Cerpenista - Ayo Ngarang Gotong Royong!

Register Cerpen Group Top Kontes Forum Login

Lelaki Pencari Kebahagiaan

Dongeng

Putus asa, Semprul pun merebus sepuluh arlojinya dalam kuali semalaman, dengan harapan jadi ketupat.

Ditaburi ribuan rayap, menggelegak tak berdaya.

Kuali pecah tapi air tak tumpah, api masih menyala.

Bagaikan diselubungi bejana, sungguh tak dinyana.

Datang seekor nyamuk pakai baju safari warna ungu.

Sungguh sangat wagu. Lalu...

daripada wagu maka ganti baju yang lebih wagu: bikini.

Dengan model terkini.

tapi apa lacur, arloji tetaplah arloji.....semprul pun mencari tali gantung diri.

Ia pun menemukan tali tambang yang dipilinnya untuk dicucukkan ke hidung kerbaunya.

Kerbau itu bersin, mencipratkan ingus asin. Katanya, "Sini biar aku mainin...".

Seletah sebelas kalimat yang ditambahkan, Semprul merasa jengah.. dan benar benar ingin bunuh diri. Kali ini dia serius.

"Jika mati adalah pencerahan, barangkali inilah awal jalanku... Hidup tak perlu dibuat berbelit.".

Kali ini, Semprul menggunakan tekhnik bunuh diri yang bisa dibilang baru dalam kancah pembunuh dirian. Semprul membeli 2 saset HIT elektrik di warung Bu Soleh.

"Banyak nyamuk ya prul", Tanya bu soleh saat itu. Namun aku biarkan pertanyaan itu menggantung tak terjawab.

"Ada yang rasa lemon apa grape gitu, Bu Soleh?".

"Ada ada saja kamu Prul!!.. apa mau kamu emut gitu??..," jawabnya. Semprul menjadi agak kaget, 'mengapa Bu Soleh tahu kalo mau aku emut ya??' batinnya.

apakah bu soleh adalah salah seorang anggota mami lorenk and the gank?....sehinga bisa tau apa yang akan aku lakukan?...hati semprul mulai goyah dengan kemantapan hatinya ingin bunuh diri.

"Prul.. kamu nggak bisa beli HIT 2 saset!!" serunya lagi. Lalu Semprul kaget lagi, dan membuat dengkulnya lemas. "Ke .. kenapa Bu Soleh?," tanya Semprul takut kalau ketahuan ingin bunuh diri.

"Persediaan tinggal 2 saset terakhir. Mau tak pake sendiri jeh", Jawabannya membuatnya lega. Bu soleh tidak tau niatan bunuh diri ini.

"fyuuuu..h", hela nafasnya lega.

"Tapi Bu, saya butuh HIT electric itu!" seru Semprul. "Kalo saya nempil satu bisa Bu.. tolong Bu.. aku mohon." rengeknya. Semprul terdengar genit, terlalu genit untuk pemuda yang ingin mengakhiri hidupnya.

" ato kalo ga boleh satu, setengah aja deh bu. s.e.t.e.n.g.a.h..!" bujuk semprul memelas.

"Ya deh satu,.. inih!," kata Bu Soleh sambil memberikan satu saset HIT electric pada Semprul. "Kembaliannya permen ya Prul..," lanjutnya tersenyum.

Semprul kembali ke kandang sapi yang berada dibelakang rumahnya. Di tangan kanannya 1 saset hit elektrik. di tangan kirinya, 1 permen mentos.

lalu Semprul bersiap siap mengemut HIT electric itu, sesaat Semprul mengingat ngingat masa masa suramnya untuk memberanikan diri melakukan bunuh diri.

*flashback mode on*.

Pada hari itu, siang itu yang seperti siang siang biasa dengan tanpa firasat apapun,.. Dan tidak ada yang special di hari itu. Tak kusangka akan menjadi hari dan siang yang tak akan aku lupakan seumur hidup.

Karena aku melihat pemandangan yang begitu syedap.

Pemandangan yang mebuatku menggelinjang sendiri. Ah aku butuh pelepasan, sepertinya.

Tapi aku mikir, apa yang bisa menjadi kanal penyaluran hasratku?

Terbesit sebuah ide. Lalu aku pergi ke pasar untuk membeli mentimun.

Ternyata susah mencari mentimun. Aha, gimana kalau terong saja?

tapi terong langka ternyata.

Yang ada tinggal pisang kecil lembek warna kuning.

dengan terpaksa aku pun membelinya, tapi sayang habis di jalan.

Gerombolan monyet yang mencegat di tengah jalan telah merampas semua pisang itu. Mereka kelaparan sangadh.

Selain kelaparan rupanya para Monyet itu sedang dalam musim kawin.

Mereka bertingkah tak senonoh. Ada yang nungging, ada yang telentang.

ada pula yang mulai kurang ajar.

seperti suprie.

dan satu monyet lagi yang bernama.

buto ijo.

buto ijo berbadan besar, berkulit halus, berbulu di dada dan di muka.

mirip Rahwana dalam epik Mahabarata yang legendaris itu.

Tiba tiba dengan sekejap monyet besar itu berdiri di depanku, aku bingung. Lalu aku menoleh ke kanan kiri dan belakang depan. Aku berjalan pelan pelan mundur, ingin kumenangis tapi aku malu.

Karena bapak-ibuku dulu wanti-wanti, jadi orang sebaiknya pantang menangis, apalagi kalau sedang takut.

aku mengikuti saran tetanggaku, yaitu "kalo kamu dikerjar anjing , jongkok." Lalu dengan sepontan aku jongkok, berharap monyet besar itu pergi.

Satu hal terlupa oleh Semprul, monyet berbeda dengan anjing walaupun sama-sama berbulu. Mereka merespon dengan cara yang berbeda. Bukannya pergi, monyet besar itu malah menghampiri Semprul!

Semprul meringis ketakutan. Ia tak pernah berhadapan dengan monyet, apalagi yang besar dan berbulu lebat.

sekarang semprul yang jongkok mukanya tepat didepan selangkangan monyet itu.

Gantian monyet itu yang kaget. Ia tak mejyangka reaksi Semprul bakal seperti itu. Monyet itu mengira Semprul tukang sulap.

Semprul mendengar suara cekikikan di belakangny, Semprul tak menyangka orang orang begitu kejamnya menertawakan tragedi ini. Tragedi yang tak akan pernah aku lupakan, hingga ku memutuskan untuk bunuh diri.

Bunuh diri? Sebentar, enaknya pakai apa ya? Gantung? Minum racun? Atau ...

memakai tali pramuka.

Ah, rasanya kurang heroik. Soale pramuka itu kan kegiatan abal-abal. Jadi pake apa dong?

Semprul teringat sumbu kompor yang sisa-sisa di warung Lik Sugeng.

Kalau tak salah, sumbu kompor itu lumayan panjang. Cukuplah kalau untuk gantung diri. Tapi, kuat nggak ya? tanyanya dalam hati.

Berarti aku harus gantung diri dari ketinggian 20 meter, kalau talinya tidak kuat aku akan jatuh dan tewas.

Masalahnya, ke mana aku harus mencari pohon setinggi itu. Atau mending gantung di menara BTS aja ya?

Sugeng teringat menara BTS di kebun Pak Gunawan.

Pak Gunawan adalah penasihat Rojali alias Rombongan Janda Liar, yang tinggal di ujung gang.

Tapi semprul merasa segan karena pak Gunawan itu bapaknya Erniwati sepupu mantan adek iparnya semprul yang dulu sebelum semprul tau ada hubungan keluarga sempat semprul kecengin.

Pak Gunawan selalu sebal sama Semprul. Terlebih setelah Semprul memakai kaos SemproelRock.

Gunawan memandang sekelilingnya, dia melihat banyak sekali formalin yang bertebaran. "Wah, lebih baik formalin ini untuk mengawetkan tahu dan makanan lainnya ya. jadi semua akan mati perlahan=lahan, bukan cuma aku. Aku akan bahagia sendiri tanpa form.

Melebur dalam kesejatian.

Manunggaling kawulo Gusti.

akhirnya semprul mikir mikir jadi bunuh diri nggak ya ?? karena Pak Gunawa pernah ngomong ke semprul "Daripada kamu sendirian dirumah, mau nggak tak kenalin dengan janda muda bin bahenol yang buat pria menelan ludah ?".

Semprul pun bingung untuk memilih jalan yang mana.

semprul menunggu datangnya senja untuk mencari wangsit dari tokok.

*flashback mode off*.

tapi tapi tapi... tombol flashbacknya dimana yah?

Sial! Tombol flashback macet. Ngadat.

Akhirnya bisa di Flashback juga !!!

Tapi flashback-nya ke setting yang berbeda.Absurd dah.

. Mengingat kejadian itu Semprul pun menjadi bimbang. Ia sangat bingung untuk memilih jalan yang mana.

Maka kembalilah dia ke dapur. Mencari arlojinya. Ternyata sudah jadi bubur. Lalu dia sesenggukan, menangis tiada henti, berguling-guling segala.

Dia pun mulai merasa tidak ada artinya lagi kalaupun ia masih hidup.

kemudia dengan niat sempurna untuk mengakhiri hidupnya dengan heppi ending alias gak ada kesedihan dia baca buku lamanya "Mati ketawa ala Gusdur" dan berharap kematian datang menghampirinya dia sedang tersenyum atau tertawa...

Lalu dilihatnya HIT electrik yang sudah ditangan. Dibukanya HIT saset itu, dengan agak ragu dia memasukkanya ke dalam mulutnya. "Mama, Papa, Paman, .. aku hanya ingin mati.. aku sudah tidak sanggup menahan malu ini". HIT electrik itu terasa pahit.

Seketika semprul ingat si mboknya dikampung," Le, kebagiaan itu tidak bisa dicari Sarkem atau Dolly," ucap si mbok. "Kebahagiaan yg hakiki ada dalam nuranimu yang selalu ingat Tuhan," sambung si mbok.

HIT pahit itu terasa menggelitik di lidah Sempurl, ingatannya pada simboknya di kampung buyar karena pusing tiba tiba menyerang kepalanya.

Iapun pingsan.

dengan pose yang rupawan.

Namu, tak berapa lama pingsan, semprul segera sadar bahwa dia masih hidup meski sudah mengulum HIT. Semprul bergumam,"tapi enak juga ya rasanya kayak coklat dari swiss,".

Agaknya Semprul tidak sadarkan diri dan mabuk, krn mana mungkin HIT berasa coklat dari Swiss. Lalu di lepehnya HIT itu. Semprul berfikir keras, kenapa dia belum mati. Kenapa HIT elektrik membunuh begitu banyak nyamuk namun tdk mempan tuk bunuh diri.

"Enaknya ngapain lagi ya?" tanya Semprul kepada dinding...

Iapun akhirnya bangkit dan berfikir untuk mengulang semuanya dari awal atau yang sering disebut dengan membuka lembaran baru hidupnya.

"Ternyata Tuhan belum menginginkan aku mati, berarti..." Semprul menengadah, dan berkata penuh semangat"... ini isyarat bahwa aku harus mencoba merk lain.".

Karena sudah tak mempunyai harapan di Desa SukaMundur iapun pergi merantau menuju Desa SukaMaju.

setelah berjalan cukup jauh, ternyata tokoh kita nyasar. Ia malah tiba di desa sukaMajuMundur. "Kok bisa nyasar yah?" pikir dul. Sembari berfikir, dul kencing di sebuah pohon besaaarr..

Dia melihat pamflet-pamflet yang disebarkan orang. Ternyata pamflet itu berisi formulir lomba lari. Semprul sangat senang karena dia adalah orang tercepat di Desa SukaMundur.

Dulu semprul adalah juara lari lintas alam tercepat di desanya. berlari tanpa alas kaki alias nyeker dan telanjang dada dan kadang-kadang tanpa celana adalah hobi semprul.

Dan tibalah harinya.....

Hari bahagia buat Semprul.

Dengan kostum kembangkembang yang baru dibelinya, kali ini dengan celana, semprul melngkah gagah ke arena lomba lintas alam. Penasaran akan hadiah lomba yang masih misterius. "hadiahnya apa ya kira2?"pikirnya.

Sambil mikir2 hadiah lomba lintas alam, Semprul teringat akan Pak Gunawan yang pernah ingin mengenalkan janda yang bahenol.

"sapa tau bisa dikenalin..terus kecantol deh.."pikirnya. Pak gunawan kebetulan ketua panitia lomba lintas alam. "wah, mudah2an pak gunawan udah gak sebel sama aku lagi kaya dulu..".

Hati Semprul makin berbunga-bunga dengan semangat 45 makin mempercepat langkahnya ke lokasi lomba.

Semprul semakin percaya diri saat dilihatnya peserta lomba yang berasal dari segala usia. Anak-anak, remaja, pemuda seusia dirinya, bahkan sampai kakek-kakek. "ini mah keciiilll..."katanya.

Dengan mata yang liar melihat kesana kemari..Semprul bolak-balik seperti setrikaan mencari Pak Gunawan. Tanpa terasa kostum kembang-kembang yang dipakainya sudah mulai basah oleh keringat yang lumayan....bau.

Tetapi itu juga membuahkan hasil dan akhirnya Semprulpun memenangkan lomba itu.

Semprul tidak bisa melupakan gadis itu. Dipandanginya kerumunan orang itu, berharap agar bisa ketemu dengan pujaan hatinya itu.

Dipandanginya setiap sudut lapangan, namun di tak menemukan sosok Pak Gunawan. "Kemana gerangan dia,?" pikir Semprul dalam hati.

Tiba-tiba ia pingsan.

Pikirannya tambah bingung, hatinya tambah sedih. Dengan dahi yang berkerut dan wajah yang muram, Semprul menggunakan pikirannya, "Kemana kan kucari.?".

"Aha, kebetulan di sudut sana ada penjual es dogel, coba aku tanya,"pikir Semprul. "Bang, tahu gak tadi disini ada bapak yg pake topi cap kuning, kaos hitam dan pake celana pendek."tanya Semprul.

"Oooo...laki2 yang lagi hamil itu ya...eh...salah, laki2 yang perutnya buncit ya," jawab penjual es dogel.

Ia kebingungan.

Semprul sudah kehausan, diminumnya es dogel itu dalam sekali teguk. Ia merasa bahagia sekali. Ia memang haus kebahagiaan. karenanya ia disebut sebagai lelaki pencari kebahagiaan. BAhagia yang sejati.

Tamat - Dilanjutkan ke Chapter II.


Anda tidak bisa ikut nulis kalau ndak login.