Politik
Pepno bingung uang yang diterimanya kudu dipakai untuk membujuk sohib-sohibnya milih Pria berkumis itu. Padahal Pepno tahu, Si Kumis itu tak bermutu. "Pokonya, No..tiap anak dapet seratus rebu..nah, jadinya lu kudu bisa mastiin si Kumis dicoblos..
"Ah, mana mau tiap anak dapet seratus ribu. coba kau pikir, nanti kalau si kumis jadi presiden, dia bisa dapetin duit lebih dari itu...triliunan dia bisa dapet lebih dari balik modal," kata Daud. "Pokonya harus lebih dari sertatus ribu," sambung Daud.
oke..oke..., nga masalah, itu bisa diatur. yag penting tugas ente mastiinn tu anak2 milih si kumis.
Ya jangan oke2 donk...dealnya dulu gimana? tukas Daud.
"Ah nih anak minta komisi nih " Pikir Pepno,"Tiap ada anak yg dapat seratus rebu,elo dapat dua ratus rebo,jgn banyak protes lagi!",
"Ini bisnis man..." katanya mirip makelar prostitusi. "Kamu jual, aku beli. Kita cari yang sama-sama enak..." katanya renyah. Matanya menyipit licik. Dituangnya bir murahan itu kedalam gelasku.
"Emang cuma segini dapetnya?" tanya Gabrul, salah satu sohib. "Si Kumis kan dapet kucuran Rp 50 M dari Juagan Lumpur. Masa saya cuma dapet segini...".
"masi mending ente kebagian duit nya", emang mau kebagian lumpur panas nya......
Obrolan2 seputar tokoh politik, kekuasaan, dan uang pun mengalir di warung pinggir jalan itu. Obrolan terkadang melantur kesana-kemari. Tapi memang seperti inilah kondisi umum menjelang pemilu.
Di ujung gedung sekitar Monas, sekelompok bapak-bapak berkumpul dengan penuh takzim. Mereka semua mendengarkan wejangan yang sedang diberikan si Kumis.
Dalam wejangannya si Kumis menghendaki agar bapak-bapak semua mencoblos dirinya. Ya dengan slogan "Coblos kumisnya".
"Kumis bawah atau kumis atas?" terdengar pertanyaan dari shaf belakang.
Anda tidak bisa ikut nulis kalau ndak login.