Detektif Cerpen ini terbatas untuk anggota Group Jayustisia
Momon adalah anak seorang detektif partikelir. Ayahnya yang detektif itu sering menerima kasus untuk mencari kucing yang hilang. Waalaupun sangat tertarik dengan dunia perdetektifan, Momon lebih meminati kasus-kasus pembunuhan.
Ia hobi membaca buku Detektif Conan dan komik-komik detektif lainnya. Ia bercita-cita kelak seperti detektif Kogoro Mouri yang berkumis dan hobi lihat cewek sekseh.
Menurutnya, ayahnya adalah detektif bodoh. tapi dia mengidolakannya, karena baginya ayahnya ada orang yang paling jujur didunia ini.
Ia pernah melihat ayahnya melaporkan temuan uang 1000 rupiah ke kantor polisi, atas nama kejujuran.
Pada hari itu, desa Momon digemparkan oleh penemuan kerangka manusia di kebun Lik Giman.
Yu Marni, istri Lik Giman lah yang pertama kali menemukannya, saat ia sedang menyapu kebun.
Selama sepuluh tahun terakhir, Yu Marni mengira onggokan jelek itu sampah tua.
Sampah tua yang jelek dan bentuknya seperti tulang belulang.
Saking jeleknya, Yu Marni selalu menutup nutupinya dengan berbohong pada tetangga bahwa onggokan jelek itu bukan sebagian dari kebunnya.
Setelah sepuluh tahun mengabaikan, hari itu Yu Marni memutuskan untuk memindahkannya ke kebuh Mbah Dirjo. Betapa terkejutnya dia ketika mendapati tengkorak diantara onggokan itu. "KYAAAAA!!!" jeritnya memecah hening pagi.
Momon yang pagi itu sedang menuju ke sekolah, dengan mengambil jalan pintas menerobos kebon Yu Marni agar lebih dekat, mendengar teriakan Yu Marni dan berlari mendekat.
"Wonten menapa to Yu?" tanya Momon dengan wajah yang dipolos-poloskan.
"Habis liat Superman lewat ya", tanyanya lagi, ia masih terngiang filem yang semalam ditontonnya.
Momon heran, kenapa wajah Yu Marni pucat pasi seperti habis melihat tengkorak.
"Ono jrangkoooooong leee, ono jrangkong!", begitu jerit Yu Marni dengan histerisnya.
"Endi, endi, endi ... ???" teriak balas Momon sedikit panik.
Yu Marni menunjuk dengan tangannya yang masih gemetar.
Jrangkong itu melayang-layang di atas wuwungan. Momon ngeri.
Ternyata ada seutas tali di tengkorak itu, tali itu terkait pada pohon belimbing Mbah Dirjo. Yo Marni masih shyok dan memanggil suaminya "Mas Karmiiinn!!!.. Mass!!.. mreneo...".
Momon tambah panik. Apa mungkin Yu marni sudah kesurupan. Kenapa dia memanggil mas karmin. bukankah dia adalah istrinya Lik giman. Siapakah mas karmin itu?
Mas Karmin adalah jejaka lapuk, penjual es cendol di pasar klewer. Dialah yang sering menolong Yu Marni membuat jamu.
Momon yang masih lugu mengernyitkan dahinya 'apakah Yu Marni berselingkuh dengan Mas Karmin?". tanyanya dalam hati. Lalu Momon kembali memperhatikan tengkorak itu, ia tidak takut krn selalu ingat nasihat Ibunya untuk takut hanya pada Tuhan.
Setelah diperhatikan, tengkorak itu mirip ...
Tengkorak yang ada di lab biologi disekolahnya.
Momon bergegas ke rumah Pak Lurah yang cuma 10 meter dari situ.
Dengan bergegas Momon mengetuk pintu rumah Pak Lurah yang setengah terbuka itu. "Spadaaaaaa", serunya.
"SPadaaaaa.. Pak Lurah!!.. Pak Pak Lurah!!". seru Momon imut.
"Iya ada apa dek Momon," Bu Lurah menjawab tergopoh-gopoh. "Pak Lurahnya lagi tidur, ngga bisa diganggu".
"Beg..begini bu..Bu Lurah..A..ada ber...berita yang sang..sangat pent..penting!" ujar Momon dengan tergagap gagap. Beginilah momon, kalau sedang panik bicaranya menjadi gagap.
"Apa to nak?" tanya Bu Lurah tidak sabar.
"Itu ... itu .. itu ada ... ada, eh ... ada .. " kata Momon sambil tergagap.
"Apa!" bentak Bu Lurah. Dia panik juga karena buburnya sudah hampir masak.
"Itu ada jrangkong!" teriak Momon akhirnya. "Hah! Lontong? Lontong apa?" tanya Bu Lurah.
Momon geram. Diraihnya pergelangan Bu Lurah dan ditariknya wanita separuh baya itu ke kebun Lik Giman.
Bu Lurah misuh-misuh diperlakukan semena-mena begitu. Dia pun protes. "Kamu tuh ngapain sih, Mon? Kok aku diseret-seret. Kita mau ke mana?".
"Percaya aja sama Momon Buuk!" tukas Momon sambil terus berlari.
"Ehhh tapi... jangan menarik-narik tangan saya begitu. Nanti dikira orang kita ada apa-apa lo," kata Bu Lurah dengan cemas sambil berusaha melepaskan genggaman tangan dari Momon.
"Halah, kemayu," kata Momon. "Sapa juga yang mau sama sampean, Bu.".
Momon berhenti, lalu berteriak: "Lihat itu Bu!" teriaknya. Tangan mungilnya menunjuk sesuatu di kebun Lik Giman.
"Haaaaaaaaa!!!!..........!" teriak Bu Lurah dengan mata terbelalak. Tiba-tiba tubuhnya limbung, Bu Lurah pingsan.
Momon bingung, gelagapan. Direngkuhnya tubuh Bu Lurah yang mau jatuh. Tak kuat. Badan Momon kalah besar. Keduanya malah jatuh terguling.
Lalu terdengar suara Yu Marni yang berteriak. "AAAAAAAAAAAA! MAS KARMIN! DARAH!".
Lik Giman keluar dari pintu rumahnya, dilihatnya Yu Marni. "Ada apa Marni??.. " ditamparnya istrinya itu. "Marni ..!!.. Sadar Marni!!.. sadar," Lik Giman menggoncang goncangkan badan Yu Marni,
Di sudut kamar ada Karmin yang diam membeku bersimbah darah.
Momon sudah terbangun saat tadi sempat bergulingan dengan Bu Lurah. Dengan cepat Momon ikut menuju ke tempat Karmin yang bersimbah darah.
Darah yang membeku dan keadaan tubuh Karmin, mengindikasikan bahwa mayat karmin tersebut telah berada disitu lebih dari 24 jam.
Mayat itu dirubung ngengat dan lalat. Baunya busuk tak terkira.
Bu Lurah shyok, dan langsung jatuh pingsan. Sedangkan Yu Marni menjerit sejadi jadinya,.. dan berlari menuju tubuh Mas Karmin.
Lik Giman, cuma berdiri saja. Tatapannya kosong.
"Mas karmiiiin.. bangun mas...kamu kenapa mas . . Mas karmiiiiinn", digoyang2 kan nya tubuh beku karmin sambil meraung-raung tidak karuan.
Tapi momon lebih tertarik pada noda kecoklatan di sandal Lik Giman. "Itu apa E Lik? Coklat-coklat di sendal?" tanya.
"Eh ini ya.. ngg .. .anu mon .. ini tadi ketumpahan susu coklat." Jawab lik Giman sedikit gelagapan. momon menangkap ada yang tidak beres dari perilaku nya yang aneh.
"Apa-apaan ini!" teriak Pak Lurah yang muncul entah dari mana.
Momon merasa kedatangan Pak Lurah sungguh aneh, terlalu terlambat untuk kasus seperti ini.
"Karmin kenapa. .. Apa yang terjadi padanya. Giman, kenapa karmin bisa ada disitu", Pak lurah dengan nada ingin tau menginterogasi lik giman , pemilik rumah.
"Mustinya kamu yang lebih tahu, dia kan tangan kananmu Pak Lurah?" ujar Lik Giman dengan gaya medok tapi ketus.
"Sudah beberapa hari ini aku tidak melihatnya. Kamu pemilik rumah, kenapa sampai tidak tau klo dia disini", Pak lurah tidak terima, Ia merasa diserang.
"Daripada ribut, apa tidak sebaiknya kita segera menelpon Polisi saja, Pak Lurah?" Momon berusaha menenangkan suasana.
"Oh iya. Betul juga, Nak" jawab Pak Lurah. Ia membatin, baru kali ini Momon agak cerdas.
Kemudian Pak lurah segera mengeluarkan hp dan memencet beberapa tombol. Beberapa saat ia terdiam dan meletakkan hape menempel di telinganya. Kemudian mengulanginya lagi. "Jaringannya sibuk mon", ujarnya.
"Anu, Pak Lurah. Bisa nggak ke nomor lain atau pakai henpon dengan operator yang lain?" Momon menyarankan.
"Mending Aku datengin ke kantor polisi langsung aja, mon", pungkasnya. Momon hanya mengangguk, ekor matanya masih menangkap langkah kaki pak Lurah yang seperti terburu-buru.
"Pak, pak, Pak Lurah ..." teriak Momon. "Biar cepet, naik sepeda motor saja, Pak.".
Pak Lurah pun memanggil tukang ojek untuk mengantarknnya ke kantor polisi. Pak Lurah dengan tergopoh-gopoh masuk ke kantor Polisi, mengadukan masalah yang sedang dihadapi di kampungnya.
Semua orang masih shyok dengan apa yang terjadi, mereka menunggu Pak Lurah dan aparat Kepolisian datang, Namun tidak dengan Momon. Momon kecil memanfaatkan waktu ini dengan melihat lihat kejanggalan sekitar.
Momon memerhatikan kertas yang digenggam korban, sepintas terbaca tulisan Circle K Kaliurang di kertas tersebut.
Sementara itu, di tangannya masih tergenggam henpon jadul. Di layar henpon, terlihat menerima beberapa kali misscall.
Dilihatnya satu-satu nomor-nomor yang gagal menghubunginya. Semua dikenalnya, kecuali satu yang meneleponnya 30 menit lalu. Nomor siapakah gerangan?
Momon mencatat semua nomor telphone misscall, termasuk nomor masul 30 menit yang lalu itu. Dia juga mengambil kertas Circle K yang ada di tangan Mas Karmin, dimasukkannya ke dalam kantong plastik. DI kertas itu tertulis.....
Sensitive test pack, 1 pcs.
Momon terperanjat. "Loh ini kan untuk ngetes kehamilan?" tanya Momon dalam hati. Siapa yang hamil?
Momon lalu memperhatikan perut setiap wanita yang ada di lokasi itu.
Namun hasilnya nihil. tidak ada yang aneh. Semua wanita yang ada disana tidak ada yang seperti sedang hamil.
Momon berfikir, mungkin saja kandungan itu masih beberapa minggu jadi belum kelihatan. Beberapa saat, terdengar suara sirine ambulance dan mobil polisi yang mengaung ngaung bersaut sautan, bak dua penyanyi yang sedang berduet.
" Ada yang aneh, pasti ada yang ku lewatkan " batin momon dalam hati. Lalu momon mulai mendekati mayat itu lagi, dia masih penasaran dengan noda coklat itu.
Disentuhnya noda coklat itu, lalu di endusnya. Sepertinya ini Kit Kat... batinnya.
'hmm.. Karmin kan tidak suka coklat.", kemudian ia teringat dengan noda coklat yang mirip di sendal pak lurah. momon menekuk kedua alisnya tanda sedang berpikir keras.
Apakah pelakunya orang yang sama? Copycat? Jangan-jangan dia adalah ...
Yah, memang semuanya itu harus disikapi dengan baik. Momon menghela nafas panjang dan mencopot celananya, dia mulai membayangkan peristiwa tadi malam. Ririn menggelutinya dengan ganas dan mengeksplorasi tiap jengkal tubuhnya. Entah Momon tidak begitu.
Fiuh..hayalan jorok itu segera dibuangnya jauh-jauh..Momon kembali berusaha menghubungkan semua kecurigaannya dengan bukti - bukti yang ada. "Tidak,masih ada yg janggal di sini" batinnya.
"Maap adik" pak polisi itu menegur momon yang sedak asyik berpikir. "Area ini harus di kosongkan, polisi akan memulai investigasi", lanjut polisi itu.
Kecurigaan Momon pada tersangkanya semakin tebal.."siapa yang secepat ini melapor ke polisi?" ,takut dibentak lagi, Momon berpindah ke seberang jalan..
"es Jeruk satu bu", kata momon kepada pemilik warung. Warung itu berada tepat di seberang jalan rumah yu marni. " bu kemaren gak ada kejadian aneh disekitar sini " lanjut momon.
"Waduh, ibu kemaren pergi ke sekolahnya si otoy jadi ndak liat apa-apa" kata ibu warung. "coba adek tanya ke Cik Lani" sambung si ibu warung sambil menunjuk ke toko material di sebelah warung.
" Loh, toko sebelah sekarang yang jaga cik lani bu?", tanyaku bingung. "Koh ahong udah gak disana lagi?".
"Setahu saya Koh Ahong sebulan yang lalu ke Kalimantan, katanya mau buka cabang di sana," jawab ibu warung. Tiba tiba Momon bisa melihat Pak Polisi menangkap Lik Giman. "Ha!!.. mereka salah tangkap" lirih Momon.
Momon sudah tidak sabar. Dijotosnya koh Ahong dan Lik.
koh Ahong berkelit, tapi nasib sial melanda Lik. ia tak sempat menghidar.
" es jeruknya dik momon ", kata ibu pemilik warung membuyarkan lamunan momon. " hoalah ternyat giman to yang bunuh " lanjut ibu itu sambil meletakann es jeruk momon.
"Mon... kenapa kamu tidak di sekolah!!", terlihat bapaknya momon berjalan mendekatinya. Momon kaget, lalu berdiri "Anu Pak.. itu ada pembunuhan, Lik Karmin dibunuh Pak." Jawab Momon gelagapan.
"Hah!!! Dibunuh? Kapan? Siapa pelakunya?" tanya bapak Momon.
"Itu yang sedang kita selidiki Pap!" jerit Momon tidak sabar.
"Oh, gitu. Trus, gimana?" tanya Papi Momon lagi.
"Kurasa aku tahu orangnya!" bisik Momon ke Papinya.
"Ah, yang bener, Nak?" instingi Papinya yang juga detektif itu segera bekerja.
Berdua, mereka mulai menganalisa data dan membuat hipotesa berdasarkan data tersebut. Satu titik terang nyaris mereka peroleh ketika tibatiba terdengar suara pintu yang diektuk dari luar.
"Spada!".
Mereka berdua pura-pura cuek. Maklum lagi konsen. Segala interupsi dapat dianggap sebagai sebuah gangguan. Maklum, mode sok penting lagi on.
"Hey... Aku sedang menyapa nih.." lirih Pak Lurah sambil menunjuk hidungnya ingin diperhatikan.
Tanpa sengaja tangannya menyentuh jerawat besar di ujung hidungnya. Pak Lurah terkaing-kaing akibatnya.
"Oh Pak Lurah, maaf kami tidak melihat... Saya barusan memarahi Momon karena tidak masuk ke sekolah hari ini." ujar Bapaknya Momon basa basi. Lalu Pak Lurah dengan senyum dibuat buat menyahut "Oh iya, anak anak jaman sekarang... ".
Disebut anak zaman sekarang seperti itu, Momon langsung merengut. Meski lahir di era 80-an, Momon lebih suka menyebut dirinya anak segala zaman. Entah apa maksudnya.
Pak Lurah pun melanjutkan sapaannya "Itu Pak, Si Karmin dibunuh. Ternyata yang membunuh Giman. Jadi jangan kawatir karena Giman sudah ditangkap. Sudah tugas saya membuat kampung ini aman." Spontan Momon dan bapaknya hanya tersenyum.
momon masih merasa ada yang janggal, begitu juga dengan bapaknya.. merekapun mempersilahkan Pak Lurah untuk segera pergi secara halus "pak lurah, apa tidak sebaiknya bapak menemani giman di kantor polisi?" usul momon sambil mengaduk2 es jeruknya..
Lalat itu masih terapung di es jeruk momon, tapi momon malah senang, karena dia anggap itu bonusnya karena menunggu lama. Momon sudah lapar sekali, maka dia minta seporsi es jeruk lagi beserta lalatnya sekalian.
Senyum Pak Lurah yang lebar berubah menjadi tatapan sipit dan sinis. "Lho kenapa saya harus menemani Giman?".
"bagaimanapun juga Giman itu warga kampung sini Pak, alangkah baiknya jika didampingi" jawab papinya Momon bijaksana. Lalu Pak Lurah nyegir kuda, dan meninggalkan Momon dan papinya itu.
setelah pak lurah pergi, momon beserta ayahnya kembali ke tkp dan dia menemukan asal warna coklat, dan ternyata.
Ternyata apa yang diduga Momon benar. Seketika Momon berbisik ke papinya.
Belum sepatah kata pun meluncur dari Momon, ketika sisi kiri lehernya terasa pedih. Kelopak matanya terasa teramat berat dan degup jantungnya melambat. Dug... Dug... Dug... "Bajigur, aku dibius.____", tertahan di ujung lidahnya.
Momon terkesima melihat kapas beralkohol itu, seumur hidupnya dia belum pernah dibius seperti itu. SEkarang tibalah saatnya dia membalas dendam.
Tapi matanya gelap, dan lengannya lunglai. Dia tidak dapat melawan biusan hingga akhirnya benar-benar lemas dan gelap.
dari buram tatapannya dia melihat ayahnya hanya berdiri memandangnya, "ayah...". seketika itu momon hanyut dalam buaian alam bawah sadar.
saat itu memang Momon terlalu banyak menghisap lem Uhuk dan Aybonne. meskipun sudah dilarang oleh dokter, dan telah keluar masuk panti rehabilitasi, kecanduan Momon akan kedua lem tersebut seakan tidak pernah usai.
Ia selalu sakaw bila lama tak menghirup uap lem.
kalau lagi sakau ia tiba tiba teriak teriak sambil melepas semua pakaiannya dan mulai melakukan gerakan skj 92.
dan diakhiri dengan gerakan sit ap yang sangat menyiksa.
Cukup mengenai lem dan skj 92, ada kasus pembunuhan yang harus segera dibereskan, batin Momon didalam lelap biusan mautitu, mencoba dan berusaha membuka matanya.
Belum sempat membuka mata, mendadak indera penciumannya mendeteksi sesuatu yang sama sekali belum pernah tercium oleh seorang makhluk manapun dikolong langit.
"Ufff...bau apa ini?" ujar Momon lantas memakai masker dan menyalakan senter di tangannya.
Bau itu adalah kombinasi harum duren yang disimpan dalam ruangan selama tiga bulan, dan petai cina yang ditumis dengan minyak jelantah dalam dapur kecil ditambah dengan bau knalpot metro mini.
Dengan gagah, Momon melewati bau yang aneh itu. Bau yang aneh bukan halangan baginya untuk tak meneruskan penyelidikan.
karena kedua lubang hidung momon telah disumbat dengan inhaler nan hangat.
"Prekk!". Momon menahan nafasnya. Terasa kakinya menginjak sesuatu, benda keras, kaku, sepertinya telah patah tak kuasa menahan beban. Dengan hati-hati sekali Momon mengangkat satu kakinya seraya mengarahkan sinar lampu senter ke arah benda itu.
Ternyata Momon menginjak kotoran kucing!
Anda tidak bisa ikut nulis kalau ndak login.
pitek: ngenteni endiks nambahi cerpen iki
alle: nungguin nining yang demen cerita detektip
chika: pakde, ini ceritanya tentang apa to? momon kok berbelalai? kalau berbohong makin panjang ga?
nining ss: mungkin itu hanya sekedar judul mbak chik.. agar jayus...
chika: oh iya, ini khan jayuz.. :))
mbilung: Di dalam tubuh yang jayus, terdapat jiwa yang maknyus.
ketuakelas: wuwungan ki opo?
chika: iya, wuwungan apaan ya?
funkshit: loh kok melayang2.. bukannya tengkoraknya di onggokan sampah
nining ss: hahahaha..
nining ss: wah hang aku...
nining ss: kok aku entuk jeneng karmin dari mandra ya?... aku tak ngombe sik wis...
funkshit: hehehe.. tnang ning. terselamatkan. Mungkin kowe lagi maca blognya fanabis
ketuakelas: wah nining ngaco iki
funkshit: nining masih sempet2 nya plirting lho
nining ss: momon to.. nganu ik.. yu marnine ngundange yo karmin.. hahahaha
ketuakelas: karmin ki selingkuhane
nining ss: wah kasusnya jadi duwa ya?
ketuakelas: kan bisa berhubungan to ya ning :P
ketuakelas: lagian ini untuk membereskan subplot mas karmin-mu itu
nining ss: haha.. dadi seru ya.. jadikan ini cerpen detektip sesungguhnya... sing membunuh ojo ngaku ya... nek tidak pake celana boleh... tapi jangan ngaku...
ketuakelas: bu lurah kan udah pingsan dari tadi, piye tooo
funkshit: horee... boleh tidak pake celana. *ucul ucul
nining ss: tangi njur pingsan meneh..
pitek: kok ga jorok yah?
paman tyo: buset! belum pernah saya masuk ke belantara teks yang membingungkan seperti ini. :)
mrbambang: tenang paman, tarif napas dulu :)
hatcaklet: pokoknya disambung-sambungin aja..
funkshit: ning.. kowe spg kit kat pow ???
andi: ya lah
nining ss: aku ora payu dadi SPG jarene kurang duwur sit
nining ss: hatcaclet kie sopo.. kok lucumen
Cm4nk: kkk *nyengir ma comment di atas* , terbiasa jadi orang pertama tunggal kykny *beugh,apa ini??*
rozz-aremania: terus-ane opo ning?
nining ss: piye?.. sembarang doms ah..
nining ss: lanjutkan saja.. biar menjadi kejutan
nining ss: piye to kie
ketuakelas: pembunuhe sopo ndoro? :P
nining ss: oo.. manggilnya papi to?
missmimit: andi tu ditendang aja!
nining ss: wah cerpen iki angel banget.. koyo matematika logaritma
ketuakelas: tamatke wae yo ning :P
neofreko: mungkin tiap cerpen harus dikasih deadline atau batasan kata. Kalo nggak bisa jadi novelista.com dong? :p
ketuakelas: kembali ke konsensus penulis sih, tapi memang ada baiknya jumlah kalimat dibatasi :P
neofreko: supaya tetep demokratis, mungkin pembatasan bsia diset saat awal penulisan cerpen oleh founder cerita.
ketuakelas: pembatasan jumlah kalimat?
ketuakelas: konsernku lebih ke isu beban ke server kalau nanti cerpen2nya ada yang sampai 1000 kalimat
neofreko: beban ke server? kan ada dagdigdug? :p
ketuakelas: loadingnya kan jadi lambat ton, capek jg usernya. mosok pake paging?
neofreko: apa yang salah dengan paging pak ketua? :D. Halah, jadi serius gini. Bikin cerpen lagi yuks ;)
ketuakelas: yuks
neofreko: lah, ini sudah mau tamat?
neofreko: kok jadi tukang ngeblog, bukannya ini cerita detektip? detektip blogger?
andi: ini ruang komenttnya kok ga keliatan penuh di kompu saya ya? cuma sebaris terakhir..
nining ss: meh sadar wae kok yo rak sido sido
endiks: crito opo iki
nining ss: padahal iki kie critane apik lho.. malah dadi gak genah ik..
awik: hahaha