Romans
Bobi tidak bisa menyesal. Istri itu pilihannya sendiri. Tapi ia tetap saja sulit menerima istrinya apa adanya. Apapun yang Rina kerjakan, semuanya salah dimata Bobi. Ia harus ke psikolog utk minta nasehat.
Bobi akhirnya datang kepada seorang psikolog terkenal dikotanya. Sebut saja namanya Hanum Mekar.PSi, seorang psikolog yang sudah sangat terkenal. Tepatnya pada hari kamis sore Bobi datang ke tempat psikolog tersebut.
Dengan gelisah Bobi menunggu giliran konsultasi. Maklum psikolog yang satu ini banyak pasien.
"Pak Bobi, silakan" Bobi masuk ke ruangan psikologi itu. "Bu Harum, saya salah pilih istri. Sekarang saya tertekan. Apa yang harus saya lakukan, Bu Harum yang cantik?" Parfum psikolog itu membuat Bobi tersenyum sendiri.
"Begini Pak Bobi, kenapa bapak menganggap bapak salah pilih istri?". "Iya setiap pekerjaan yang dilakukan istri saya tidak pernah benar".
Dengan nada agak rendah Bu Hanum mencoba memberikan analisanya. "Pak Bobi, dari keterangan bapak tadi, saya bisa menyimpulkan bahwa terjadi kegagalan komunikasi, antara bapak dan istri bapak".
"maksudnya apa Bu?"tanya Bobi bingung."Tidak adanya komunikasi dua arah antara Bpk dan istri!, ada beberapa hal penyebabnya, bisa karena terlalu singkat masa perkenalan Bpk dengan istri dulu,bisa juga karena skala pertemuan Bpk dan istri menurun atau.
Sudah tidak ada saling percaya antara bapak dengan istri.
Bobi semakin binging.
"lalu bagaimana bu? apa saya perlu mencari wanita lain yang lebih baik?" tanya bobi yang sudah gelisah.
"Jangan dulu pak, lebih baik bapak isi dulu kuesioner ini dulu untuk mengetahui kondisi psikologis bapak. Baru setelah itu kita mencari alternatif yang lain. Jangan main cerai aja pak. Memangnya artis?" Bu Harum tersenyum sambil merapatkan tubuhnya.
Bobi-pun dengan serius menjawab satu persatu pertanyaan yang ada dalam kuesioner itu.
Hampir 4 jam Bobi mengisi semua kuesioner yang diberikan Bu Hanum, Tentunya Bobi sangat penasaran dengan hasil test tersebut.
Entah kenapa tiba-tiba timbul amarah dalam dirinya. Untuk apa ia lakukan ini semua?. Seharusnya Rina yang berurusan dengan psikolog bukan dirinya!. Bukankah ia merasa perempuan sudah yg menjadi istrinya itu,membuat hidupnya seperti dineraka sekarang?
lalu.........
Menghela nafas dalam-dalam....., heh....
HP dikantung celana Bobi bergetar, ternyata Istrinya mebghubunginya. Saat diangkat Bobi mendengar suara penuh amarah..
karena Bobi tidak mau meladeni amarah istrinya, dia memberikan hape-nya kepada psikolog.
Dengan agak ragu-ragu, bu Hanum menerima telpon dari pak Bobi. "Halo......" kata bu Hanum.
"Halo..ini siapa?!"terdengar teriakan seorang wanita disebrang sana. "Saya Hanum, psikolog suami anda,saat ini suami anda sedang berada diruang praktek saya". "Lho ngapain dia disana?". "Dia ingin advise saya utk memperbaiki masalah rmh tangganya".
"Lho, anda kok ikut2an sih Bu Harum, jangan ikut campur urusan rumah tangga orang lain ya!! Mentang2 anda itu psikolog, lalu seenaknya ikut campur!!" Suara wanita itu terdengar emosi, sampai 100 meter jauhnya. "Lho Bu, itu kan memang pekerjaan saya!".
"Sabar Bu, suami anda sdh dtg kpd saya dg niat baik,yaitu ingin kembali harmonis dg anda, apakah anda tdk berniat juga seperti itu?.Terkdg problem rmh tangga juga memerlukan org ke3 bu,sbg jembatan antara suami istri.
"Anda jangan sok tahu ya!!! Memangnya anda tahu masalah apa yang ada di rumah tangga saya!!??".
Llau tiba-tiba dengan emso yang meledak telepon lalu saya tutup.
Bu Hanum memberikan HP Bobi. "Istri anda memang temperamental,apakah anda sdh mengetahuinya wkt berkenalan dulu?". Ah, dulu dia seorg gadis yg lembut dan sabar kok bu, mangkanya saya nikahi! ujar Bobi. "Hm..tentu ada yg menyebabkan dia berobah..
"Tapi apa ya, penyebabnya?".
Bobi termenung.....mencoba mengingat-ingat apa penyebabnya. Dan...
Akhirnya ia tahu!!! Semuanya karena Bobi selalu tunduk pada perintah maminya. Selama ini mereka memang tinggal bersama Mami Bobi yang selalu minta dilayani terlebih oleh sang menantu.
Dan Bobi memberitahukan hal itu ke psikolognya.
Selama Bobi berbicara, Dokter Hanum hanya terdiam. Tangan kanannya menopang dagunya. Di saat-saat tertentu, sang dokter memberikan anggukan tanda setuju. Tetapi tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Ekspresinya pun kosong bagaikan mayat hidup.
Ia membayangkan, apa yang harus dilakukannya jika dirinya ada di posisi Bobi, kemudian Hanun berdiri dan mendekati Bobi.
"Mas Bobi...", Hanum memulai pembicaraan.
"Ya bu Hanum" jwb Bobi."Anda msh mencintai istri anda?!"."Tentu Bu Hanum"jwbnya tegas. "Kalau bgtu jgn sermh dg Ibu anda! anda hrs benar2 membentuk rmh tangga sendiri. Sebaiknya pisah kota.Anda skrg sdh beristri,bedakan tg jwb kpd istri dan Ibu anda!
Tapi...bu, sebelum menikah istriku sudah tau bahwa orang tuaku bersamaku dan menjadi tanggung jawabku", jawab Bobi.
Nafas berakhir d ujung sya'ban, myra harus tegas untuk membesarkan 2 anaknya.
Bobi sudah nekat, ia harus tetap menjalani hidup ini. Rina boleh tidak sayang kepadanya. Tapi ia masih sayang dengan anak2nya, dan juga ia tertarik kepada dr Hanum itu...
Semakin bulat tekadnya untuk tidak hidup serumah lagi dengan Rina.
Bobi ingin setia pada Rina istrinya, tapi istrinya itu tidak menghargai dia. Di sisi lain, Bobi mulai suka dengan Bu Hanum.
Bu Hanum bukan orang yang suka dengan lelaki beristri..dia memutuskan untuk menemui Rina secara diam-diam di sebuah kafe di daerah kota. Dengan setelan rapih dan berwibawa, bu Hanum memasuki ruangan kafe yang diterangi cahaya termaram.
"Ini tampaknya bukan ide yang bagus.." Bu Hanum mulai menyesali tindakannya menemui Rina di kafe itu. "Tapi, apa yang harus kulakukan?" Asap rokok menyengat hidungnya. "Bu Hanum, sudah lama di sini? Saya Rina, istri Bobi".
Dengan memyembunyikan rasa kaget dihatinya, Bu Hanum lama menatap wajah Rina, baru dia menjawab...
"Oh..tidak..belum telalu lama..", tak sia-sia Ibu Hanum mempelajari psikologi, dia berhasil menyembunyikan kegugupannya saat itu. Didepannya berdiri seorang wanita yang terlihat cantik dengan jaket merah tua.
Bu hanum-pun memulai pembicaraan.
"Maaf Bu Rina saya msh terlibat dlm konflik rmh tangga anda, suami anda msh pasien saya, dan skrg jiwanya sdg labil". "Maksudnya?" tanya Rina. "Seblm saya menjlskan, jwb dulu pertanyaan saya, apakah Ibu msh ingin mempertahankan rmh tangga Ibu?".
Anda tidak bisa ikut nulis kalau ndak login.
RaisFawwazi: bingung
nevesno: yang ngerti psikologi hayo diisi
andi: lakonnya tiga aja ya: dra hanum, bobi, rina/ ny bobi
andi: bobi rasanya ingin selingkuh dg bu hanum psikolog, tapi takut dosa, dan takut ketahuan rina istrinya
andi: @onyet: idenya bagus juga, bu hanum dalam konflik batin antara selingkuh dengan bobi kliennya, atau tetap profesional dengan bertahan tidak selingkuh. bagus onyet...!!
Onyet: makasih2