Romans Cerpen ini terbatas untuk anggota Group Loviano
Pada malam yang resah, seorang perempuan duduk sendiri di sebuah kafe. Secangkir coffee latte, sebatang rokok di antara jemarinya, dan asbak yang penuh, menemaninya.
Satu2 nya kesibukannya saat itu hanyalah mengirim sms dari mG00i kesayangannya dan kemudian menunggu jawaban sms. Sms untuk seseorang yang menjanjikannya pertemuan malam ini.
Kemudian nama 'Michael' muncul di layar ponsel, memanggil-manggil. Wanita itu lupa betul kalau ia telah berjanji menemani Michael ke toko buku usang.
Wanita itu panik. karena saat itu juga dia teringat dengan janjinya menemani Agung ke hotel X di kota Y.
"Halo Michael? Aku lagi di jalan nih, udah mau sampe tempatmu," jawabnya. Tentu saja dia tidak di jalan, dan masih jauh dari rumah Michael.
"Sorry ya klo ntar aku agak lama telatnya, soalnya disini macet banget. ada banyak demo" Lanjut wanita itu melengkapi kebohongannya.
Biar bohong, perempuan berhidung bangir itu tetap fokus. Otaknya berputar terus memikirkan cara berbagi dua lelaki pada malam yang sama tanpa harus membuat mereka kecewa. Diisapnya rokok di bibir perlahan, lalu asapnya dihembuskan keras.
Seiring dengan keluarnya asap dari sesela bibirnya, terangkailah sebuah skenario. Dia akan membagi malam yang sudah separo itu menjadi seperempat untuk masing-masing lelaki. Masalahnya, bagaimana saat dia nanti harus minta ijin pada lelaki pertama?
Ah ide itu akan selalu datang di saat terakhir, pikirnya cuek. Ditekannya beberapa tuts mg00i, membentuk rangkaian huruf yang bernada meminta "Aku sedang di kafe hulahula, kesini skrg ya beib", Sent to Agung.
Agung tengah menyetir BMW seri 7 barunya ketika HP titaniumnya yang tergeletak di dasboard menjerit kencang. Ia kaget dan hampir copot jantungnya. "SIapa sih ngagetin aja," Agung menggerutu.
Senyumnya terbersit di sudut bibir mengetahui siapa yang mengirim sms. Dengan cekatan, ia mengetikkan sms balasan sambil tetap menyetir , "Aku sudah OTW hanih, wait 4 me".
Sent to perempuanku.
"Silahkan ibu kapucino nya", Suara sopan pelayan kafe mengagetkan perempuan itu, membuatnya kembali dari lamunan nya. "Oh ya, terima kasih".
Cangkir kapucino itu hendak diambilnya ketika hapenya tiba-tiba menyalak nyaring. "Hmmm... it must be him," desah perempuan itu.
"Halo Sayang, aku udah sampe depan nich" , Terdengar suara Agung di ujung telpon.
"Aku tunggu di dalam ya mas...", saut perempuan itu.
Dia tegakkan duduknya seraya mengoles parfum ke sela lehernya. Kemudian dia berkaca, memastikan dirinya sudah cantik sempurna. "Ah, aku memang wanita memesona", batinnya.
"Hallo cantik!!", perempuan itu kaget ketika ada tangan yang memegang pundaknya.
"ah kamu ini sukanya ngagetin aja, duduk gih. apa kabar sayang?".
Agung menarik kursi di depannya, supaya bisa berdekatan dengannya. Rambutnya wangi, kulitnya halus tidak terperi.
"Kamu hari ini terlihat cantik banget sayang, kamu dandan khusus buat aku ya".
Perempuan itu mendesah. Dia kibaskan rambutnya, hingga tersibak keindahan lehernya.
Lalu, dengan gayanya yang manja, ia langsung melendot di pelukan lelaki itu. Hmm... wangi Bvlgari langsung mengelus hidung.
"Baru dari kantor ya, Beib..", tanya si perempuan manja. "Kamu terlihat seperti Po yang kecapaian naik tangga kuil, Beib..", ujarnya lagi sambil membelai manis pipi Agung.
Agung menyentuh mesra tangannya untuk mencium keharuman jari-jari tangan kiri perempuan itu.
sejenak mereka berpandangan...
lalu bersin berbarengan.
Huaatching ...
Lalu terbahak-bahak mentertawakan hidup, karir, dan cinta yang pahit diantara kesunyian kota hiruk-pikuk.
Ah lelakon. Kadang sedih, kadang gembira. Kadang suka, kadang menguras air mata.
Lalu telepon itu berdering lagi. "Sebentar ya beib," ujar perempuan itu.
Diliriknya layar HP itu. Tanpa caller id. Siapakah gerangan monyet iseng yang menggangguku? pikir perempuan itu.
"Halow?" jawabnya.
Tak ada suara apa pun di seberang. "Halow ... halow ... siapa?" tanya perempuan itu lagi sedikit kesal.
Tetap tidak ada suara.
Perempuan itu lalu menutup HP, dan menoleh ke Agung.
"Udah lama ya Mer nungguin gw? Ngapain aja luw di sini? Baca buku?" kata Agung.
"Gitu deh. Nggak apa-apa kok," jawab yang ditanya. "Menunggumu itu sebuah pekerjaan yang menyenangkan.".
Lagi-lagi telepon berdering. Kali ini dari Dinta.
Dinta adalah sobat lama perempuan itu. Dialah yang sering menyelamatkan perempuan itu pada saat-saat genting.
"Mer, luw jadi nemenin gue kawinan Tante Eca kan?" rangkaian aka yang padat dan cepat mengalir tepat setelah telepon diangkat.
"Heh, eh, engg ... anu. Kawinan ya? Kapan sih, gue lupa, Din," jawabnya tergagap.
"Tante Eca! Tante Guwe! Masak luw lupa sih! Minggu kemarin kan kita fitting bareng!?" cerocos Dinta.
"Oh iya, hehehe ... Sorry, guwe lupa. Jadi dong. Lo jemput gue kan?".
"Emang lo dimana seh nyet, klo searah sih gwe jemput ", balasnya.
Kesediaan Dinta menjemput ibarat pucuk dicinta ulam tiba. Jemputan Dinta akan membebaskan dia dari Agung. Dia tak perlu lagi menemani Agung duduk berlama-lama. Buru-buru dia menjawab, "Searah kok, Nyet. Gue di kafe yang biasa. Lo masih inget, kan?".
"Ah lo disitu, ni gwe dah deket. Palingan juga 5 menit nyampe.".
"Ya udah, gue tunggu ya," katanya singkat. Ia lalu berpaling ke Agung. "Gung, sorry yach. Aku mesti pergi nih.".
Ia segera berbenah dan memanggil pelayan untuk meminta bill.
"Kok kamu gitu seh beib, aku kan baru aja nyampe", tangan nya meraih tanganku, tidak mengijinkanku pergi.
Perempuan itu mendesah seraya berpikir, apa gerangan alasan yang sebaiknya dia keluarkan?
Disunggingkannya senyuman paling manis. "Kita kan bisa ketemu lagi besok, aku udah ditunggu temen nich. Ngga papa kan sayang".
Agung menggeleng.
Kecupan kecil mendarat mulus di pipi agung, seakan menghibur hatinya.
Agung membalas kecupan ringan itu di kedua pipi perempuan itu. "Mau kuantar, beib?" katanya sopan.
Lagi-lagi kudengar kata-kata yang baru saja terucap dari Agung. Dan Aku pun seakan telah terbiasa untuk berucap manis dihadapannya.
"Nggak usah, Beib. Aku dah ada yang jemput. Kamu terserah mau ke mana.".
"Oke deh beib, see you again yaaa". kubalas kata-kata Agung dengan senyum yang seakan berat untuk kuukirkan.
Aku bergegas melangkahkan kaki menuju pintu keluar dan meninggalkan Agung yang terlihat sangat kecewa.
Di luar kafe, Dinta sudah menunggu dengan wajah dongkolnya yang khas. "Gaun lo mana Mer!?" tanya dia, tidak sabar.
"Udah gak usah banyak tanya dulu. Nanti kuceritain di jalan", ujarku sambil masuk ke dalam mobil.
"Jadi lo habis sama cowo yang mana nich. . ", Tanya Dinta sambil nyengir ketika mobil sudah mulai berjalan.
"Udah ah, diem lo. Gue lagi bete neh. Si Agung nyosot mulu," perempuan itu nyerocos.
"Dinta, sori banget neh. Gw gak bisa ikut ke acara kawinannya Tante Eca", kataku sambil memasang wajah penuh penyesalan.
"Syukur deh, seenggaknya jatah makanan bisa aman kalo elo gak ada," kata Dinta ringan. Mendengar kalimat itu aku kontan ingin mencubit pipi Dinta sekeras kerasnya.
Tapi, Dinta keburu ngacir sambil tergelak melihat mataku yang sudah melotot ke arahnya.
Anda tidak bisa ikut nulis kalau ndak login.
ketuakelas: aku suka kalimat ini: "Agung menyentuh mesra tangannya untuk mencium keharuman jari-jari tangan kiri perempuan itu"
funkshit: klo suka dibales donk mon... cium balik ;)
nonadita: Kok suka yah nyium tangan kiri? Hiihh... padahal kan?
antobilang: sudah buka 4 cerpen, isinya terakhir siwil melulu. bingung mo ngapain abis itu.
funkshit: idem sama tobil
mbilung: mungkin perlu dibuat group [No Siwil]
ndoro kakung: tendang siwi ... kekekek ...
senandung: dan...dimana ada ndoro, disana ada BVLGARI. ;))
nicowijaya: lagi mikir ini sudut pandang pernceritanya dari mana?
ketuakelas: bingung ya nic?
nicowijaya: sudah tidak
nonadita: Tadinya ini bersudut pandang orang luatr, liat aja awalnya: "perempuan itu". Eh sekarang malah jadi "aku". Aakkakaka.... piye?
funkshit: ini namanya improvisasi sudut pandang, supaya tidak bosan. *ngeles