Cerpenista - Ayo Ngarang Gotong Royong!

Register Cerpen Group Top Kontes Forum Login

Senandung Cinta Terakhir di Atlantis

Romans   Cerpen ini terbatas untuk anggota Group Dramanista

"Di hadapan Selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itulah kerajaan Atlantis." -Timaeus, Plato.

Perang antar bangsa yang telah berkecamuk bertahun-tahun telah menyeret Atlantis menjadi sebuah kekaisaran penakluk yang ditakuti.

Perang yang pada awalnya hanya melibatkan bangsa-bangsa di dalam Pilar Herkules (Selat Gibraltar saat ini) dengan bangsa-bangsa di luar Pilar Hercules ini berubah. Menjadi sebuah penaklukan dunia secara besar-besaran.

Tyrrhea, beserta negeri yang kini disebut sebagai Libya dan Mesir serta sebagian benua Eropa telah takluk dibawah kuku kekuasaan Atlantis.

Bahkan kini, Aliansi Athena menjadi korban keperkasaan armada laut Atlantis. Hampir seluruh negara yang terlibat dalam aliansi athena telah dihancurkan.

Dan akhirnya, hanya Athena sendiri, satu-satunya negara yang berani mengangkat senjata melawan Atlantis.

Pertempuran yang tidak imbang tersebut seolah tidak memberikan kesempatan menang bagi Athena. Namun, perlahan tapi pasti, Athena mulai mencaplok kekuasaan-kekuasaan terkecil di garis terluar wilayah penaklukan Atlantis.

Pusat pemerintah Atlantis berada pada sebuah pulau yang sangat luas.

Alamnya kebanyakan terdiri atas pegunungan diwilayah utara dan pantai, yang seolah membentuk benteng alamiah. Benteng pegunungan ini melindungi padang rumput yang membujur ke selatan sejauh 3000 stadia (600 kilometer ukuran sekarang).

Sementara ditengahnya meluas hingga 2000 stadia (400 kilometer).

Atlantis, seolah memang tercipta untuk sebuah negara ideal dimasanya. Benteng pegunungan yang alami, mengitari sekitar pulau, akan sangat menyulitkan musuh yang datang dari luar menyerang. Alamnya yang subur, menjamin kemajuan peradaban Atlantis.

*************************************************.

Rambutnya hitam melambai diterpa angin pantai. Tubuhnya yang molek dibungkus oleh busana putih seorang priestess pelindung Atlantis. Sementara mata birunya nan lentik menatap lurus dikejauhan.

"...Athena..." ucapnya lirih.

Wajah cantiknya terlihat galau. Wajah cantik seorang putri Atlantis. Wajah cantik yang membuat Poseidon, tergoda untuk meminangnya. Tergoda untuk membuang statusnya sebagai pendeta wanita pelindung Atlantis.

"Rupanya anda disini, yang mulia Cleito, Priestess pelindung Atlantis ?" seseorang menegurnya dari belakang.

Matahari yang nyaris terbenam dibelakang Cleito, membuatnya silau. Tak mampu melihat dengan jelas sosok tersebut. Namun dia seolah hafal, siapa pemilik suara tersebut.

Tanpa berusaha lebih lanjut untuk melihat siapa pemilik suara tersebut, Cleito kembali menghadapkan wajahnya ke arah cakrawala laut di kejauhan.

"Atlantis.. negeri ini.. sudah dikuasai oleh orang-orang yang diluar batas kewajaran..." ujarnya lirih. "Menghancurkan negeri orang lain, menumpahkan darah...".

Suara dibelakang Atlantis melangkah maju. Melangkah hingga dia berada dua meter di depan Cleito. "Yang Mulia Priestess, penyerangan adalah pertahanan terbaik..".

"Sebelum seluruh ancaman takluk dibawah Atlantis, Aku Poseidon tak akan kalah..." lanjutnya.

Cleito melirik Poseidon dengan wajah sebal. ".. kalo begitu kita punya pendapat yang berbeda..".

".. kau hanya khawatir orang disini tidak mengakui keberadaanmu yang hanya menjadi bayang-bayang sore hari dari Poseidon Sang Penguasa Laut..." sindirnya. "..karena itu rela menumpahkan darah orang negeri lain..".

Poseidon tersenyum lembut mendengar hujatan itu. ".. tidak yang mulia Priestess. Memang aku ingin sebesar Poseidon Sang Penguasa Laut, yang mampu memimpin negara lautan dengan Bijak...".

Poseidon melanjutkan,".. Dan aku ingin seperti dia yang mampu mempersunting Cleito Sang Dewi Atlantis... Namun bukan itu alasan ku bertempur menaklukan negara-negara lain..".

Belum sempat Poseidon melanjutkan, Cleito sudah memotong ucapannya , "Kau pikir ada pembenaran untuk sebuah invasi ? Mengacak-acak negeri merdeka orang lain ? Menumpahkan darah orang lain di negeri mereka sendiri ??? ".

Wajah Cleito memerah karena marah, "Omong kosong dengan semua ideologi pembenaran perang ini. Dimataku, itu semua ucapan manis penguasa serakah !! Dan konyolnya, separuh terbesar penduduk negeri ini menyetujuinya. Moral macam apa itu ?????".

Poseidon menggeleng perlahan sambil tersenyum. Perbedaan ideologi diantara mereka memang terlalu tajam. Pemikiran nya sebagai seorang laksamana laut dan pemikiran Cleito sebagai seorang priestess pasti sangat bertolak belakang.

"Rasanya aku harus pergi sekarang.." tukas Cleito beberapa saat setelah keheningan menyelimuti mereka.

"Kalau begitu, saya permisi dulu.." Poseidon mohon diri. Dan mereka berpisah.

Dan malam pun datang ketika beberapa menit kemudian mentari tertidur lelap dibelahan lain dari Atlas. Langit malam yang cerah tanpa bintang memayungi keindahan negara satu pulau, Atlantis.

Percikan air laut memantul bak kristal yang merayap di permukaan birunya samudra.

Didalam biliknya, Cleito kembali dilanda gundah gulana. Kenyataan bahwa negerinya telah menjadi negeri penakluk, penjajah dan penindas adalah hal yang paling meresahkannya. Karena dia adalah Priestess yang percaya akan karma.

Larut malam tiba ...

Cleito tak bisa memejamkan sepasang matanya. Terlalu banyak pikiran dan kegalauan yang bersarang di benaknya.

Bilik kamar itu terasa begitu sempat dan menyesakkan, bagi Cleito. Dia merasa lelah dan letih. Lelah dan letih untuk selalu merasa cemas dan khawatir.

Cleito merasa resah ! Dan ia memutuskan untuk pergi ke tempat dimana tadi siang Poseidon menemuinya. Tempat favorit Cleito, dimana ia bisa memandang laut, sekaligus kehidupan warga Atlantis. Tempat dimana di sering menghabiskan waktu melamun sendiri.

Dibawah siraman sinar bulan, Cleito kembali terpekur ditempat itu.

".. idiot.." maki Cleito resah. Entah pada siapa dia memaki.

Suasana kembali hening. Hanya bunyi binatang-binatang malam yang menemani Cleito. Dan bintang. Dan rembulan diatas. Juga angin. Cleito... kembali larut dalam resah lamunannya.

Angin malam pun berhembus. Membekukan hati Cleito yang resah.

***

Dan sang waktupun bergerak dalam putaran rodanya.

Hari berganti hari ............. Cleito sedang melamun? Cleito duduk sendiri menatap angkasa, melihat burung-burung terbang .... Cleito resah, gelisah dan hanyut dalam lamunannya.

ada bersitan panggilan jiwa yang terus membisikan sesuatu kedalam hatinya.

Cleito masih melamun, rasa gelisah bergejolak dalam qalbu, kesepian yang dirasa kian memuncak, "Sepi sendiri" (ungkapan dalam batinnya).

Cleito ... resah, gelisah .... rasa itu kian memuncak.

Dan tiba-tiba Cleito mendengar sesuatu yang mendekat kepadanya dari jalan berdebu di belakangnya.


Anda tidak bisa ikut nulis kalau ndak login.