Kisah Sejati
Hari ini saya mengajaknya bercerita, tentang kesalahannya. Dia menjawab dengan begitu lancar, seakan tidak pernah terjadi apa apa. Nada bicaranya, tutur katanya, raut mukanya tidak menandakan kalau dia punya salah pada seseorang.
Saya coba untuk mulai berbicara dengannya, mencoba untuk meberitahukannya bahwa dia salah telah meninggalkan temannya sendiri.
Tapi, dia nampaknya kurang memahami topik pembicaraanku. Dia tetap diam memaku. Saya mulai kesal dengannya.
Berhari-hari dia selalu bersikap yang sama. Tak pernah dia mau tahu sedikit pun tentang apa yang aku rasakan. Jelas dia yang salah. Dia telah membuatku cemburu!
kenapa bukan aku yang menjadi topik di setiap pembicaraannya, justru orang lain. Orang lain yang mungkin hanya sesaat memberikan kenyamanan untuknya. Sedangkan aku selalu ada untuknya. Mungkin aku terlalu kecil di matanya, ya kecil seperti semut.
Kadang dalam benakku terlintas pikiran bahwa sekecil itukah aku, setidak berharga itukah aku samapai sampai untuk menyatakan sesuatu begitu sulit untuk memulainya.
"Idha, saya ingin kamu jujur...Apa yang sedang terjadi padamu?" Dengan sedikit menekan suara.
"Tidak terjadi apa-apa" jawab Idha dengan sedikit cuek.
Aku hanya diam. Sedikit tersipu. Kucoba memandang matanya dengan tatapan yang lebih dalam, lebih intim. Kemudian aku melanjutkan kata-kataku,
"Kamu yakin tidak terjadi apa-apa selama ini? Aku ingin kamu jujur sama aku. Itu aja yang aku minta dari kamu!" tanyaku dengan nada meninggi.
Idha hanya terdiam membisu. Tatapannya kosong, hampa. Bibirnya terus saja terkatub. Tak ada lirihan bahkan seuntai senyum atau sorotan mata kedamain yang dulu sering dia tujukan padaku.
Hampir setiap kali saya menanyakan hal itu, dia selalu begitu.
Tidak mau tahu.
Sampai akhirnya aku merasa harus menyelidikinya sendiri. Aku cek smsnya secara diam-diam. Aku menemukan beberapa pesan dari nomor -tanpa nama- yang sama. Salah satu isi pesannya berkata..
"Segera temui aku dan selesaikan semua permasalahan kita".
Sudah kuduga. dia sedang mempunyai masalah. tapi kenapa dia tidak memberitahukannya kepadaku?
Diam-diam kuamati wajahnya yang sedang menatap jauh : ada apa dibalik kediamannya ini?
kucoba untuk mendekatinya, dan kuberanikan diriku untuk bertanya. "Idha, kamu sedang memikirkan apa? kalo ada masalah, bilang saja sama saya".
Ida hanya tersenyum lembut. Lalu, kemudian tertawa riang. "Ayo, temaniku membeli hadiah ulang tahun untuk adikku", pinta Ida riang. Apapun yang berusaha Ida tutupi, entah mengapa ada kegetiran yang tersirat di sudut matanya.
Kami berjalan di keramaian kota. Pakaiannya seperti biasa, mempesona. Ada kesedihan di dalam hatiku menatapnya : ternyata, aku belum mengenalnya.
Kami tiba di sebuah toko yang remang-remang. tampak di dalamnya pemilik toko yang sudah tua renta, sedang menyapu lantainya yang berdebu.
"Kita masuk yu Idha? Mungkin disini ada barang yang kamu sukai". Idha menggangguk. Meski, kupikir itu bukan gairah. Tapi justru kepasrahan.
Ada yg bisa dibantu neng?? pemilik toko mencoba bersikap ramah..Ehh anu pak!! saya ingin mencari boneka panda utk adik saya, ada gak ya?? jwb Idha lagi..
"oh, ada... sebentar ya... nah, ini dia... mau yang ini?" kata Pemilik Toko sambil menunjukan sebuah boneka Panda kecil yang sangat manis.
"Bagaimana menurutmu?? tanya Idha sembari menoleh padaku. "ehhh...eh...bagus" jawabku sedikit gugup krn dari tadi aku hanya memandang wajahnya saja tanpa memperhatikan boneka tersebut."Berapa harganya ini Pak?? tanyaku sambil mengalihkan perhatian..
"murah neng,50 ribu aja," jawab bapak tua itu, aku sempat melirik Idha, kembali kutemukan wajahnya tanpa ekspresi.
Tapi,meski murah,kok ya dompetku ketinggalan."wah,pakai uangmu dulu ya Idh?Ini malah ga bw dompet".
"walah buk maaf ya, ini gak ada uang. ngutang dulu ya..boleh kan?" katanya memelas...
"Wahh, maaf neng, ini bukan koperasi simpan pinjam..neng boleh balik besok kok, nanti boneka ini saya simpan dulu" balasnya lagi..atau ada yang mau ditukarkan dengan kepunyaan Neng?? kembali ia bertanya.
Idha kemudian memperhatikan sekujur tubuhnya, barangkali ada sesuatu yang bisa ditukarkan dengan boneka itu.
"Ah, sudahlah. Tidak jadi saja pak.. Maaf ya pak, lain waktu saya akan kembali lagi untuk membelinya," Jawab Idha lembut, kemudian segera berlalu. Pedagang itu pun hanya tersenyum melepas kepergian Idha. Aku pun, hanya bisa melakukan hal yang sama.
Kami berjalan melalui deretan kios yang menjajakan beraneka ragam dagangan, sepintas kutemukan kecewa pada kilau mata Idha..
"Kami jalan bergendengan tapa tanpa tujuan"....gerutuku dalam hati, sial gara-gara dompet ketinggalan!!
Suasana pertokoan yang berseret seperti ini mengingatkanku pada Koshiki awal Golden Week tahun lalu. Ramai oleh kelompok muda-mudi yang mencari barang-barang sederhana yang murah tapi dengan kualitas yang cukup bersaing. Aku melirik Idha....
"Hmm.. Kamu lelah ya menemaniku seharian ini? Maaf ya, telah merepotkanmu," tiba-tiba saja Idha mengucapkan kata-kata lembut yang membuat hatiku pilu. "Tidak, Idha. Jangan berkata demikian. Aku bahagia bisa menemanimu jalan-jalan hari ini," sahutku.
"walaupun umurku tak lagi panjang... ini akan jadi kenangan terindah bersamamu!".
"Deg..jantungku seolah berhenti berdetak..apa aku gak salah denganr??
Mengapa tiba-tiba percakapan kami menjadi begitu menyedihkan.
Saya coba untuk mulai berbicara dengannya, mencoba untuk meberitahukannya bahwa dia salah telah meninggalkan temannya sendiri.
"Budi, maaf selama ini mungkin diriku telah banyak merepotkanmu. Pergilah..., dan tinggalkan diriku di sini sendiri..," pinta Idha dengan tatapan jauh ke depan. Tatapan yang sama, dingin namun kosong.
semua berakhir dalam hening. Malam itu telah menjadi malam perjumpaan kami yang terakhir, hingga tiba-tiba lamunanku dikejutkan oleh suara dering telepon. "Bidip.. bidip.. bidip".
"Maaf sebentar ya Budi, aku terima telepon ini dulu," pinta Idha ramah. "Silakan Idha..," jawabku sigap. Idha menjauh dariku. Dia tampak serius sekali menerima telepon yang entah dari siapa. Tiba-tiba tak lama kemudin, kulihat dia menangis sesegukkan.
"Budi... sudah saatnya semua ini berakhir! Aku tak sanggup... lagi..." Idha berusaha melanjutkan kalimatnya yang terputus. Tanpa banyak bicara, Budi memanfaatkan kesempatan ini untuk memeluk Idha dan menyibak rambutnya.
"Apa yang terjadi?? coba tenang dulu ya!! Budi mencoba untuk menenangkan hati Idha seraya mengecup keningnya Idha tanda perhatiannya yg tulus.."aku mungkin..aku..!! ucapan Idha kembali terputus krn dideru dengan isak tangisnya yg lebih kencang lagi..
Kilauan lampu-lampu sepanjang deretan toko-toko seperti menyiratkan sesuatu. Budi terdiam mencoba memahami keadaan Idha yang masih sesunggukan. Keramaian di pertokoan itu mulai berkurang.
Malam semakin larut tapi bintang2 dilangit msh saja bersinar seolah2 tiada kata kesedihan dalam gemerlapnya.Toko2 yang sebelumnya buka pun kini satu persatu mulai tutup. Suasana kini hening sesaat, hembusan angin malam mulai menggelayuti kami berdua.
Jembatan yg mempertemukan bagian selatan-utara kota ini jugalah yang mempertemukan kami pertama kali. Di tempat yg sama saat ini, kami terdiam dan melempar pandangan kosong menyaksikan deru derasnya aliran sungai Mookevart mengizinkan waktu berlari.
Tiba-tiba, suara bunyi hp berdering kembali. Idha, segera mengecek nama si penelopon. Dia hanya membisu saat menatap layar hp. "Ada apa Idha? Mengapa tak kau angkat?" tanyaku pelan. Idha hanya menatapku tanpa berkata sepatah katapun.
Dari tatapannya aku bisa tahu, kalau seseorang yang iseng baru saja miskol pake private number. Idha melanjutkan melemparkan pandang ke aliran sungai. Dan kami kembali diam.
Ada desiran aneh saat aku bersamanya. Entahlah, desiran sepuluh tahun yang lalu itu tak pernah mau surut juga dari hatiku. Mungkinkah rasa ini masih melekat erat di hatiku. Idha, perempuan yang kukagumi sejak duduk di kelas dua SMP.
Gadis berambut pendek, dengan tinggi 175cm tapi tidak suka bermain basket. Perdebatan sengit di pelajaran biologi mengenai ayam dan telur telah membuat kami akrab satu sama lain. Tapi itu sebelum kami berpisah untuk melanjutkan kuliah masing-masing.
Gadis yang sama sedang menemaniku saat ini. Keuletan nya dalam mempertahankan keinginan-keinginan nya masih tetap sama. Tapi, ketegearan seorang Idha, masihkah sama? Budi menerawang pada alunan sunyi Sungai Mookevart.
Rambutnya yang sekarang panjang, berkibar seperti hal roknya, ditiup angin. Idha sekarang bagai angsa cantik dari sebelumnya cuma itik buruk rupa, sparing partner untuk berdebat. Sosoknya berubah, lebih feminin dan luar biasa cantik hari demi hari.
Waktu jugalah yang mempertemukan kembali Idha denganku. Sebuah perusahaan berskala nasional mengharuskan ku untuk memperluas link ku dengan berbagai latar belakang pengguna produk akhir perusahaan tempat ku berkarir.
Aku tak pernah menyangka akan bertemu dengannya lagi. Tapi, kantin tempat semua staff perusahaan makan sianglah yang membuat pertemuan tak terduga itu terjadi. Saat itu.... Hmmm... masih kuingat dengan jelas komunikasi itu berawal begitu indah.
"Budi, tetap small size ya?" Idha tersenyum berdiri di depan meja ku bersama seorang rekan kerjanya.
"Hmmmm....," aku mencoba menebak wajah di depanku yang menegurku dengan penuh keramahan. "Idha!!!" teriakku tanpa sadar. "Ssssttt... jangan teriak-teriak seperti itu. Malu ah, di kantin ini penghuninya bukan hanya kita lho??" goda Idha saat itu.
"ehemm maksudku kamu cantik sekali hari ini dengan pakaian berwarna biru laut itu persis melambangkan sifat kamu yang tenang dan bijaksana"lanjut Budi agak berbisik dan sedikit menggunakan kata2 pengalihan..
"Duuuh... kamu ya, dari dulu selalu saja ngegombal. Nggak pernah berubah ya, Bud??" ledek Idha sambil meletakkan makanannya di atas meja. "Oh iya Bud, kenalkan ini temanku, Lidya," ucap Idha mengenalkan teman sekantornya.
Sambil mengulurkan tangannya ke arah Lidya, Budi tersenyum memandang gaya santai Idha. "Panggil aku Budi", sapaannya hadir.
"Lidya Kusumawati Werdiningsih, ST, tapi panggil saja Lidya"jawab Lidya spontan sambil senyum2.."Ooo lulusan Tehnik ya?? Cewek anggun seperti kamu kok ambil kejuruan?? biasanya kan ekonomi, perbankan gitu"selidik Budi lebih jauh..
"Yups betul sekali! Kebetulan saya suka dunia lelaki. Habis menantang sih!" canda Lidya. Kami pun tertawa bersama. Suasana saat itu, semuanya alami sealami senyum dan tawa Idha. Walau tiada banyak berkata diantara kami, namun hari itu sungguh indah.
Percakapan kami sangat lepas, hingga kusadari Idha lebih banyak diam, dan hanya tersenyum seadanya pada lelucon-lelucon yang terdengar. Dari ekspresinya aku tahu kalau Idha sedikit cemburu.
Namun, ego kelelakianku pun tak mau berhenti disitu saja. Kupancing rasa cemburu Idha untuk lebih tampak kepermukaan lagi. Kuajak Lidya bercanda dan kuangkat ia tinggi dengan banyak pujian dan rayuan. Tiba-tiba, Idha berdiri dan berlalu begitu saja.
Hahaha.. nampak jelas kalau Idha sedang terbakar cemburu. Ataukah, hey aku kah yang sedang kegeeran? Para pembaca nampaknya senang membolak-balikkan fakta. Oh shit. Sekarang aku malah takut Idha marah padaku!
"Idha teman dekat mu... ???" Lidya menggantung pertanyaanya.
Aku dan Lidya hanya saling bertatapan mata. Entah mengapa, hatiku saat itu merasa bahagia. "Adakah harapan masih erat tersimpan untukku, Idha??" bisikku dalam hati. "Aduuh, Idha kenapa ya?" tanya Lidya. "Bentar ya Bud, kususul Idha dulu," ucap Lidya.
Budi tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya. Lidya berjalan terburu2 menghindari orang2 yang ramai mengunjungi kantin.
Pembaca yang budiman, seperti kata Akiasik, apakah aku yang merasa kegeeran ataukah ada sesutau yang mengganjal di hati Idha dan itu bukanlah tentangku di hatinya?? Siapakah yang bisa membacanya???
Tak ada seorangpun yg bisa membaca hati nurati orang yg lain dgn tepat krn hati bisa saja terbungkus dgn emosi, dan emosi selalu saja berubah-ubah menurut perasaan, maka hanya dialah seorang yg dapat merasakannya, begitu juga dgn hati Idha..
Karena itu cerpenista menjadi tempat kita berkreasi dalam memadukan emosi satu orang dengan orang lain... Kayaknya sejauh ini pergulatan Idha, Budhi, dan Lidya tidak terjebak suasana.... Idha menoleh sebentar sembari merapikan lengan bajunya.
"Idha, kamu tak apa-apa?" tanya Lidya sambil meraih lengannya Idha. "Maaf Lidya, aku lupa. Seharusnya aku tadi menghubungi Aryo. Pasti sekarang dia sekarang sedang bertanya-tanya," gumam Idha. "Hah? Jadi kamu masih berhubungan dengannya?" tanya Lidya.
"Aryo di divisi apa sekarang?" Lidya melanjutkan pertanyaannya.
"Tetap sama, marketing. Hanya jabatannya kini naik ke level manajer. Tapi bukan itu masalahnya, aku hanya....," ucapan Idha terputus begitu saja. "Hanya apa Dha??" tanya Lidya penuh rasa ingin tahu.
Idha tetap diam tak menjawab. Wajahnya terus memandang lantai. Matanya sedikit berkaca-kaca.
Tiba-tiba suara dering handphone mengagetkan mereka berdua. "Ini pasti dari Aryo...," gerutu Idha sambil terus saja memegangi handphonenya tanpa mengangkat pembicaraan sedikitpun. "Kenapa tidak kau terima, Dha??" tanya Lidya gusar.
Ring Tone yang baru diganti nya semalam, mudahn membantu Aryo mengerti suasana hatinya saat ini. Idha berharap dengan tetap membiarkan panggilan kedua Aryo tanpa jawaban.
"Idha... Kenapa telepon dari Aryo tak kau angkat?? Apa kau ada masalah lagi dengannya?? Ckckck... heran deh aku, kalian kan sudah berhubungan sangat lama, masih suka ribut juga toh??" tanya Lidya tak percaya. "Ini masalahnya beda Lid," jawab Idha.
"Beda gimana?".
"Maaf, tapi untuk sementara ini aku tak bisa menjelaskannya padamu. Maaf ya Lid," ucap Idha sambil mematikan handphonenya. "Ehm.. ehmm.. Maaf, apa saya mengganggu??" tanya Budi tiba-tiba memecahkan suasana ketegangan antara Idha dan Lidya.
Idha dan Lidya saling pandang. Mereka berdua diam. Sesaat kemudian mereka saling memalingkan wajah mereka. Suasana menjadi agak berbeda. Budi pun menjadi bingung dibuatnya.
Saat Idha hendak meninggalkan Budi, tiba-tiba saja Budi meraih tangan Idha. "Idha, tunggu. Mengapa kau harus menghindariku terus??" tanya Budi terlihat sedih. "Maaf Budi, aku nggak bermaksud...," Idha tak meneruskan kata-katanya.
Kini Lidya yang diserang rasa tak enak. Perlahan ia mundur menjauh. Ia tinggalkan Budi dan Idha yang sedang terkungkung dalam urusan mereka. "Entah urusan apa," batin Lidya.
"Dha, aku tahu ini bukan urusanku, apalagi kita baru berjumpa setelah lama tak bertemu. Tapi jika aku bisa membantumu menyelesaikan masalahmu, katakan saja padaku," pinta Budi dengan lembut. Tiba-tiba saja Idha mengeluarkan airmata.
Budi segera menarik lengan Idha. Dipeluknya tubuh Idha yang terguncang. Idha terus menangis, di dada Budi. "Tenang dha...Aku akan bantu semampuku".
Hem garis2 yang dikenakan Budi tidak bisa menyerap tetesan air mata Idha. Tapi, Budi tersenyum...... 'Aku menggunakan pilihan baju yang tepat hari ini.'.
Anda tidak bisa ikut nulis kalau ndak login.
TROYA: tolong disambung cerpennya ya, tapi yang bagus ceritanya, soalnya ini true story.
blackcat: ikutan nyambung hehehe...bner gak ya ?
TROYA: ayo..teruss...
swdev: aku coba nyambubng ya
swdev: seru yo
TROYA: silahkan........
YuNa: Troya, n temen2... aku ikutan nich...
budiescool25: Mulai deh nie si bibi..
bibicriwis: ketahuan ya Budiescoll25... ^^
YuNa: Bud, TTDJ... jangan jadi pesakitan ya...hehehe
budiescool25: iya nih gara2 bibi NungNung..
bibicriwis: nah lho?? apa itu budbud...
YuNa: Iya Bi, budi sering disakiti kalo nulis...
bibicriwis: oooohhh... gitu ya YuNa, bis orangnya ga pernah komplain. jadi, kumana taha... ^^
akiasik: bibi mulailah intropeksi. sudah ada yang mengingatkan kau.
bibicriwis: *tetap pada egoku, pura-pura tidak-tidak tahu...*
YuNa: Bi, jalan terus... Protes untuk memacu semangat emang perlu. Aki, santai ajjjaaa...
akiasik: kayak rubrik surat pembaca
bibicriwis: ndak papa diubah berbelok sedikit, untuk menghilangkan kejenuhan. kan ini juga idenya Akiasik... ^^
pradesa: ikutan ah...yayaya...
bibicriwis: boeleeeh...
pradesa: assyyyikkk....
YuNa: Setuju Bi, bisa membawa kebahagiaan untuk pelakon aslinya. Amien...