Detektif Cerpen ini terbatas untuk anggota Group Elek Yo Band
Hari Sabtu itu semua orang di Hotel Dekker panik karena seseorang mengabarkan dirinya telah memasang bom bunuh diri yang akan meledak satu jam lagi. Tim Polisi pun langsung ditugaskan untuk mencari dan mematikan bom itu. Diantaranya adalah Habib.
Sersan Habib telah bertugas di Kepolisian selama 14 tahun, namun baru inilah kali pertamanya ditugaskan dalam misi darurat seperti ini. Bersama dia dalam kendaraan anti-bom yang meluncur ke TKP terdapat 2 orang Polisi Wanita.
Akhirnya ia masuk bersama para anak buahnya.
Semua orang telah dievakuasi keluar gedung. Kecuali satu orang, yaitu seorang pria paruh baya pemilik Hotel ini, yang merasa tidak perlu dievakuasi karena ia menganggap hidup & matinya tergantung pada Hotel ini.
Ia memang ingin menghabiskan masa tuanya bersama hotel ini.
Baron van Tijompow, pria lanjut usia itu duduk dengan gagah di atas meja resepsionis hotel. Habib beserta anak buahnya mulai berusaha menginterogasinya.
Sementara itu anak buahnya yang lain sedang memcari-cari bom itu di setiap lantai dengan teliti.
Kania, salah seorang polwan anakbuahnya pun berlari ke arah dapur hotel, sementara Tasya mengambil master key untuk menggeledah semua kamar. Keduanya disertai oleh tim penjinak bom dengan pakaian lengkap.
Rafi memakai baju anti bom dengan teliti memeriksa setiap kamar. Sementara itu sudah 10 menit yang terbuang.
00:50.00.
Alat pendeteksi bom berbunyi. Bunyinya makin kencang ketika mendekati kamar 313. Apakah bomnya ada di kamar ini?
Ternyata benar, Rafi segera meyalakan alarm kepada beberapa temannya.
Seluruh anggota pasukan pun bergegas menuju ke kamar 313. "Bagus bung Rafi, kita sudah menemukan lokasi bom, sekarang tinggal bagaimana kita bisa masuk ke kamar ini." ujar Sersan Habib.
Tetapi, ini lebih sulit dari yang dibayangkan ternyata, kamarnya adalah kamar VVIP yang besar dan juga berantakan.
00:43:20.
Mereka berusaha mencari cari bom di kamar VVIP itu.
15 menit telah berlalu tanpa hasil. Alat deteksi metal yang mereka pergunakan pun hanya berhasil mendeteksi barang-barang metal yang tak berguna...
Mereka semakin deg-degan, detik demi detik, mereka terus mencari.
00:27:32.
Lalu Rafi duduk didekat sebuah meja di kamar itu, dan ketika dilihat ternyata bomnya ada di dalam gelas di atas meja tersebut.
Namun, ketika bom dalam gelas itu disentuh oleh Rafi, tiba2 timer bom itu menjadi bergerak sangat cepat hingga akhirnya hanya tersisa 00:00:59.
"Sekarang ini, satu detik saja sudah menjadi sangat berharga" kata sersan Habib mendekati bom itu.
00:00:42.
"Oh, ya aku tau, kenapa kita tidak lempar saja bom nya ke udara, sekalian gelasnya" kata Rafi.
Tetapi, ternyata bom itu tak bisa diangkat, karena bom itu merekat kuat di lantai.
00:00:23 "Kalau begitu berarti kita harus memotong kabelnya" kata sersan Habib. Lalu Sersan Habib dan penjinak bom lainnya berusaha untuk memotong salah satu kabelnya.
"Tinggal dua kabel tersisa, merah dan biru.." kata sersan Habib pada rekannya. "Mana yang kau pilih, sobat ? Salah pilih warna akan membuat kita berangkat ke akhirat.." canda garing Sersan Habib.
00:00:15 "Tidak ada jalan lain, aku akan memotong kabel biru".
"Kau yakin ? Jangan katakan keputusanmu itu hanya mengandalkan asumsi..".
"Ya, aku yakin", jawab Rafi, iapun segera memotong kabel itu dan..
00:00:10 Tak terjadi apa-apa, detik kian melaju, Rafi terhentak ketika mengetahui bahwa keputusan yang di ambil tak berpengaruh.
"Tidak ada jalan lain.........Lariiiiiii teriak sersan Habib, Semua polisi dan penjinak bom segera loncat melalui jendela.
Semua petugas telah aman di luar gedung. Beberapa menit berlalu, tak ada yang terjadi. Lalu mereka bersorak-sorai, sampai sang pengancam tadi kembali menelpon dan berbicara sesuatu...
"hahahaha, kalian berhasil mematikan salah satu bom nya, tetapi masih ada 2 bom lagi yang sangat tersembunyi dan sulit dijinakkan. Kalian masih punya waktu 20 jam" kata sang pengancam.
Semua kaget dan dalam sekejap suasana kembali panik. Saking paniknya, Sersan Habib sampai jantungan, dan segera digotong tim medis.
Semua polisi dan para penjinak bom segera masuk kembali.
Sesampainya di lobi hotel, mereka di hadang oleh sekitar 8 orang misterius berjas putih. Dan yang berada di tengah kelompok itu sepertinya ketuanya.
Kedelapan orang itu ternyata juga mengenal Kung Fu.
"Hei! siapa kalian?! Ada perlu apa kalian berada di gedung ini?!" tegas Pak Manto, salah satu anggota tim penjinak bom.
"Tak semudah itu untuk menghentikan kami " kata oarang itu.
"Kami semua telah memegang remote peledak, Jadi bisa saja salah satu di antara kami menekan tombol peledak kapanpun..." lanjut orang itu dengan senyum bengisnya.
Sebernarnya mereka tidak memegang tombol apapun, orang-orang itu hanya menggertak para polisi.
"Satu hal, yang harus kalian ketahui, kalian takkan bisa menghentikan kami!" gertak salah seorang misterius itu & langsung meledakkan sebuah bom asap. Mereka lenyap! Para polisi sangat bingung dibuatnya. Mereka tak tahu motif apa yg diemban org2 itu.
Sementara itu, polisi yang lain sedang sibuk mencari-cari bomnya.
Mereka tahu, bahwa bom-bom itu pasti diletakkan pada suatu tempat dengan penuh teka-teki. Untuk dapat menemukannya mereka harus memecahkan segala petunjuk yang ada. Apa-apan orang-orang misterius itu?!
Waktu terus berjalan para penjinak bom belum juga menemukan jalannya.
Petunjuk pertama yang mereka dapatkan adalah sebuah lukisan bergambarkan nelayan yang membawa jala, dan di jala itu ada sebuah bom. Lukisan itu mereka dapati di dalam peti di kamar 202.
Tetapi, kamar itu terkunci.
"Sersan, kenapa kamar ini tiba-tiba terkunci begitu kita dapat lukisannya?" tanya salah seorang anggota kepada Sersan Habib.
"kalau begitu, kita dobrak saja pintunya !" jawab sersan HAbib.
"Baiklah..1..2..", sersan Habib mulai memberi aba-aba, dan.."Tiga!". Gubraak. Sersan habib dan anak buahnya berhasil mendobrak pintu kamar. Mereka mendengar suara timer bom, dan setelah dilacak bunyinya, bom itu berada di dalam kotak besi penyimpanan.
Semua orang yang ada di situ panik karena timer bom hanya memberi waktu 30 detik sebelum meledak. "Semua keluar!!" perintah Sersan Habib. Namun, semua lampu di koridor lantai 2 tersebut mati seketika.
Pats! Koridor ini menjadi gelap, ditambah lagi hanya ada satu jendela di pojok koridor. "Lihat, itu dia pintu tangga darurat!", kata sersan Habib. Namun...
Blap !! Mati lampu. Power down rupanya. Dikejauhan terdengar bunyi ledakan. Seperti sumber listrik down. Seluruh kota gelap gulita.
Mereka bergegas keluar melalui pintu darurat. Setelah berlari tunggang langgang sedemikian rupa, akhirnya mereka berhasil mencapai lantai dasar. Namun, masalah masih menyambut mereka.
Anda tidak bisa ikut nulis kalau ndak login.
RaisFawwazi: Perjuangan untuk mencari dan mematikan bom dalam waktu satu jam
totohs: boleh lucu2an gak om Raiz? hehehee...
RaisFawwazi: Boleh
RaisFawwazi: Jalan ceritanya mau bagaimana nih
totohs: gaya action yuk?
RaisFawwazi: mksd
totohs: suspense gituloh..
Jaliko: Rafi itu siapa lagi?
RaisFawwazi: anak buahnya
totohs: Fauzi itu sapa lagi???
totohs: wah, masih 27 menit mosok bomnya dah ktemu...
Jaliko: Maksud gw bom dalam gelas itu... T_T
angin berbisik: nimbrung..boleh ya
Jaliko: Yoha
Istifajar: ikut nimbrung ahh ;)