Humor Cerpen ini terbatas untuk anggota Group Mahabarata
Syahdan, suatu ketika, satria pandawa gagah gung bimantara, sang Bimasena a.k.a Werkudara, pergi menjelajah padang Kurusetra sendirian.
Rembulan yang bulat merah seolah menguasai scene yang terhampar di Padang Kurusetra. Derai angin dingin melewati padang legenda tersebut, menghembuskan kisah-kisah patriotik yang pernah tergelar di padang ini. Bimasena larut dalam suasana Kurusetra.
Diapun kemudian duduk di bawah pohon nyamplungan. Angan-angannya menerawang ke masa lalu, masa ontran-ontran sesama saudara yang harus berakhir dengan mengalirnya darah para ksatria.
Bimasena menghembuskan nafas beratnya. Masa-masa itu kini hanyalah sejarah. Dan pertempuran heroic itupun telah menjadi lembaran sejarah pula. Hikmah yang diajarkan sejarah sebenarnya hanya satu, bahwa manusia tak pernah belajar dari sejarah.
Yang dia sesali dari perang itu adalah, ia harus kehilangan ponsel pribadinya. Padahal di ponsel itu tercatat semua nomor para gundiknya. "Ah.. biarlah!" desahnya.
Suara angin mendadak terdengar ganjil. Feeling Bima sedikit tidak enak. Dan bersiap untuk lari menjauh. Mendadak munculah Dewa Nagagini, Ibunda Arya Anantareja, Istri pertama Bimasena. "Dasar suami slebor... siapa yang kau tunggu malam-malam disini?".
"Aaih.aih.. mama ini lho, wong aku cuman pengen ngisis kok." elak satria Jodipati ini enteng.
Nagagini, sebagai heiress padepokan Hyang Antaboga, sang penguasa naga, memiliki kemampuan sense yang kuat. Terutama saat membaca detak nadi sang suami.... saat berbohong. "Awas kalo bohong, ku sunat Pancanaka mu !!" ancam Nagagini murka.
"Lhah, kok ndak percaya to?! Coba saja tanya anakmu itu. Dia saksinya" kata sang Kusumayudha (a.k.a Werkodara). Kemudian ia nggedrug tanah 3x. "Redja..nakmas Antaredja !! keluarlah..." serunya ke dalam tanah dengan ajian GelapNgampar.
"hnngg.... lima menit lagi ya... Romo" suara Antaredja terdengar malas.
"Dasar ... kamu ngapain aja di dalam tanah .. Dja?".
"Lagi chatting sama pacar saya Romo..." jawab antaredja seenaknya.
"Hehhhh. ladalhaaah. tobil-tobil anak kadal..!!" kaget sang Romo.
"Romo panggil saja adi Gatotkaca" sahut Antardja asal.
"Yo wis karepmu..." kata sang ayah. Memang Werkudara itu meskipun lakunya seperti bromocorah, tetapi sangat sayang kepada semua anaknya.
Sebagai anak tertua, kadang Antaredja merasa sering disuruh-suruh. Sedangkan kedua adiknya, Gatotkaca dan Antasena ndak pernah. "Romo ndak adil" seringkali Antaredja menggerutu.
Nagagini, yang merasa di cuekin oleh keduanya, memutuskan untuk balik pulang. Dengan mendengus sebal, dia mengomel "Romo dengan anak sama saja ! Kelakuan....".
"Sik to.. mengko dhisik... mungkin kalau Gatot yang ngomong, kamu bisa percaya", kata Bima.
"Diajeng Nagagini, tolong kamu misscall si Gatot, nomornya hilang di HP yang kemarin" lanjut Bimasena.
Communicator Bima mendadak bunyi. Sebuah sms dari Gatotkaca, "Dad, I'm sorry. I got some business to do with uncle Arjuna. I must leave now. Please don't bother to miss call me".
"Bune..Gatot dijak dolan sama pamannya, piye?" tanya Bratasena.
"Alaaaahhh, gampang kalo sama Lelananging Jagat itu. Panggil saja SPG di Sarkem Ngayogyapura.. ntar pasti akan keminthil moro dhewe" kata nagagini.
"Ya sudah, saya tak nyuruh si Antasena pergi nyari SPG..".
"Sudah ndak ngambek toh Bunda ?" celetuk Antaredja sambil nyengir.
"Hush!! kamu ndak ngerti urusan orang tua" kata Nagagini.
"Heh, Antareja.. coba kamu panggil adikmu Antesena. Suruh jemput seorang SPG di Kendalisada" suruh Bratasena.
"OK, kalo itu saya mau" kata si Antaredja. Kemudian ia mengirim email lewat www.wayangmail.com.
Tak lama kemudian dapat jawaban di Inboxnya.
"Kangmas aja yang berangkat.. saya lagi nge-plurk. Kangmas kang yang tau jalannya. Regards.".
Antaredja menggerutu... ,"cheaters !".
"Romo, dimas Antasena ndak mau. Lagi asyik plurking" kata Antaredja.
"Grrrr.... Kalian semua memang anak-anak sontoloyo" hardik Bima. "Mulai besok, langganan internet saya putus!!".
"Sudah. Antaredja, kowe yang berangkat." hardik Bima. "Apa mau perutmu aku dhedhel dhuwel".
"Iya..iya... saya berangkat. Tapi janji lho Romo, Internetnya jangan diputus. Warnet mahal!" kata Antaredja merajuk.
Dewi Nagagini yang sedari tadi mengikuti percakapan bapak dan anak ini malah ngantuk dan tertidur.
Belum juga Antaredja berangkat, dari jauh terlihat Dewi Arimbi melambaikan tangannya dan datang mendekat.
"KangmasSena, malam ini hatiku benar-benar merasa sepi. Kangmas tidak kutemukan di sebelahku" katanya setengah manja.
Mood Bima langsung pudar seketika. Bimasena sangat hapal kelakuan Arimbi. Terutama kalo mendadak mesra kayak gini. "Dinda Arimbi butuh duit berapa ?".
"Aku ndak butuh duit sekarang... " kata Arimbi "Aku hanya butuh....".
digaruk dengan kuku pancanaka...seperti biasa...
"hahaha...yayi...yai.. Kok ya aneh-aneh permintaanmu itu" sahut Bima. Lalu Bima kembali menghardik Antaredja. "Redjaaaaa... belum berangkat juga kamu!!!".
Ops.. ketahuan. Pucat wajah Antaredja. "Baik, Romo. Ananda berangkat dulu." Pamit Antaredja. Dalam sekajp, dia sudah menempuh ribuan lie dibawah permukaan tanah.
Bumi bergetar, debu beterbangan. Jalur yang dibuat oleh Antaredja memanjang dan berkelok berupa gundukan. Banyak pohon ketela yang tercerabut akarnya dan ketela-ketala itu pada muncul ke permukaan.
Antaredja berhenti di bawah pertigaan Sentul. Ia ingat, bahwa SPG yang dimaksud berada tak jauh dari tempat itu. Dan ia kemudian muncul ke permukaan. "Eeee lhadalah !" serunya. Ternyata ia muncul di kamar mandi kost cewek.
"Huaaaa !!!! Cabul !! Mesum !! Echi ! Hentai !!! Mata Keranjang !! Datuk Maringgih !!" Sorak cewek-cewek di kamar mandi itu marah memakinya. Dan berterbanganlah berbagai macam perabot menghajar Antaredja. Ada baskom, handuk, cibuk, dan.. kutang.
Seorang cewek kost berbodi mirip Arnold Schuaschanasueger memiting leher Antaredja. Tanpa ampun dia menghujamkan wajah Antaredja kedalam kepitan ketiaknya yang berbulu gondrong.
Antaredja semaput dengan sukses.
Terkadang, cewek bisa begitu mengerikan.
Antaredja memang tak pernah beruntung dengan wanita.
Nyaris dia menjadi homok.
Tapi batal karena beberapa orang dayang-dayang di istananya menuntut tanggung jawab lahirbatin akibat ulahnya sendiri.
Pak Leknya, Pamanda Arjuna, turun tangan mengobatinya. Dibawanya sang ponakan plesiran, dari SarKem sampai ke Geylang Road. Walhasil, Antaredja kini mewarisi ilmu lelananging jagad, teknik playboy dari sang pamannda Arjuna. Sampai sekarang.
Antaredja teringat titah ayahandanya. Kemudian dicarilah SPG yang dimaksud. Diambilnya salah satu yang tercantik dan segera dibawa lari ambles masuk bumi.
"Auuuuwwww.... Mau dibawa kemana diriku..... Jangaaan!" sergah si SPG. Setengah meronta ia berada di dalam gendhongan Antaredja.
Dengan langkah tegap, si Antaredja terus saja membopong SPG tersebut, dan membawanya masuk ke dalam tanah.
Tanpa sengaja tangan mungil sang SPG menjambak rambut Antaredja. Antaredja hilang keseimbangan terjatuh. Huaaa... Gedubrak ... Dan terjerembablah Antaredja laksana Goofy terjatuh dalam film-film kartun.
"Ah.. kamu ini mau dienakkan kok ya bertingkah. Sudah diam saja aku gendhong..." kata Antaredja.
Lalu Antaredja kembali membawa sang SPG menuju ke Pringgondani, tempat kediaman sang Ayah.
Sesampai di Pringgondani, sang Bima yang sudah tak sabar, segera bertanya kepada SPG yang bersangkutan, "hoooooo.... nama nimas siapa?".
Sedikit jetlag,SPG menjawab terbata,"En,Endang Sarap-iani Narapidanawati.".
"Heeeh.. kalau ditanya bapa sinuwun, dirimu harus ngaku dengan nama sebenarnya." bentak Anterdja (*dengan muka dibuat sangar*).
"Ampun,sinuhun. Nama hamba Welas. Sekar Welas." kata SPG sambil menjura.
"OOO ladhala.. kamu Sekar toh.. yang tinggal di belakang Pasar Manuk di Madukara itu?? " tanya Bima.
"Benar,sinuhun." jawab Sekar. Suaranya kini sudah kembali semula.Lembut,menghanyutkan.
halah.halah.... gimana kabar sekarang... masih suka main PS ?
"PS itu apa tho? saya kan biasanya main kuda lumping" sahut Sekar.
"Panembahan Semar". Biasanya beliau suka banget dengan yang namanya SPG.
Males lah sinuwun. Mending main kuda lumping aja. n nyari duit tentunya.
tiba-tiba... "HWARAKADAHHH!!....".. sang Bima berteriak kaget..
Kenapa sinuhun? Mau saya pijet?? SEkar Welas mendekat sambil memamerkan belahan dadanya.
Anda tidak bisa ikut nulis kalau ndak login.
Kardjo: akhir cerita adalah Werkudara mendapat kuku palsu.
lelouch: setting ceritanya di masa aslinya atau di masa kini ? :D
Kardjo: terserah.. asalkan pakem jangan terlalu melenceng. Werkudara boleh bawa ponsel disini.
lelouch: werkudara bawa ponsel ? wekekeke
lelouch: eleuh... salah ketik... harusnya "Rembulan yang bulat...".. tolong dieditin bos
lelouch: mau dibuat lucu apa serius nih bos?
Kardjo: tuh kategorinya:: Humor. Tapi jgn humor katrok. Tetap smart. alur gak loncat-loncat.
ndoro kakung: wah apik iki ... dibikin ketoprakan sekalian kang
Kardjo: monggo ndhapuk ndoro.
lelouch: oh, ada ndorokakung... **menjura**
lelouch: Hyang Antaboga atau Hyang Anantaboga ya yang bener ?
Kardjo: sama saja
Prapto: ikut temans
Prapto: Brotosena punya HP to?? pake nomor apa? Mentari ato XL?
Prapto: hahahahah
lelouch: jelas bukan XL, tapi Amartasat :D
lelouch: saya off dulu, nagagini yang disebelah saya ini udah nyengir ngambek, ngajak bobo... cu all
Prapto: monggo
Baratayudha: salam kenal semuanya
wrikudoro: asiiiiik (lalu kemudian bingung)
Baratayudha: terima kasih, masih bingung nih mau gabung posting
Kardjo: tips: buka http://jv.wikipedia.org/wiki/Wayang untuk referensi
rose: "Banyak pohon ketela yang tercerabut akarnya dan ketela pada muncul ke permukaan"
rose: koq kayak film kartun speedy gonzales ?
rose: wakakakak
Kardjo: heheheh... gpp dipoles, asalkan alur tetap merayap jelas. Kagak kacau balau seperti di sebelah-sebelah
Kardjo: namanya juga humor.
Kardjo: gimana bisa terjatuh... orang di dalam tanah.
lelouch: oala.. dalam tanah toh... sorry OOT wakakakaka... di edit aja bos Kardjo
Sandi: nggak nemu istilah jetlag perjalanan bawah tanah :D
pradesa: melu...