. kemari.." lambai bos Rizal kepadanya.

"Halo Bos ! merci beaucoup, Terimakasih telah mengundangku. Hay Raka, gimana kabarmu ?" sapa Sheila ramah kepada semuanya. Dengan santai, ia mengambil duduk yang telah dipersiapkan sedari tadi.

"OK, terimakasih semua atas kedatangannya." Wajah Rizal terlihat sangat keruh dan serius. Sikap tubuhnya seolah mengatakan bahwasanya ia ingin diperhatikan seratus persen.

Bisa jadi apa yang akan dia sampaikan nanti adalah sesuatu yang menentukan hidup mati seseorang.

Raka merubah sikap duduknya. Wajahnya kini ikut serius memperhatikan Rizal. Begitu pula Sheila. Dia mulai bersikap serius.

"Begini semua,.. barusan saya memperoleh kabar serius..." ucapnya sambil memperhatikan wajah keduanya. "..bahwa Arthur barusaja melarikan diri dari tahanan setempat!".

Wajah Sheila terlihat terkejut. Sementara Raka hanya merubah mimik wajahnya sedikit.

"..tak hanya sekadar lolos. Senjata api yang digenggam aparat yang berjaga disana juga ikut raib...".

"..dan yang lebih mengherankan lagi, tak ada saksi mata yang mengetahui kapan dia lolosnya. Tak ada jejak yang tertinggal..".

"..serta.. tempat tinggalnya yang sebelumnya telah disegel polisi, telah diacak-acak. Tekel rumahnya dicongkel, seolah mengambil sesuatu dari dalam sana...".

Kini berganti wajah Raka yang pucat. Seolah petir dilangit telah menyambar selembar raganya, tanpa ampun.

"No way...".

"Ada apa Raka ? Apa yang membuatmu gusar..?".

Raka terlihat menenangkan dirinya beberapa saat. Wajahnya pucat dan keringat dingin membanjir. Beberapa kali dia terpaksa mengambil nafas berat.

"Ada beberapa hal yang harus kuceritakan.. Pertama, kaburnya Arthur dari sana adalah hal yang wajar. Tak sulit baginya untuk melarikan diri dari tahanan dengan tingkat pengawasan serendah itu...".

"..Lagipula, Arthur adalah instruktur jenius yang mendidikku dan mendiang Thomas..".

"..Kedua, hilangnya senjata api milik penjaga. Suatu hal yang seharusnya tak perlu dilakukan Arthur, bila ia kabur hanya dengan tujuan melarikan diri. Hilangnya senjata api milik penjaga ini sepertinya disengaja. Dengan kata lain, ..".

"..Arthur punya rencana dengan senjata tersebut. Besar kemungkinan, senjata itu akan dipergunakannya untuk menumpahkan darah. Melihat logika berpikir Arthur, mudah ditebak bahwasanya yang akan menjadi target dia kali ini adalah, aku!" gemetar Raka.

Baik Rizal maupun Sheila, keduanya sama-sama terkejut mendengar penjelasan tersebut.

"Ketiga. Tekel rumah Arthur yang tercongkel, aku yakin pelakunya adalah Arthur sendiri. Sejak lama aku tahu, Arthur menyembunyikan senjata api ilegalnya dengan cara seperti itu...".

"..dan kalian tahu, apa yang disembunyikan Arthur disana ? ".

Rizal dan Sheila memandang wajah Raka dengan pandangan sangat tertarik. Menanti penjelasan lebih lanjut dari Raka.

"Sepasang Beretta Full Size model 92 yang menjadi pistol standar militer Amerika. Aku yakin dia juga menyembunyikan beberapa unit peledak dan magazin.".

"Jadi,.. bisa dikatakan dia akan all out mengejarmu, begitu ?" tanya Rizal menandaskan.

"Mengapa dia begitu bernafsu mengejarmu ? Apa yang dia incar ? Apa yang telah kau lakukan padanya ?" berondong Rizal kepada Raka.

Raka nampak tak siap dengan pertanyaan tersebut. Untuk beberapa jenak lamanya dia terdiam membisu.

Hingga akhirnya nampak bahasa tubuhnya menjadi lebih rileks. Senyum pasrah terlihat menghias wajah pucatnya.

"Bos Rizal, harus kuakui bahwa anda adalah lawyer jempolan. Tak ada yang bisa kusembunyikan dari Anda.." aku Raka.

".. sebenarnya .. aku pernah ..".

Dzzzt.... Blip !

Lampu tiba-tiba padam.

Para pengunjung cafe terkejut. Cafe mulai ramai oleh suara menggerutu dari para pengunjung. Sementara para waiter terlihat sibuk mencoba untuk menyalakan sistem daya pendukung.

"Sepertinya ini bukan korsleting biasa di cafe ini. Lihatlah keluar, seluruh blok kota juga padam. Ini bukan pemadaman biasa.." komentar Sheila.

"Yeah, betul, ini mengingatkanku pada awal strategi perang dalam kota.." sahut Rizal cuek. "Bisa jadi ini kerjaan Arthur.." seloroh Rizal sambil tertawa.

Bad joke, tak ada yang tertawa. Sheila dan Raka masih larut dalam pikirannya sendiri-sendiri. Dalam kegelapan seperti ini, tak ada yang bisa tahu, bagaimana perubahan wajah masing-masing.

"Ada yang punya korek ?" tanya seseorang disekitar mereka. "Bisa minta apinya sedikit ? Aku butuhkan untuk rokokku..".

Raka menyalakan koreknya.

Secercah nyala api dari korek tersebut membuat penerangan kecil yang memperjelas ekspresi wajah ketiganya.

Dan wajah orang ke-empat yang nampak, membuat Raka, Rizal maupun Sheila sangat terkejut laksana disambar biang halilintar.

Wajah itu adalah milik Arthur yang tengah tersenyum sambil menyodorkan rokoknya !!

"Arthur !!!".

"No Way..".

"Owh Sh***t...".

Ketiganya berseru dengan keterkejutan yang sangat.

"Ah... sepertinya aku begitu populer disini.." komentar Arthur dingin.

"Raka dan Rizal.. dua orang yang aku berhutang sekali pada kalian. Betapa besar rejekiku malam ini. Ck..ck..ck.." ungkap Arthur sambil memulai psy-warnya.

"Bagaimana kau tahu kami disini ?" tanya Rizal dengan sikap yang dibuat setenang mungkin.

"Hah! Melacak keberadaan orang adalah keahlianku. Apalagi amatir seperti kalian, tak butuh waktu lama.." dengusnya kesal.

Arthur mengambil korek yang sejak tadi dipegang Raka untuk membakar rokok. Ia menyulutnya, beserta sebatang lilin yang sepertinya telah dia siapkan sejak tadi.

"Namun jujur saja, aku lebih tertarik pada Raka, mantan anakbuah dan mantan muridku yang jenius ini..".

"Ohya, Raka.. jangan mencoba trik apapun. Kau pastinya tahu kan, kali ini aku tidak datang dengan tangan tanpa senjata..hehehe..".

"Dan lagi, dengan level keahlian mu saat ini, kau masih jauh dari mampu untuk melawanku. Jadi, jauh lebih baik bila kau pasrah saja..".

Raka, Rizal dan Sheila, ketiganya kini merasa seperti tiga ekor tikus putih dihadapan seekor kobra yang lapar.

"Kau tahu Raka, aku tak menyangka bahwa kau senaif ini. Seharusnya, begitu kau dengar kabar lolosnya diriku, kau akan mengambil langkah seribu, bersembunyi di Johor atau Singapore...".

Senyuman di wajah Arthur kini berubah menjadi seringai sinis. Di mata Sheila, Raka dan Arthur, seringai itu mirip senyuman siluman yang siap menelan mangsanya hidup-hidup.

"Dan satu lagi, aku tahu latar belakangmu yang tanpa cacat, Tuan Rizal dan Nona Sheila. Namun aku herankan, mengapa kalian bersedia berteman dengan polisi yang tega menjual negaranya demi setumpuk emas batangan..hahahaha..".

"Tak mungkin...." sahut Sheila terkejut.

Raka nampak pasrah dan kian terpojok. Aibnya terbongkar. Rahasia yang telah bersusah payah ditutupinya, kini ditelanjangi bulat-bulat. Bahkan di depan Sheila.

"Hahaha..." tawa Arthur sambil meneruskan teror mentalnya. Ditangan kanannya kini telah tergenggam sepucuk Baretta model 92, seperti yang sebelumnya diceritakan Raka.

"Benarkah itu, Raka ?" tanya Sheila mengacuhkan Arthur. Hatinya hancur mendengar tuduhan Arthur pada Raka.

"Tunjukkan kejantananmu Raka..hahaha..." ledek Arthur sambil memainkan Beretta-nya. "Jangan karena kau baru menjadi bajingan, lantas kau pikir kau layak bersikap pengecut dihadapan wanita.. hehehe".

"Atau.. kau ingin aku yang bercerita pada mereka ini tentang semua aibmu ?" tukas Arthur lagi.

Raka menggeleng.

"Kalau begitu katakanlah... Saat ini kau tak bersenjata. Dan aku bisa sewaktu-waktu bosan melihatmu, Raka.." geram Arthur.

"KATAKAN!!!" bentaknya lagi.

Raka menggeretakkan rahangnya. Tampak jelas dia tersinggung dan marah.

Klik..!

Terdengar bunyi logam bergeser. Rupanya Arthur tidak main-main dengan ancamannya.

"Ceritakan didepan mereka, bagaimana Nita terbunuh.." perintah Arthur dingin mengiris. Nadanya mengancam.

Raka hanya bisa membuang mukanya ke kiri ,menghindari tatapan Arthur, Sheila dan Rizal.

"Bukankah kau sendiri yang tengah malam datang kerumahku, dan mengancamku dengan pistol ?" katanya balik bertanya pada Arthur.

"Hehehe... teruskan ceritamu.. teruskan, biar semua orang disini mendengarnya.." tawa Arthur sambil menghembuskan asap rokoknya.

"Kau menuduhku telah bersekongkol dengan mafia narkotik, mengancamku untuk mengakui itu semua, dan kemudian menembakku. Tiba-tiba Nita melangkah diantara aku dan pistolmu. Hingga ia terbunuh oleh pelurumu.." tukas Raka dengan mata berkilat-kilat.

"Haha... Mengapa kau putus penjelasanmu sampai disitu, Raka ? Kenapa tak kau jelaskan semuanya pada hadirin disini ?" tawa Arthur seolah muak dengan sikap Raka.

"Baiklah, sepertinya kau menghendaki aku yang bercerita pada hadirin semua disini.." ungkap Arthur kesal. "Hey, Rizal, pastikan kau dengar semua detail percakapan kami disini!".

Dibalik temaramnya nyala lilin, Rizal mengangguk perlahan.

"Kau bisa menyangkal atas apapun yang aku omongkan. Tapi pastikan kau punya bukti yang kuat untuk itu.." tukas Arthur dengan wajah kembali dingin.

"Entah mengapa dan sejak kapan, aku akhirnya menyadari bahwa, kau yang seharusnya menyusup dalam sebuah operasi rahasia kedalam sebuah mafia narkoba di Denpasar, namun malah larut didalamnya...".

"..Kau bergabung dalam proses sindikat mafia internasional menyelundupkan emas dan narkotika kedalam negeri ini. Kau cukup licin dalam penyamaran dan operasionalmu. Sehingga bahkan aku yang merupakan atasanmu sendiri tidak menyadarinya..".

"..mungkin kemilau emas dan pelukan gadis-gadis mereka yang tengah kecanduan telah membuatmu larut dan hanyut.. Aku tahu, sebagian emas itu kau ambil alih sendiri,tanpa sepengetahuan mafia".

"..kau cukup lihai membuat sindikat mereka berpikir, bahwa kau adalah keluargaku. Sehingga saat mereka menyadari bahwasanya kau berkhianat dengan mengkorupsi jatah mereka, mafia itu balas dendam dengan membantai keluargaku..".

".. dua orang anak dan istriku terenggut nyawanya karena serangan mafia, atas ulah yang kaulakukan.." tandas Arthur tanpa emosi.

"Dengan kata lain, kau sengaja mengumpankan keluargaku kepada mafia... Kau mau menyangkal Raka ?".

Raka terdiam.

Sheila tertegun. Kenyataan ini begitu menyesakkan dada. Sulit baginya mempercayai kenyataan yang dijejalkan paksa kepada dirinya kali ini.

"Benarkah itu Raka ?" tanyanya dengan suara bergetar. Marah, sedih, kecewa bercampur menjadi satu didalam dadanya.

Rizal merekamnya baik-baik. Sudah sedari tadi, ponselnya merekam semua kejadian itu dengan rinci.

Raka hanya tertunduk dan terdiam.

"Saat itu, dengan cerdasnya kau juga sudah memperhitungkan bahwasanya aku akan mencarimu, untuk membuat perhitungan pribadi denganmu...".

"..Kau cukup pandai mengatur situasi, hingga aku yang terbakar emosi dan marah, berakhir tragis dengan menembak mati Nita.." tuding Arthur dengan dingin.

"Tidak... bukan begitu kejadiannya .. Nita.. ah.." sangkal Raka kepada Arthur.

"Ohya ? kalau begitu coba jelaskan, bagaimana bisa, setelah pistolku menyalak, tiba-tiba kau telah bersembunyi dibalik tubuh Nita untuk memukul lenganku yang memegang pistol ?".

"..dengan kata lain, kau sengaja mengumpankan Nita sebagai martir. Layaknya Pion catur yang bisa dibuang, untuk dihabisi oleh senjataku.." cecar Arthur kembali.

"Terimakasih, atas ulahmu itu aku menanggung beban telah menghabisi Nita.".

"Tidak.. tidak... bukan seperti itu kejadiannya..." Raka berusaha keras menyangkal tuduhan Arthur. Ada isak kecil dalam upaya menyangkalnya tersebut.

"Hah!" Arthur mendengus kesal melihat upaya sia-sia Raka tersebut.

"..Aku tahu, Raka, dalam hati kecilmu, kau sangat menyesali kejadian tersebut. Kau menyalahkan kepengecutanmu melakukan hal itu. Kau berupaya menyangkal kenyataan bahwa kau telah menyebabkan Nita terbunuh.".

"..Dan karena itulah, selama beberapa waktu lamanya kau berpura-pura hilang ingatan, gila dan stress. Ini kaulakukan untuk menghibur dirimu yang begitu menyedihkan ini, Raka".

Sheila bagai tersambar petir mendengar ungkapan Arthur. Rasanya, sia-sia semua upaya yang dia berikan untuk Raka selama ini. Hatinya hancur menyadari kenyataan itu.

"Benarkah itu, Raka ?" tanya Sheila dengan pilu.

"Raka, kaupikir aku tak bisa membaca jalan pikiranmu, murid bodoh ?" tekan Arthur lagi.

"..Satu lagi trikmu yang kubaca Raka, kau kembali mendekati Sheila bukannya tanpa tujuan. Kau bermaksud menghapus semua jejak kejahatanmu secara hukum dengan bantuan Sheila dan Rizal, bukan ?".

Dar... !!

Rasanya seperti petir menyambar ditubuh Sheila. Tubuhnya terasa limbung.

"Ka...kau... bermaksud memanfaatkanku, Raka ?" tanya Sheila sambil bersimbah air mata. Perasaan terluka dikhianati Raka yang dulu sudah sembuh, kembali terkuak lebar.

"Hahahaha... kenapa Raka ? Tak cukup jantan untuk mengakui semua itu ?".

"..Atau mungkin aku perlu konfirmasikan juga, bagaimana kau menghabisi Thomas, dua tahun yang lalu ?".

Raka hanya bisa menunduk dan menggeleng perlahan. "Kumohon... cukup... cukup..." rintihnya sedih.

Tanpa memperdulikan rengekan Raka, Arthur melanjutkan, "Thomas yang malang, yang kau jerumuskan dalam lingkaran bisnis gelapmu. Dan ketika aibmu mulai terungkap oleh aparat, kau umpankan Thomas yang masih hijau kepada mereka.".

"..dan bahkan kau sendiri yang menghabisi Thomas ditengah-tengah terbakarnya pabrik Narkotik itu.. saat Thomas telah hanyut terlena, dan tak memiliki alibi untuk berkelit..".

"..dan culasnya dirimu Raka, kau gunakan namaku untuk sebagai alasan untuk menghabisinya. Kau gunakan namaku untuk mengatur penggerebekan ke unit dimana Thomas berada..".

"..pada akhirnya, Thomas mati penasaran dengan memendam dendam kepadaku juga.. Sekali lagi, terimakasih atas semua kontribusi manismu, Raka..".

"Cukuuuuuuuuuuuup.. iya aku akui semua !!! Itu adalah akibat ulahku. Sekarang kau puas ????" teriak Raka marah.

"Hahaha...!!! kenapa tak sejak awal kau akui sendiri Raka ? Mengapa kau tunggu hinga aku yang mengatakannya ?" ejek Arthur kepada Raka.

Ditengah temaramnya nyala lilin yang kiat meredup, Arthur mendekatkan wajahnya kepada Raka.

"Perlu kau ketahui, Raka. Kau boleh lega, Thomas belum mati. Semoga ini bisa meringankan rasa bersalahmu.." tukas Arthur.

"..Mafia tersebut menyelamatkan Thomas, dan membawanya ke Thailand untuk memimpin sebuah pasukan privat. Disana ia semakin berkembang menjadi assasin yang luar biasa mahirnya..".

"..Aku tak yakin kau mampu mengalahkan Thomas saat ini, Raka." lanjut Arthur sambil menghembuskan asap rokok kepada Raka.

"..Ingatlah, bahwa Thomas memendam dendam padamu dan padaku, Raka..".

Dingin kuduk Raka mendengarnya. "Thomas ? No Way..." kalut pikirannya memikirkan hal itu.

"Ohya, satu lagi Raka, aku baru saja mengundang Thomas untuk reuni kecil kita... Saat ini mungkin dia tengah menuju kesini, tak lama lagi...".

"..Kau paham kan ? Setelah ini kalian akan memiliki momen untuk menyelesaikan urusan masa lalu...ha..ha..ha..ha..".

"Kau jahat, Arthur.." tegur Rizal.

"Aku ? Aku baik, Rizal. Karena itulah, kuberikan senjata kepada Raka untuk menghadapi Thomas... hahahahaha...".

Tiba-tiba Arthur meniup satu-satunya lilin yang menyala di bilik VIP cafe tersebut.

Wuzz...

"Aku pamit dulu, semua.. Oh ya Raka.. jangan lupa... Thomas sedang mencarimu...hahahaha..." kata Arthur dengan kejam.

Kemudian, Arthur menjentikkan jarinya keatas, ditengah kegelapan malam.

Dan...

Blap !!!

Tiba-tiba lampu cafe menyala kembali. Listrik sudah pulih. melihat kembali.

Seluruh pengunjung Cafe berseru lega. Lega karena pandangan mereka terang kembali. Lega karena bisa melihat kembali.

Namun Arthur telah menghilang laksana sulap. Tanpa jejak.

"Rupanya pemadaman tadi adalah ulah Arthur..." gerutu Rizal.

Sementara itu, Sheila dan Raka memandang tertegun kepada meja di depan Raka . Sebuah senjata api milik penjaga tahanan yang hilang saat Arthur melarikan diri. Lengkap dengan pelurunya ! Dan kemudian, dua buah granat tangan dalam keadaan terkunci.

Dan tergeletak disamping senjata api tersebut.

Arthur, rupanya menginginkan agar mereka, Raka dan Thomas saling bunuh- bunuhan, kemudian mengambil keuntungan dari pertarungan keduanya.

Rizal merasakan kuduknya dingin menggigil. Arthur adalah lawan yang mengerikan. Dan Rizal baru menyadari hal itu.

Sejenak ketiganya terdiam tak tahu harus berbuat apa.

Raka lah yang pertama kali berinisiatif mengambil keputusan untuk mengecek kelayakan senjata tersebut. Dengan tangkas dan cekatan, ia melakukan pemeriksaan terhadap senjata itu.

Tanpa sadar is berdecak kagum, "Arthur telah memodifikasi senjata ini menjadi jauh lebih baik. Nampaknya dia memang menginginkan Thomas dan aku saling membantai.......hmmmmh".

Tiba-tiba...

Dor Dor Dor Dor Dor Dor Dor Dor Dor !!!

Dzing... Trang.. Prang... Krompyang...

Renteten serangan senjata api menyerbu masuk kedalam cafe.

Suara pecahan kaca dan perabot ramai memenuhi udara. Jerit ketakutan para pengunjung dan waiter saling bersautan, memperkeruh suasana.

"Menunduuuk..." teriak Raka.

Teriakan itu dipatuhi oleh segenap isi Cafe. Sebagian pengunjung didalam cafe merundukkan badannya. Sebagian lagi tiarap berlindung.

Raka menggulingkan meja-meja Cafe, dan apapun yang bisa dijadikan perisai perlindungan.

"Semuanya.. perlahan, kabur dengan merangkak lewat pintu belakang. Tolong dibantu..." perintah Raka pada seorang waiter. "Menunduk dan merangkak, ikuti dia ke pintu belakang.".

"Kau juga, Sheila, Rizal..".

"Dan kau ?" tanya Sheila kebingungan.

"Aku akan mengulur waktu, yang penting sekarang adalah memperkecil jumlah korban tak bersalah yang terlibat.. Cepaaatt !!!!

Rizal serta Sheila merangkak meninggalkan Raka. Mereka menuju pintu belakang yang telah dibuka oleh seorang waiter. Dia melambai kearah mereka, "lewat sini, katanya..".

Raka pun mulai membalas menembak. Dor !

Dor ...!

Bergulingan, berlindung, dan balas menembak. Hingga akhirnya insting Raka berhasil menemukan titik darimana tembakan itu berasal.

Dengan berhati-hati, Raka berusaha membidiknya. Posisi yang cukup sulit, dan target yang bersembunyi cukup baik, sementara hujan peluru masih terus berlangsung. Raka harus berhati-hati.

"Satu-satunya cara adalah dengan membidik ujung senjata api yang masih terlihat. Kemudian saat target tertembak, aku harus memperkecil jarak dengannya. Setidaknya aku harus bisa melakukan close combat fighting..", pikir Raka.

Dan..

Dor ! satu tembakan jitu Raka menghantam moncong senjata api tersebut.

Gusrak ...

Raka berlari menuju lokasi jatuhnya target sambil menghamburkan butiran peluru kearahnya.

Dor Dor Dor ...

"Hmmfh ! Ternyata hanya seorang Raka.." dengus seseorang sambil menodongkan sepucuk Magnum kaliber 40. Dia telah berdiri menghadang Raka.

Raka terkejut. Terutama saat mengetahui wajah orang yang berdiri menghadangnya, "...tak mungkin .. Thomas...?".

".. Thomas... Thomas... bukankah kau sudah mati ?".

"Ya, aku bangkit dari neraka! Dan akan kubayar hutangku padamu, Raka.." jawab Thomas dengan wajah kelam membesi.

Insting Raka bekerja, mengatakan bahwa Thomas tak akan ragu menembaknya. Insting yang menuntun refleks, Raka mencari tempat berlindung.

Dor.. ! Dor.. ! .. Dor ...!

Dziiing... Dor ! Dor ! Dor ! Dor !

Maka, terbukalah kembali panggung pertempuran berdarah yang dua tahun lalu belum tuntas.

***

Au revoir - Goodbye

Tengah malam di seputaran Cafe Bojangles. Sirene meraung memenuhi langit kota. Nyaringnya sirene menyayat laksana jeritan bocah yang ditinggal mati orangtuanya.

Dan adegan selanjutnya laksana opera sedih, yang diputar dalam gerakan lambat, di mata Sheila.

"Angkat tangan !!!!! ini Polisi, letakkan senjata !".

Merah-biru lampu sirene mengepung Thomas dan Raka.

Raka menoleh, ke arah para pengepungnya.

Kemudian ke arah Sheila. Dan Raka tersenyum.

Senyuman yang sangat pilu. Dan Raka menggeleng perlahan.

Sheila tak dapat menahan gejolak hatinya melihat gelengan halus Raka tersebut.

"Jangaaaaaaaaan Rakaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa....".

Dor ! Dor ! Dor ! Dor !

Duar! Duar! Duar! Duar! Dor ...!!

Terlambat..

Semesta laksana hening tanpa suara bagi Sheila. Adegan demi adegan terekam layaknya film dengan filter merah-hitam-abu-abu dalam diri Sheila. Laksana mimpi buruk.

Sebutir peluru Raka menembus dada kiri Thomas.

Dan Magnum kaliber 40 milik Thomas mencabik-cabik tubuh Raka tanpa ampun.

"Tembaaaak...!!!" seru seorang perwira polisi yang mengepung mereka.

Dar ! Dar ! Dar ! Dar ! Dar ! Dar ! Dar ! Dar ! .......!!!!!!

Dalam sekejap, ratusan butir peluru laksana tawon merubung. Menyengat keduanya tanpa ampun. Dan bersarang, bersenyawa dengan aroma kematian.

Beberapa diantaranya menghantam granat yang tersimpan disaku Raka. Dan..

Blaaarrrr !!!!!!

"Rakaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa....." jerit Sheila.

Raga Raka menghilang dalam kepulan asap putih. Tanpa sisa. Tanpa jejak. Bersatu dengan debu dan udara.

Sementara di ujung sana, jasad Thomas tergeletak bersimbah darah.

Dan langit menyambut kepulangan dua orang anak buminya.

"Rakaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa........!!!!!!" jerit Sheila kembali. Kemudian kakinya terasa lemas. Sheila jatuh terduduk pada lututnya.

Raungan sirine belum juga usai. Masih memenuhi penjuru langit. Masih bersinar merah-biru. Merahnya darah yang tumpah, dan birunya sebuah memar kesedihan.

"Bodoh Raka... bodoh.." isak Sheila sambil menghantamkan tinjunya ke tanah.

"Rakaaaaaaaaaaaaaa..... !!!" isak Sheila. Airmatanya tumpah tanpa kendali.

"Au Revoir, Raka....".

***

Epilog I

Tiga jam kemudian, menjelang sahur. Ponsel Satria berbunyi.

"Assalammualaikum.." suara serak Satria yang masih setengah mengantuk terdengar diujung sana. "Halo sayang, terimakasih sudah membangunkanku sahur.." sahutnya berupaya bercanda.

"Sat... Satria.." isak Sheila diujung sana.

"Ada apa sayang ? Kau menangis ?".

Diujung sana tangis Sheila pecah.

"Temani aku...".

"Tentu saja...".

Isak Sheila masih terdengar lewat ponsel.

"Sat...".

"Ya...?".

"Pinanganmu yang tempohari... masih kah kau tunggu jawabnya ?" tanya Sheila perlahan, ditengah isaknya.

"Yeah.... tentu sayang.... ".

"Tak apakah, bila kujawab sekarang,..... Sat.... ?".

"Kau wanitaku, kapanpun kau bersedia menjawab, aku akan senang sekali..".

"Kalau begitu, ..... boleh aku .... mengajukan syarat ?".

"Apapun yang kau minta. sayang..".

"Kuingin mas kawinmu adalah waktumu.... karena aku tak ingin kehilangan dirimu, pria yang sangat mencintaiku..".

"Bagaimana aku memberikannya ?".

"Nikahi aku, sebelum tanggal hari ini berganti.. Selepas taraweh besok. ......Sat..... Kau sanggup ?".

Satria tertawa lebar diujung sana. Dengan gaya jenaka ia berucap, "Alhamdulilaaaaaah...... tentu sayang.. tentu..".

"Sat..".

"Ya, yang ?".

"Temani aku..." pintanya dengan sisa-sisa isak tangis yang masih ada.

"Dimana kau sekarang.... sayang.. ?".

"Temani aku sahur pagi ini, ya...?".

***

Epilog II

Rizal masih termangu ketika pagi itu, beberapa belas hari setelah tragedi Bojangles terjadi, ia menerima sebuah paket kiriman tanpa nama. Dan sebuah email, muncul tak lama kemudian di inboxnya.

"Bos Rizal, mungkin kita tak sejalan mengenai justice. Dan aku tahu, balas dendam yang telah kulakukan pada Raka dan Thomas pasti bertolak belakang dengan konsep kebenaran dan keadilanmu.."

"..namun izinkalah aku yang sudah demikian jauh tersesat dari panduan cahaya ini, untuk menyampaikan sejumlah bukti keterlibatan para petinggi kita dalam jaringan mafia yang telah membuat Raka dan Thomas tersesat..."

"..bersama ini terkirim semua bukti yang sempat aku kumpulkan. Password dan kode decryptnya tak kusertakan. Namun kurasa Sheila pasti mudah menebaknya.."

".. dan juga kusertakan sebuah diary yang ditulis oleh mendiang Nita, sebagai wujud penyesalan atas kesalahan fatalku yang telah membuat nyawanya terenggut.."

".. diary ini kutemukan di tempat Raka, saat ia masih dalam perawatan jiwa.. Sepertinya Nita ingin diarynya itu diterbitkan dalam wujud roman.."

"..Aku mohon maaf atas semua kesalahanku. Mungkin saat kau membaca surat ini, aku sudah bersama Raka dan Thomas, kedua anak didikku yang bengal itu. Kau tahu, aku tak pernah sekalipun kalah dalam duel bersenjata.."

"..Namun rasanya aku harus menyerah pada Sirosis hati yang kian parah ini.."

"..Kau bisa temukan jasadku di Elizabeth Hospital, Singapura.."

".. selamat tinggal rekan keadilan.."

".. Au Revoir, Arthur.."

***

l'extrémité - the end

Torn between two lovers ? Jangan lepaskan cinta sejati yang telah anda miliki...

Moral cerita ? Kami serahkan pada anda semua.

Terimakasih telah sudi membaca persembahan kecil kami.

(Team Passion : jafis, lelouch dan rozz).

(Ramadhan 23, 1429H - 22 September 2008 - 20:29 BBWI).


Anda tidak bisa ikut nulis kalau ndak login.