Cerpenista - Ayo Ngarang Gotong Royong!

Register Cerpen Group Top Kontes Forum Login

Muzaki dan Syarifah : Antara Kikir dan Doi

Humor   Peserta Kontes Rasa Ramadan - Kategori Humor, dari regu Geass

Yo! Nama saya Muzaki, check it out, yo ! Saya bendahara Remaja Masjid bidang infaq, shodaqoh dan zakat. Umur 25 tahun, single, dan terancam status jomblo perak, alias 25 tahun belum pernah mengenal wanita, selain Ibu dan si bibik.

Yo! Terlepas dari secuil kekurangan yang saya miliki, saya telah berhasil melaksanakan berbagai misi penting bagi divisi yang bisa dikatakan TOP SECRET dalam struktur organisasi Remaja Masjid. Tolong dicatat itu, yo !

Sebagai Remaja Masjid, kami memiliki visi yang unik. Yaitu Amar Ma'ruf terutama dibidang sedekah, zakat dan infaq. Hal ini disesuaikan dengan kondisi komplek kami yang rada elit dikit, warganya borju tapi medit !

Oh yeah.. sekedar koreksi, kalian jangan salah paham ya, sebenarnya saya ini orangnya ngguan-teng dan simpatik. So why, saya belum pernah punya cewek, kekasih, selingkuh apalagi pacaran ??? Itu semua karena..

"Eh.. aa' Zaki.. koq ngelamun sih ?" wajah lembut Syarifah yang membuat aku tidak konsen taraweh, tiba-tiba menegurku dengan manis. AAh.. rasanya seperti diawang-awang. Semoga bujanganku bisa berakhir bersamanya. ops! Mikir apa aku ini. hehehe..

"Eh, Neng Ipah.. ehem..ehem.. Maksud saya neng Syarifah." oh nooo aku harus menjaga pronounciation-ku agar tetap berwibawa. Mempertahankan segala pesona kelelakianku. Yosh...

"Koq Ipah si Aa' ?" kerling Syarifah manja. "Kan bagusan manggil Syarifah.." godanya kembali. Oooh..Ya.. Alllooh. indahnya. setelah duapuluh lima tahun hidup sebagai bujangan perak! Dadaku berdebar kencang dan wajahku memanas. Aku Ge-Er berat!.

"Ehem.. maaf ya neng sepertinya tarawih sudah mau dimulai. Bagaimana kalau kita segera masuk ke dalam Mesjid." Appaa!! Apa yang kulakukan, dasar bego, adzan Isya aja belum mulai. Come on Zack, think of something...

"Aa' bisa aja bercandanya..." tawa Syarifah sambil membenahi kerudungnya. Wajahnya yang manis kian merona. "Lagi mikir apaan A' ?" kini bulat mata nan bening itu menatapku dengan jenaka.

"Ah..ya.. Ha..ha..ha.. Becanda-becanda... Ha..ha..ha.." wuih selamat. "Ah nggak ada apa-apa kok neng, A'a cuma belum buka aja tadi" Zack, not again "Tapi biasa kok neng, a'a emang selalu buka setelah Tarawih kok..".

"Hmmmm...?" tatapan jenaka Syarifah berubah menjadi tatapan mata menyelidik, "koq kuat ya Aa', bisa buka setelah taraweh ? Emang sahurnya apaan sih A' ?".

"Saurnya mah biasa, semur je.. Biasa neng, biasa aja ha..ha..Tadi juga sudah buka kolak kok di Mesjid, sedikit, batalin puasa aja" aduh-aduh gawat pisan ini. Gak tau kenapa kalo dekat Syarifah, bawaannya kacau terus. Matanya yang bulat jernih...

"A',.. aku suka lo sama cowok yang tidak kemaruk saat buka.." kata Syarifah malu-malu. Wajahnya merona merah, dan disembunyikan dibalik sisa kain kerudungnya. Duhaaai.. cantik nian. Aku semakin terpesona dan ge-er berat.

"Ahh.. si neng nih, bisa aja." lampu hijau euy.. "Oh ya neng, nanti selepas tarawih, kebetulan a'a ada perlu ke rumah neng. Kalau nggak keberatan.. itu.. anu.. A'a.. mau.." Arrrgghh...

Duh Gusti.. kenapa mulut tolol ini jadi gugup kalo bicara dengannya, otak encer ini mendadak idiot kalo berhadadapan dengannya, wajah ganteng seolah tidak memberikan kontribusi keren sama sekali. "Zakat...zakat," sambungku sekenanya.

"Waah kebetulan.. kita bareng aja, sekalian anterin Rifa pulang ya A'. Soalnya teh Frida lagi nggak tarawih, udah dua hari Rifa berangkat pulang tarawih sendiri.." pintanya penuh harap. "Mau, ya A'?".

YESSS !! Duuuh Gustii.... bulan Ramadhan adalah bulan rahmatmu, sorakku dalam hati. "Hayuk.. hayuk... ntar aa' barengin..".

Adzan Isya menutup pembicaraan yang Hepi Ending. Pas banget ya.. kaya adegan sinetron, biasanya disini ada lagu pengiringnya. Oh ya.. Kalo disinetronin, pasti pemeran diriku adalah Baim Wong atau Christian Sugiono, trus...

Pemeran Syarifah adalah Syarifah sendiri. Karena tak gadis lain yang cocok untuk melakonkan Syarifah. Duh Gusti, semoga skenario drama yang KAU berikan padaku ini bisa happi-ending. Amiiin. Dan kututup doaku, selepas taraweh itu.

Kusandarkan tubuhku dipagar pembatas mesjid sekeren dan se-cool mungkin. Memandang dengan penuh kerinduan ke arah pintu keluar jama'ah perempuan yang kini ramai.. Dimana kau bidadariku yang geulis bin semlohay nan imut. Come to papa, eh aa'...

Suara tadarus terdengar bersahut-sahutan di udara. Nuansa bulan suci begitu terasa. Ah.. indahnya bulan penuh kasih sayang ini... desahku sambil membayangkan wajah manis Syarifah. Duhai Syarifah...

"Maaf ya a', udah lama ya?" suara lembut itu membawaku kembali ke realita yang bahkan lebih indah dari lamunanku.

Duhai... ! Bulan ramadan memang bulan kasih sayang ... Duh Gusti... aku janji deh, ntar malam bakalan sujud syukur, tahajud dan tadarus. Telah kau anugrahkan momen terbaik bersama juwita ini.... Amiin.. batinku berdoa sambil menyambut Syarifah.

"Ah, nggak kok.. baru aja." juwitaku, tahukah engkau 15 menit menunggumu disini bagai berjam-jam. Tapi saat melihatmu, aku berharap mampunyai waktu lebih untuk menyiapkan kata. "Kita langsung aja ya..".

Syarifah hanya tertunduk malu sambil berlalu. Aaah.. rasanya jadi inget lagu kosidah jaman dulu ... indahnyaaaaaaaa ramadhan...

Adegan selanjutnya benar-benar jauh dari khayalan. Berjalan berdua malah membuat aku kian kikuk, parahnya lagi Syarifah juga tidak bicara sedikitpun. Mana rumahnya, tinggal 100 meter lagi. Ayo Zack, kamu bisa "Ehm..".

"Abah ada dirumah, neng ?" tanyaku malu-malu meong. Wajah kerenku seolah melayang entah kenapa. "Aa' mau anterin from zakat, sedekah dan infaq ke Abah, kalo boleh...".

"Eh, ada kok a'.." sedikit terkejut Syarifah menjawab. Apakah ini perasaanku saja, tapi dari nada bicaranya sepertinya Syarifah sudah menunggu kalimat pembuka dariku.

"Emang Aa' lebih suka ketemuan sama Abah ya, ketimbang Ifah ?".

"Hahaha.. ya lebih suka ketemu neng Syarifah lah. Oh ya, kok neng berani ya pulang sendirian?".

"Aa'.. kalo berani kan saya ndak minta dianter Aa'..., Aa' baik deh.." kerling manja Syarifah menggoda. Membuat dadaku berdetup mak nyut. Alamaaaak... ngimpi apa anakmu semalam... Ada bidadari khilaf sudi berjalan dengan anakmu..

"Ee.. kalau mau, aa' mau kok nganter Neng tiap malam." aku coba buat senyum sekeren mungkin, meskipun otot wajahku tidak mau bekerja sama.

"Yang bener nih Aa' ? Ntar ada yang marah lagi..." jawab Syarifah lembut. Ambooy... dadaku serasa meledak.

"Ah, nggak ada kok.. Malah aa' takutnya, ada yang nggak terima kalo aa' nemenin neng pulang." sahutku. Ya,.. seperti abah, ibu, atau... ah .. Pikiranku sudah mulai pesimis saja...

"Ndak ada koq Aa'.." jawab Syarifah pelan. Tersenyum malu-malu. Dan sekali lagi... aku merasa menjadi pemuda Indonesia terbaik sedunia. Hohohoho... ngimpi apa aku semalem. Mak-eeee.... aku gembira... maaak...

Dan sampailah kita didepan gerbang rumah Syarifah. Rumah ini terlihat lebih mencolok dibanding rumah-rumah disekitarnya, maklum Syarifah termasuk dari keluarga berada. Halamannya yang luas dan resik semakin menambah kesan megah pada bangunannya.

"Assalammualaikum.... Abah.. Abo. Ifah pulang.".

"Alaikumsalam..." terdengar suara perempuan dari dalam rumah..

"Abah, Abo... ada Aa' Zaki datang. Dia ingin ketemu Abah.." kata Syarifah sambil salam cium pada kedua orang tuanya.

"Masuk a'.." sambung Syarifah, melihat aku hanya berdiri di depan pintu.

***

"Hah... bener-bener Duh Gusti, deh, itu bokap.." kataku sambil menelan jatah sahur di pagi buta itu.

"Siapa sih ?" sahut Tomo, sobat bengalku di Remaja Masjid ini.

"Buapaknya Syarifah... Abah Haji Qarun.." sahut sambil bersungut-sungut. Ow... man, gw masih dongkol nih....

"..Whahahahaha.... bapaknya Syarifah, inceranmu itu ?...".

"Yoi, coy !".

"Emang loe diapain ?" tanyanya sambil menyambar panggang ayam di piringku. OW.. asyemmmmm.

"Gw tawarin ke tuh bokap. Om, ini ada formulir zakat fitrah. Barangkali Om berkenan untuk zakat fitrah dimasjid kita ini.., gitu..." jawabku sambil mengincar potongan besar semur daging dipiringnya.

"Nah terus ?" tanya Tomo tertarik. Makannya dihentikan. Pandangannya diarahkan ke aku. Yesss... dia lengah, sesaat lagi kesempatanku muncul.. daging semur itu akan segera menjadi milikku.. hehe.

"Nah.. aku juga bilang... ini juga sekalian, formulir zakat maal, infaq dan sodaqoh ..sekalian oom....saat itu juga ke bokapnya Syarifah, yang mulia Abah Haji Qorun..".

"..terus.. terus..?".

"Eh.. dia bilang gini : All-in-one ya ? Bisa di diskon dong.. ...".

"Huahahahahahahahahahha....!!!!!!" sahut Tomo dengan tawa berderai.

Aku meliriknya dengan sebal. Aha.. dia lengah... Seketika kusambar daging semur yang sedari tadi menggoda dipiringnya.

"Hoee... itu jatahku dodol..!!!" sorak Tomo berang.

"Wekekeke...." kataku terkekeh. Dengan santai kunikmati daging semur hasil rampasan perang tersebut. Perlahan kujilat lembutnya tekstur daging yang empuk. Nikmatnya bumbu semur segera menggelora di lidah. Sluuurppp....

Kemudian kutawarkan daging semur sisa jilatanku pada Tomo, ".. nih .. mau ?".

"Huek.... najis mugholadoh ...." omelnya.

Suara syahdu berkumandang di radio. Tandanya masuk imsyak. Dengan tertawa-tawa kutinggalkan Tomo yang masih mengomel. Sebotol aqua kuteguk hingga habis. Yosh.. sekarang saatnya siap-siap untuk shubuhan di masjid...

***

Subuh berlalu dengan cepat. Kemudian Dhuha. Dan tak terasa Dhuhur hampir menjelang.

Layaknya kerbau yang tak diurus, rasanya seperti itulah diriku disiang hari pada penghujung Ramadhan tahun ini. Males coy, panas dan haus. Mending kan bobo... la wong bobo aja berpahala...

"Mu-za-ki..!!!! bangun kebluk !!!" suara sangar melengking memaksaku bangun dari tidur hibernasi di siang hari ramadhan itu. Aww... si ibu pastinya itu.. keluhku malas.

"APANYA YANG TIDUR BERPAHALA ? SANA BANGUN CEPAT.. LAKUKAN SESUATU YANG BERGUNA, BIAR PAHALAMU LEBIH BESAR DARIPADA SEKADAR TIDURR.....".

"Yess... ma-am..." sahutku malas sambil beranjak ke kamar mandi. Duh Gusti.... padahal gw pengen bobo sampe jam buka puasa....

Dan kumandi cibang-cibung. Sambil berkubang. Mandi di siang hari saat bulan ramadhan adalah hobiku hehehe... Suegeeerrr tenaaan. Asal gak mak-cleguk aja... hehehehe.. Bisa batal itu mah.

Tiit... tiiit.... Handphone ku berbunyi. Siapa ya ..?.

"Assalammualaikum Aa' Zaki .. ini Syarifah..".

"W..w...wa alaikum salaaaam...." sahutku terbata-bata. Ow yesss... Syarifah telepon. MUngkin dia naksir aku hehehe... Gak rugi semalem ngimpiin dia...

"..ada apa ya say... eh Syarifah...?".

"..Aa'.. ntar malem ke Ampel yuk...? Ziarah.. kan Syarifah udah lama gak kesana...mumpung masih ramadhan nih ..".

"B..be..berdua aja dengan Syarifah ..??" tanyaku tak percaya. Duhai Gusti... terimakasih doaku untuk bisa bersama Syarifah Engkau kabulkan... yesss...yes... yessssssssss....!!!!! "Beres,.. kalo cuman berdua aja Aa' traktir deh disana..".

"Beneran nih Aa' ..?".

"Swear....".

"Makasih ya Aa'... Syarifah pamit dulu. Ntar abis taraweh ke sana ya ... Assalammualaikum..".

Klik ! Hape dimatikan. Aku bersorak. Alhamdulilaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah... yesss... yess. yess....!!!!.

"Apaan sih Zaki ? Norak banget tauk !!!!" sentak ibu dari belakang.

"Ah Ibu... ndak seneng lihat anaknya seneng aja..." sahutku sambil senyum-senyum.

Dengan gembira aku berlari kekamarku. Horeeeee.... akhirnya Syarifah menanggapi sinyal-sinyal cintaku.... yipeee...!!!.

Tulalit.... tulalit.... !!!!

Handphonenya Ibu berbunyi.

Aku tak perduli. Langsung saja aku ngeloyor ke garasi. Mau bersihin Ford Laser tua ex-taxi warisan bapak. NAnti malam mobil ini harus bersih, wangi dan ciamik... karena akan kupakai mengantar Syarifah...OOwwhhh berduaan aja... serasa mimpi...hehe.

Tiba-tiba...

"Zakiiiiiiiiiiiiiiiii... ada telepon dari Abah Haji Qorun. Katanya kamu mau nraktir beliao abis dari ziarah ke Ampel yaaaaa ?????? Beliao minta tolong dijemput di rumah.... sekalian Ibu Nyai Qorun, Pak Wadi, Bik Yem, dan Frida ikutan....".

"..kamu traktir mereka semua ya ZAkiiiii... .. jangan bikin malu Ibu lho.... !!!!!!" teriak Ibu dari ruang tengah.

"Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhh ???????????" sahutku terkejut.

Dasar kambing tua kikir... ....

***

Malamnya, selepas acara ziarah ke Sunan Ampel ...

Lelah, lemas, senang dan jengkel campur aduk. Apalagi dompet terkuras, karena harus mbayarin pengikut sekompi. Termasuk Abah Haji Qorun and the gank ... ah nasib.. punya tetangga kikir.....

Tiba-tiba, sebuah patroli jalan raya menghampiri ..

Aku terpaksa berhenti.

"Selamat malam Pak...! Bisa lihat SIM dan STNK nya ?" wajah seorang polisi terlihat menyapa disamping kaca ku. Duh Gusti... apa salahku ???.

"..Bapak barusan melanggar traffic light disana .." katanya.

"hah ?" seru ku kaget. Mana dompet tipis abis bayarin Abah Haji Qorun and the gank,... Gimana caranya bayar tilang ?????? Aku pusing.

..bayangin, duit dari mana coba ?.

Aku keringat dingin. Perutku mules, kondisi yang biasa kualami bila gugup dan nervous. Bayangan gelapnya penjara kian menghantui diriku. Arghh... think about something Zaki, kataku pada diriku.

Kulirik Abah Haji Qorun. Dia terlihat siul-siul cuek. Ahh... kambing tua sialan..., makiku dalam hati. Terus terang, aku dongkol berat. Orang lagi kesusahan koq ya cuek, dasar kikir... mbok ya bantu-bantu gitu...

"Huh.." aku mendengus kesal melihat tingkahnya.

Kali ini, aku ingin memberinya pelajaran...

hehe..., seulas senyum licik muncul dibalik kegelapan benakku.

"Begini, pak polisi.. saya ini cuman sopir. Kalo masalah surat-surat dan tilang, tolong sama juragan saya aja... ini beliau yang duduk samping...." ungkapku dengan tampang innocent, sambil menunjuk pada Abah Haji Qorun yang sedari tadi senyam-senyum.

"HAH ??????" sontak Abah Haji Qorun terkejut.

***

Tiga kali ramadhan kemudian ...

"..Jadi... Zaki.. kami serius ingin meminang Syarifah, putriku ?".

Kulirik Syarifah yang duduk disamping Abah Haji Qorun sambil tersenyum malu-malu. Ah... bidadariku....

"..ya Abah Haji .. putra saya Muzaki serius ingin meminang Syarifah putri Abah Haji Qorun..".

"Baguslah kalo begitu... Saya terima pinangan keluarga saudara atas putri kami...".

"..Bagaimana dengan mas kawinnya, Abah Haji Qorun ?" tanyaku dengan wajah memelas. Serius aku was-was nih..

"Gampang koq...".

"Melihat Zaki sebagai pria yang tangguh, saya sebagai mertua akan sangat senang sekali. Karena itu ..." Abah Haji berhenti sejenak. Matanya memandangku dengan penuh senyuman.

Kekikirin dan keculasan Abah Haji Qorun yang begitu kukenal membuatku semakin gugup untuk mendengar kata-katanya... Apa yang akan dikatakannya ?.

"Tolong sekalian kau nikahi juga si Frida, kakak angkat Syarifah. Biar aku tak usah repot-repot lagi memikirkan biaya hidupnya. Lagian, biaya sekali resepsi jauh lebih murah dibanding biaya dua kali resepsi...".

Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak......!!!! jeritku dalam hati. Si kikir ini melimpahkan semua beban keuangannya padaku.....

TAMAT

***

(DAN BERSAMBUNG, NANTI)


Anda tidak bisa ikut nulis kalau ndak login.